Setiap peristiwa buruk yang terjadi menimpa kita akan ada reaksi yang muncul secara otomatis. Reaksi ini dikenal sebagai mecanism defence atau pertahanan mekanisme. Yaitu, respon yang muncul secara otomatis dengan anggapan respon tersebut akan menyelamatkan kita.
Respon terhadap suatu peristiwa menjadi baik atau buruk itu tergantung sejauh mana kita melatih diri untuk merespon dan bereaksi menanggapi respon tersebut.
Sebagai contoh, saat kita terkena percikan api di tangan, apa yang terjadi? Kita langsung kaget secara reflek. Tetapi, bagaimana kita bisa bereaksi positif atau negatif, itu tergantung kebiasaan kita menyikapinya. Kalau kita merespon dan bereaksi negatif, bisa saja kita terus memikirkan kenapa kita kena percikan api sampai muncul rasa kesal dan kecewa. Tapi, jika respon positif yang muncul, kita bisa langsung mengobati luka bekas percikan api tersebut dengan salep luka bakar.
Begitupun ketika menghadapi peristiwa yang buruk lainnya. Respons yang otomatis muncul adalah kesal, kecewa, marah atau benci. Selanjutnya yang bertindak adalah respon dan reaksi kita. Apakah kita akan terus berkutat dengan efek negatif dari peristiwa buruk tersebut atau kita bisa mencoba mengelolanya agar jauh lebih baik.
Di sinilah pentingnya melatih respon dan reaksi kita atas segala perisitiwa yang baik atau buruk, dengan hal-hal yang baik. Ini sama halnya dengan kita melatih otot. Butuh proses dan waktu. Tidak serta merta kita angkat barbel sekali, duakali kemudian lengan langsung jadi kuat dan berotot. Seperti atlet binaragawan Ade Rai. Dia melatih otot sejak usia muda sampai usia kepala lima pun, dia tetap berlatih, agar menjaga tubuh tetap ideal dan berotot.
Pada kehidupan pun demikian. Kita bisa melatih respon dan reaksi kita agar tetap positif. Sehingga ketika kita mengalami peristiwa buruk, kita tidak langsung down, "kenapa ini terjadi", "kenapa ini menimpa saya," atau "apa salah saya". Dengan terbiasa merespon positif, maka diri kita mampu menerimanya dengan lapang dada atau ikhlas. Lalu, disikapi dengan kesabaran karena untuk terbiasa ikhlas membutuhkan waktu. Kemudian kita harus menyadari bahwa latihan ini membutuhkan perjuangan.
Kita harus selalu belajar dalam mengelola respon atas setiap peritiwa buruk yang menimpa kita. Kita tidak hanya cukup mengandalkan respon yang biasa muncul. Oleh sebab itu kenapa kita selalu cemas dan khawatir. Karena kekhawatiran atau ketakutan adalah reaksi otomatis sebagai upaya memyelematkan diri terhadap sesuatu yang dianggap mengancam diri kita.
Reaksi boleh saja muncul secara otomatis. Tapi bagaimana kita merespon, bisa kita latih. Tentu saja latihan yang kita lakukan adalah bereaksi segala sesuatu menjadi respon yang positif. Semoga bermanfaat.
Baca Juga
-
Sering Dianggap Buruk, Ini 5 Kelebihan Menjadi Orang Pemalu
-
Diperpanjang Lagi sampai 4 Oktober, PPKM Level 2-3 Berlaku di Jawa dan Bali
-
Jalan Keluar Suatu Masalah Jadi Pemantik Masalah Selanjutnya
-
Gelisah jelang Hari Senin, Ini 5 Cara Jitu Menanggulangi Lunaediesophobia
-
5 Minuman Berkhasiat yang Bisa Membakar Lemak di Tubuh Kamu
Artikel Terkait
-
Membangun Pola Pikir Sehat: Kunci Kesuksesan Siswa di Era Modern
-
Ulasan Buku Bahagiakan Hatimu, Menjalani Hidup dengan Penuh Kebahagiaan
-
Video Anies Singgung Politisasi Bansos Hingga Ijazah Palsu Viral, Publik: Pemikirannya Beda dari Wakil Presiden
-
Cara Sederhana Mengubah Pemikiran Negatif Jadi Kekuatan Positif
-
Ulasan Buku Sukses Meningkatkan Kualitas Diri, Panduan Praktis Meraih Impian
Kolom
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?
-
Jumbo: Langkah Berani Animasi Lokal di Tengah Dominasi Horor
-
Ketimpangan Ekonomi dan Pembangunan dalam Fenomena Urbanisasi Pasca-Lebaran
Terkini
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop