Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang menyebabkan penderitanya sering mengalami halusinasi dan waham tertentu. Berdasarkan penjelasan dari seorang dokter spesialis kesehatan Jiwa, Sylvia Detri Elvia, kata ‘skizofrenia’ terdiri dari kata ‘skizo’ dan ‘frenia’.
‘Skizo’ memiliki makna ‘pecah’, sedangkan ‘frenia’ artinya ‘jiwa’.
“Orang yang menderita skizofrenia itu pikiran, jiwa, dan perilakunya tak sejalan,” ujar Sylvia Detri Elvia.
Seseorang dapat disebut menderita skizofrenia jika mengalami gejala tersebut minimal selama 6 bulan. Jika di bawah 14 hari disebut psikotik akut.
Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar 2018, tercatat 7 dari 1000 penduduk Indonesia merupakan penyandang skizofrenia atau psikosis, gangguang jiwa yang juga menyebabkan halusinasi dan waham.
Penyebab kondisi ini adalah adanya gangguan di otak. Berdasarkan penjelasan dari dokter spesialis kesehatan jiwa, Agung Kusumawardhani, neurotransmitter terutama dopamin, mengalami ketidakseimbangan di otak.
Neurotransmitter merupakan senyawa kimia organik yang berperan sebagai penghantar stimulus atau pesan berupa rangsangan ke sel saraf, baik di otak maupun di otot.
“Ada peningkatan dopamin di otak sehingga muncul gejala-gejala psikotik,” ujar Agung Kusumawardhani.
Dopamin sendiri merupakan hormon yang bertugas untuk mengendalikan emosi. Pada kadar normal, dopamin ini akan meningkatkan suasana hati sehingga membuat seseorang akan lebih senang dan bahagia. Namun, ketika kadarnya terlalu berlebihan, justru akan menimbulkan halusinasi dan waham.
BACA JUGA: Hati-Hati! Ini 5 Bahaya Mencium Bayi Sembarangan yang Sering Diabaikan
Para penyandang skizofrenia meyakini bahwa waham itu adalah kenyataan, meskipun itu tidak cocok dengan latar belakang serta orang-orang di sekitarnya sudah mengatakan bahwa itu adalah khayalan.
Gangguan pada otak yang menyebabkan derasnya dopamin tersebut disebabkan oleh gabungan berbagai faktor, seperti faktor sosiokultural, psikologis, serta genetik. Faktor genetik sendiri bisa disebabkan karena keturunan atau mutasi genetik. Sosiokultural adalah kondisi lingkungan si penderita. Psikologis merujuk pada kondisi kejiwaannya.
Karena adanya gangguan di otak, salah satu penanganan yang wajib bagi penderita skizofrenia adalah diberikan obat antipsikotik. Makin cepat ditangani, makin cepat kerusakan sel-sel otak diperbaiki.
Masalahnya, stigma masyarakat tentang penderita skizofrenia dianggap sebagai seseorang yang kekurangan iman, atau tidak dapat disembuhkan, maupun hal yang memalukan. Hal-hal tersebut membuat para penderita skizofrenia jadi terlambat ditangani.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Tag
Baca Juga
-
5 Pilihan Bedak Remaja dengan Perlindungan UV, Bebas Aktivitas Seharian!
-
Shower Puff Sarang Bakteri? Intip Cara Memilih dan Rekomendasinya!
-
Cara Pilih Shade Tinted Moisturizer yang Pas, Jangan Asal Pilih!
-
Seberapa Penting Serum bagi Pria? 5 Pilihan Terbaik Bantu Lawan Jerawat!
-
The Bride Who Burned The Empire: Kisah Pemberontakan Seorang Putri
Artikel Terkait
Health
-
Radiasi di Balik TWS: Seberapa Aman Dipakai Setiap Hari?
-
Saatnya Kembali ke Akar: Membangun Imunitas dengan Kekayaan Pangan Lokal
-
Jebakan Industri Gula Manis: Saat Bahagia Dijual dalam Gelas Plastik
-
Bukan Sekadar Label, Aturan Kemenkes Ini Sentil Cara Kita Makan Sehari-hari
-
Beda Kelas! Saat Steven Wongso Jadikan Obesitas Bahan Hinaan, Ade Rai Justru Bongkar Bahayanya
Terkini
-
Ngopi di Tarkam Ledokombo: Ketika Tawa, Asap Kopi, dan Jalan Raya Menjadi Satu Cerita
-
Review Jujur Almaz Fried Chicken Kediri: Ayam Goreng Arab dengan Rempah yang Nendang!
-
Daredevil: Born Again Season 1, Sajikan Tema Keadian dan Korupsi Kekuasaan!
-
Pemimpin Karismatik: Ketika Kata-kata Bisa Menggerakkan Banyak Orang
-
Novel Hilang di Wonju, Teror Pembunuhan Saputangan dan Misteri Angka Tujuh