Dalam sepak bola, sarung tangan adalah alat tempur andalan para penjaga gawang atau kiper. Tapi di futsal, banyak kiper justru memilih beraksi tanpa sarung tangan.
Tentunya, ada alasan di balik kiper futsal tidak pakai sarung tangan saat bertanding. Mengapa? Jika diamati lebih dekat, ada beberapa alasan yang masuk akal mengapa kiper bertanding tanpa sarung tangan.
Dikutip dari laman resmi FIFA, bola yang digunakan dalam pertandingan futsal lebih kecil dibandingkan bola sepak bola, sehingga lebih mudah dipegang tanpa memerlukan tambahan cengkeraman dari sarung tangan.
Sebagai informasi, ukuran bola futsal memiliki diameter antara 62-64 cm, sedangkan bola sepak bola memiliki diameter 68 cm (27 inci) hingga 70 cm (28 inci).
Kemudian, dalam futsal, kiper lebih sering menghadapi banyak tembakan berkecepatan tinggi dari jarak dekat. Oleh karena itu, tugas utama kiper futsal bukan menangkap bola, melainkan menghalaunya.
Selain itu, kiper futsal lebih sering terlibat dalam permainan. Jadi, kiper futsal harus melempar bola dengan cepat dan akurat ke rekan setim, yang tentu lebih mudah dilakukan tanpa sarung tangan.
"Saya merasa lebih nyaman tanpa sarung tangan. Saya tidak bisa menggenggam bola dengan baik saat memakai sarung tangan," kata kiper Timnas Futsal Spanyol, Paco Sedano, dikutip dari situs resmi FIFA.
Seperti halnya Paco Sedano, kiper Timnas Futsal Kolombia, Carlos Nenez, juga memiliki pandangan yang sama.
"Tanpa sarung tangan, saya memiliki rasa yang lebih baik terhadap bola saat mengembalikannya ke permainan, saat saya melemparkannya. Itu membuat saya lebih akurat."
Meskipun kebanyakan kiper futsal bermain tanpa sarung tangan, mereka tetap melindungi jari-jari mereka dengan finger tape, yang membantu mengurangi risiko cedera.
Namun, tidak ada aturan yang melarang kiper futsal untuk menggunakan sarung tangan saat bertanding. Salah satu contohnya adalah Gustavo Lobo Paradeda, kiper asal Brasil yang dinaturalisasi oleh Timnas Futsal Rusia.
Gustavo selalu mengenakan sarung tangan, bukan karena kebutuhan, tetapi lebih karena kebiasaan yang sudah melekat sejak lama.
"Saya tumbuh di Porto Alegre dan biasanya bermain di luar ruangan. Saat cuaca dingin, saya tidak bisa bermain tanpa sarung tangan. Sekarang itu sudah menjadi kebiasaan, jadi saya tetap menggunakannya," ucap Gustavo.
Baca Juga
-
Data Bicara: Mobil F1 atau Motor MotoGP yang Lebih Cepat?
-
Profil Sjoerd Woudenberg: Pelatih Kiper Timnas Indonesia Era Kluivert
-
Mengapa Nama Orang Islandia Banyak Berakhiran "-Son"? Ini Alasannya
-
Mengapa All England? Sejarah di Balik Nama Kejuaraan Bulu Tangkis Tertua
-
Kilas Balik MotoGP Argentina 2018: Start Unik Jack Miller yang Jadi Sorotan
Artikel Terkait
Hobi
-
Meskipun Meredup, Penggemar Liga Indonesia Harus Berterima Kasih ke Rafael Struick! Kok Bisa?
-
Eksodus Pemain Naturalisasi ke Tanah Air, Benarkah karena Kualitas Liga Dalam Negeri Meningkat?
-
Juara Umum! Indonesia Borong 4 Gelar di Thailand Masters 2026
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?
-
Veda Ega Pratama Debut Moto3: Seberapa Besar Peluangnya Melaju di MotoGP?
Terkini
-
Kulit Glowing! 4 Brightening Moisturizer Non Comedogenic, Harga Rp40 Ribuan
-
Sapu Bersih 5 Piala, EXO Raih Gelar Music Show Grand Slam Lewat Lagu Crown
-
5 HP Murah Paling Tangguh untuk Anak, Anti Rewel dan Awet Dipakai
-
Adarusa: Misteri Para Peminjam
-
Huawei MatePad 11.5 Resmi Meluncur di Indonesia, Tablet dengan Baterai 10.100 mAh dan Empat Speaker