Penyerang Timnas Indonesia U-23, Muhammad Ramadhan Sananta harus menuai memori pahit di laga perdana Piala Asia U-23. Masuk sebagai pemain pengganti pada pertengahan babak kedua, Sananta yang tampil menyerang harus diganjar kartu merah langsung oleh wasit Nasrullo Kabirov dari Tajikistan pada menit ke-90+6.
Mungkin bagi sebagian pencinta Timnas Indonesia, kartu merah yang didapatkan oleh penyerang Persis Solo tersebut cukup kontroversial. Pasalnya, wasit Kabirov sebelumnya memberikan kartu kuning kepada Sananta, sebelum kemudian menganulirnya dan menghunus kartu merah setelah melihat tayangan VAR.
Lantas, sebenarnya, pelanggaran yang dilakukan Sananta itu memang harus diberikan kartu merah ataukah cukup mendapatkan kartu kuning? Sayangnya, jika pertanyaan ini dijawab secara obyektif, maka jawabannya adalah, pelanggaran Ramadhan Sananta tersebut memang layak untuk diganjar kartu merah langsung.
Sananta Memang Membahayakan Lawannya
Pemberian kartu merah langsung kepada Sananta bahkan sudah tertulis di law of the game FIFA, bagian law 12 terkait fouls and misconduct. Menyadur laman thefa.com, seorang pemain bisa mendapatkan kartu, baik kartu merah maupun kartu kuning jika dirinya melakukan sebuah pelanggaran. Pemberian kartu tersebut pun opsional, tergantung dengan level pelanggaran yang dilakukan oleh pemain tersebut.
Jika kita melansir laman refsix.com (17/10/2023), dijelaskan setidaknya ada 5 alasan bagi seorang wasit untuk memberikan kartu merah langsung kepada seorang pemain. Lima alasan tersebut adalah pelanggaran serius, perlakuan tak menyenangkan dan menyerang lawan, meludahi lawan, menghalangi peluang terjadinya gol, dan mendapatkan kartu kuning kedua.
Nah, jika dilihat dari tayangan ulang yang diunggah oleh kanal YouTube RCTI Official, terlihat jelas jika Sananta menginjak kaki pemain Qatar hingga menekuk ke belakang. Hal tersebut tentu saja sangat membahayakan.
Adapun alasan yang paling tepat bagi wasit untuk memberikan kartu merah langsung kepada Sananta adalah kondisi yang pertama, yakni membahayakan keselamatan lawan.
"Serious foul play including reckless tackles, involving excessive force, or endangering the safety of an opponent (Pelanggaran serius, termasuk di dalamnya adalah tekel tak beraturan, melibatkan kekuatan yang berlebihan, atau membahayakan keselamatan lawan)" tulis refsix.com menyarikan law 12 dari FIFA.
Jadi, dari sini sudah terlihat jelas bukan, bahwa sejatinya kartu merang yang diberikan kepada Sananta adalah sah dan sesuai regulasi FIFA. Semoga saja para pemain lain bisa mengambil pelajaran dari Ramadhan Sananta ini, ya!
Tag
Baca Juga
-
SEA Games 2025: Timnas Kamboja Mundur, Jalan Indonesia Pertahankan Emas Makin Terbuka Lebar
-
Absen di SEA Games 2025, Siapa yang Layak Gantikan Posisi Arkhan Fikri di Lini Tengah Garuda Muda?
-
Arkhan Fikri Dicoret, Harapan Kolaborasikan Trio Gelandang Maut di SEA Games Urung Terlaksana
-
Kualifikasi Piala Asia U-17 2026: Timnas Indonesia Ditinggal Tim-Tim Tetangganya di ASEAN
-
Bakal Diisi Trio Gelandang Berkualitas, Bagaimana Pembagian Tugas Lini Tengah Timnas SEA Games?
Artikel Terkait
Hobi
-
Mundurnya Kamboja dari SEA Games 2025 Tidak Hanya Untungkan Timnas Indonesia
-
Peluang Emas! Dua Wakil Muda Indonesia Berebut Tiket Final Syed Modi International 2025
-
Timur Kapadze Diisukan Jadi Pelatih Timnas Indonesia, Sesuai Kriteria PSSI?
-
SEA Games 2025: Timnas Kamboja Mundur, Jalan Indonesia Pertahankan Emas Makin Terbuka Lebar
-
Absen di SEA Games 2025, Siapa yang Layak Gantikan Posisi Arkhan Fikri di Lini Tengah Garuda Muda?
Terkini
-
5 Rekomendasi Novel Slice of Life yang Penuh dengan Nilai-Nilai Kehidupan
-
Sinopsis The Last Wulin, Drama China Dibintangi Jiang Xin dan Gong Zheng
-
Ikut Baper! El Rumi Ungkap Sisi Positif Syifa Hadju yang Bikin Jatuh Hati
-
Sinopsis Zootopia 2, Nick dan Judy Hadapi Misi Baru Menegangkan
-
JAFF Market 2025 Resmi Dibuka: Lebih dari 1.400 Peserta Ramaikan 'Panggung Sinematik' Jogja!