Bagi sebagian orang, pekerjaan atau karier adalah sesuatu yang biasanya menjadi sarana untuk mengaktualisasi diri. Saat karier tersebut harus berakhir karena sebab-sebab tertentu, tak jarang orang-orang seperti ini akan merasa terpuruk dan kehilangan sesuatu yang menjadi tujuan hidupnya. Kondisi seperti ini biasa dikenal sebagai post power syndrome.
Melansir dari alodokter, post power syndrome atau sindrom pascakekuasaan adalah kondisi saat seseorang tidak bisa move on saat kehilangan kekuasaan atau power-nya. Ia terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu mengenai karier yang pernah ia jalani.
Nah, jika kamu atau orang terdekatmu mengalami ciri-ciri psikologis yang identik dengan post power syndrome, seperti sangat sensitif, mudah tersinggung, menarik diri dari pergaulan, suka mengkritik, serta selalu menceritakan kejayaan masa lalunya, maka berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.
1. Lakukan transisi secara bertahap
Menyadur psychcentral, salah satu penyebab dari terjadinya post power syndrome adalah situasi dan kondisi yang berganti secara mendadak. Oleh karena itu seseorang yang mengalaminya bisa didorong untuk mempersiapkannya secara bertahap.
Kurangilah porsi pekerjaan secara sedikit demi sedikit. Hal ini akan memberi waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup baru, dibandingkan beralih dari bekerja penuh waktu menjadi tidak bekerja sama sekali.
2. Cobalah untuk membuat jadwal harian
Hal yang membuat seseorang biasanya kepikiran adalah kurangnya kesibukan pasca-pensiun. Oleh karena itu, hal ini bisa diatasi dengan mencari aktivitas baru lalu membuat jadwal harian untuk aktivitas tersebut.
Misalnya mengikuti kelas olahraga, ikut acara sosial, bertemu teman-teman lama, menjalankan hobbi, atau sekedar berkumpul dengan keluarga.
BACA JUGA: Selain sebagai Bumbu dan Obat Tradisional, Ini 3 Manfaat Lain Akar Jahe
3. Pendampingan keluarga
Menurut jurnal yang berjudul Reinforcement Techniques in Overcoming Post Power Syndrome Anxiety Disorders in the Elderly, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi post power syndrome adalah dengan melakukan penguatan dan pendampingan dari keluarga dan orang terdekat.
Jika orang tua atau keluarga mu mengalami hal ini, kamu sebagai orang terdekat bisa mendampingi mereka dengan bertemu setiap hari, menjalin komunikasi yang intens, dan beri perhatian-perhatian yang lebih kepada mereka.
4. Meminta bantuan orang lain
Jika seseorang terus menerus kesulitan untuk mengatasi post power syndrome meskipun sudah menerapkan beberapa hal di atas, ada baiknya meminta bantuan orang lain. Namun jika kondisinya kian memburuk sampai tidak memiliki semangat hidup, meminta bantuan ahli atau psikolog bisa menjadi pilihan.
Nah itulah tadi 4 hal yang bisa kamu lakukan dalam menghadapi post power syndrome yang dialami pasca pensiun. Jika kamu, atau salah satu orang terdekatmu mengalaminya, jangan ragu untuk menerapkan beberapa hal di atas, ya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
Artikel Terkait
Health
-
Aksi Jemput Bola Mahasiswa KKN: Turun Langsung Cek Kesehatan Warga Reuhat Tuha
-
Berhenti Menggosok Dudukan Toilet Umum dengan Tisu, Ini Cara Membersihkan yang Benar
-
Lupakan Lari Ngos-ngosan, Ini Alasan Slow Jogging Lebih Efektif Bakar Lemak
-
Mengenal Parijoto: Buah Mitos Kesuburan dari Gunung Muria yang Kini Dilirik Sains
-
Menjadi Dermaga Sebelum Menyelam: Kisah Komunitas Menemani Perjalanan Pulih
Terkini
-
Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan
-
Kirsten Dunst Gabung Sekuel The Housemaid, Intip Sinopsis dan Jadwal Tayang
-
Mau Tampil Gentle? Intip 4 OOTD Dandy Smart Casual ala Kang Hoon
-
5 Coffee Shop 24 jam untuk Kamu yang Bosan Nugas di Kos
-
Buku Sibling Rivalry, Mengurai Trauma Masa Kecil dan Persaingan Antarsaudara