Tanggal 19 Oktober 2021 atau 12 Rabiul Awal 1443 H, kita memeringati Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebuah momen bermakna mendalam untuk memeringati kelahiran teladan utama Nabi Muhammad Saw.
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya menjadi momentum bagi kita semua untuk semakin giat menggali nilai-nilai kesantunan dan akhlak mulia Rasulullah di sepanjang hidupnya.
Momen Maulid Nabi seharusnya bisa kita jadikan saat untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap segala tindakan yang kita lakukan selama ini. Dari menelusuri akhlak Nabi Muhammad selama beliau berdakwah misalnya. Kita bisa melihat apakah hal-hal yang kita lakukan selama ini benar-benar telah meneladani dan mencerminkan akhak yang tercermin dalam diri Rasulullah Saw.
Melihat kembali keteladanan akhlak Nabi Muhammad sebagai cermin untuk evaluasi diri di masa kini atau era sekarang menjadi begitu penting. Terutama di tengah maraknya perilaku amoral, kekerasan, dan sebagainya di era sekarang ini. Bagi penulis, ada dua topik atau persoalan utama yang penting diperhatikan untuk dijadikan refleksi di momen peringatan Maulid Nabi saat ini.
Pertama, di tengah penyebaran paham radikalisme terorisme yang mengajarkan kekerasan dan kebencian terhadap kelompok atau umat lain. Kita semua tahu, kelompok ini tidak merepresentasikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin) yang menyebarkan kasih sayang, penghormatan, dan kebaikan bagi sesama.
Dengan membawa-bawa nama agama, kelompok ekstremis tersebut justru kerap menampilkan wajah kasar, menyuburkan intoleransi, kebencian, bahkan tak segan melakukan kekerasan. Jelas cara-cara tersebut sangat jauh, bahkan bertolak belakang dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW dalam berdakwah.
Di sinilah kemudian, momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi saat yang tepat untuk kembali meresapi dan meneladani akhlak Nabi, untuk kemudian bersama-sama menekankan pentingnya dakwah yang santun, damai, mendamaikan, dan dilandasi penghargaan terhadap sesama. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Kedua, melihat maraknya fenomena perdebatan, saling mencaci (hate speech), dan pertikaian di dunia maya. Hal ini semakin terlihat seiring makin populernya era media sosial.
Kita melihat sendiri selama beberapa tahun terakhir, orang begitu mudah saling mencaci dan menyerang sesama hanya karena perbedaan pendapat. Di sini, akhlak, norma, dan etika berkomunikasi seakan-akan hilang begitu saja, tergusur oleh emosi, amarah, dan kebencian yang dikobarkan.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, hal tersebut menjadi ancaman tersendiri. Sebab dapat merenggangkan ikatan persaudaraan dan bangunan persatuan menjadi goyah serta terguncang.
Di tengah persoalan tersebut, akhlak mulia Nabi Muhammad SAW baik dalam berinteraksi dengan sesama maupun dalam berdakwah, adalah rujukan utama bagi kita untuk kembali menumbuhkan nilai-nilai kesantunan, kasih sayang, dan penghormatan pada sesama.
Catatan sejarah yang merekam bagaimana akhlak dan karakteristik dakwah Nabi SAW adalah sumber keteladanan yang tak akan pernah habis untuk digali dan dipelajari. Bagaimana sikap, perilaku, strategi dakwah, maupun kepemimpinan beliau selama menyampaikan ajaran Islam, ibarat mata air yang tak akan pernah kering yang akan selalu mengalirkan inspirasi bagi kita dalam menjalankan ajaran Islam serta menciptakan kedamaian di dunia. Wallahu a’lam.
Baca Juga
-
Dear Pemerintah, Ini Tips Menyikapi Pengibaran Bendera One Piece
-
Refleksi Hardiknas 2025: Literasi, Integritas, dan Digitalisasi
-
The Nutcracker and The Mouse King: Dongeng Klasik Jerman yang Tak Lekang oleh Waktu
-
Membentuk 'Habit' Anak Indonesia Hebat
-
17 Tahun Itu Bikin Pusing: Inspirasi Menjadi Gen Z Tangguh Pantang Menyerah
Artikel Terkait
Kolom
-
Pena Rp2 Ribu vs MBG Ratusan Triliun: Di Mana Nurani Pendidikan Kita?
-
Mengakarnya Budaya Patriarki dan Absennya Peran Ayah di Rumah Tangga
-
Real or AI: Krisis Nalar Kritis Kala Konten AI di Media Sosial Kian Nyata
-
Belajar Berjalan Lebih Pelan: Menemukan Ketenangan di Tengah Dunia yang Berisik
-
Merokok, Pola Asuh Ayah, dan Persepsi Kesehatan Anak Lintas Generasi
Terkini
-
Niat Cari Jajanan Kaki Lima, Turis di Tailan Malah Disuguhi Makanan di Acara Duka
-
Harga Terjun Bebas! 5 Flagship Ini Makin Masuk Akal Dibeli
-
4 Serum Anti-Aging Tanpa Pewangi dan Alkohol yang Gentle untuk Kulit Sensitif
-
Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme