Partai final gelaran Piala Asia U-23 berakhir dengan kebahagiaan bagi kubu Jepang. Menghadapi perlawanan alot dari Uzbekistan, Tim Samurai Biru menyudahi permainan dengan skor tipis 1-0.
Melansir laman AFC (4/5/2024), satu-satunya gol kemenangan Pasukan Muda Samurai tersebut diciptakan oleh Fuki Yamada ketika pertandingan memasuki masa injury time, tepatnya pada menit ke-90+1.
Kemenangan berharga Timnas Jepang U-23 atas Uzbekistan ini tak hanya membawa kebahagiaan bagi para pendukung mereka, namun juga membawa kepuasan tersendiri bagi para pendukung Timnas Indonesia.
Bagaimana tidak, pasca berakhirnya laga babak semifinal antara Timnas Indonesia melawan Uzbekistan pada 29 April 2024 lalu, sebagian para pencinta Timnas Indonesia merasa kesal dengan hasil akhir laga tersebut.
Terlepas dari permainan under perform yang ditunjukkan oleh para penggawa Garuda Muda, kemenangan Uzbekistan atas Timnas Indonesia tersebut membuat kesal karena adanya faktor ketidakadilan dari wasit Shen Yinhao asal China yang memimpin jalannya laga tersebut.
Setidaknya, ada dua keputusan kontroversial wasit Shen Yinhao yang menguntungkan Uzbekistan di laga semifinal lalu. Selain menganulir gol dari Muhammad Ferarri, wasit Shen Yinhao juga membuat kontroversi lain yang semakin menguntungkan Uzbekistan, yakni mengusir Rizky Ridho karena pelanggaran yang sejatinya masih layak untuk hanya mendapatkan kartu kuning.
Maka tak mengherankan jika setelah pertandingan babak semifinal tersebut, para pendukung Timnas Indonesia banyak yang kesal dengan Uzbekistan karena banyak mencurangi Indonesia melalui keputusan-keputusan wasit Shen Yinhao.
Hingga pada akhirnya, kekesalan tersebut terbayar tuntas di babak final gelaran. Uzbekistan yang tampil menghadapi Timnas Jepang, akhirnya harus tertunduk lesu karena dikalahkan oleh Tim Samurai Biru dengan skor menyakitkan, sebiji gol tanpa balas.
Meskipun sepanjang 90 menit permainan mereka sukses memberikan perlawanan yang alot, Jepang pada akhirnya berhasil mengunci kemenangan tipis 1-0 dari Uzbekistan dan membuat tim asal Asia Tengah tersebut tak mampu menambah gelar juara mereka setelah pertama kali merengkuhnya di tahun 2018 lalu.
Tak hanya gagal menambah gelar, kekalahan Uzbekistan dari Jepang tersebut juga setidaknya membalaskan kekesalan, atau bahkan sakit hati pendukung Timnas Indonesia yang dikalahkan oleh mereka melalui pertandingan yang tak fair karena beragam keputusan wasit yang kontroversial.
Bagaimana? Turut puas dengan kekalahan Uzbekistan?
Baca Juga
-
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
-
Dua Sisi Kebijakan Prabowo: Antara Ambisi Ekonomi dan Matinya Perhatian pada Pendidikan
-
Bongkar Tuntas Final Piala Dunia 2026: Kenapa Tudingan Konspirasi Argentina Mengalah Itu Konyol?
-
Surat Terbuka untuk Ketua DPR: Jangankan Ngopi, ASN Guru Mau Liburan Saja Serba Salah!
-
Bukan Kebetulan! Ternyata Ini Bukti 'Semesta' Sudah Mengatur Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Piala Asia U-23: Indonesia Tebar Kutukan bagi Negara yang Kalahkan Mereka di Gelaran
-
Nilai Pasar Guinea U-23 Lebih Tinggi dari Indonesia, Ternyata Gara-Gara Ini
-
Marceng Harusnya Belajar dari Para Pemain Lain saat Menyikapi Kritikan Pedas Kepadanya
-
Dipenuhi Pemain Abroad, Harga Pasar Skuad Guinea Kalahkan Timnas Indonesia U-23
-
3 Pemain yang Bisa Dibawa Shin Tae-yong Jelang Timnas Indonesia U-23 vs Guinea di Playoff Olimpiade 2024
Hobi
-
Final Piala Presiden 2026: Persib vs Persebaya, Duel Dua Tim dengan Statistik Nyaris Identik
-
Jadwal MotoGP Inggris 2026: Tiap Poin Berharga untuk Raih Gelar Juara Dunia
-
Bantah Rumor Tak Akur, Marc Marquez Sebut Pecco Bagnaia Rekan yang Baik
-
Pilih Gabung Ducati, Pedro Acosta Ogah Pakai Motor KTM yang Tak Kompetitif
-
Jorge Martin: Aprilia akan Dukung Saya Sepenuhnya Demi Gelar Juara Dunia
Terkini
-
Tak Melulu Malioboro, 5 Hidden Gem Jogja yang Wajib Masuk Wishlistmu
-
Serial Monster Kembali dengan Season Baru, Angkat Kasus Pembunuh Berkapak
-
Warteg dalam Perspektif Gender: Tempat Makan yang Tak Ramah Perempuan
-
Ulasan The Law Cafe: Mengurai Makna Keadilan di Luar Ruang Sidang
-
Melepaskan Diri dari Standar Kecantikan Toksik: Literasi Digital untuk Lawan Body Dysmorphia