Rabu kemarin, umat Katolik merayakan salah satu hari raya penting dalam ritus peribadatan Gereja Katolik, yakni Rabu Abu. Rabu Abu menjadi penanda masuknya masa Prapaskah yang ditandai dengan prosesi ritus pengolesan abu di dahi dan diucapkannya kalimat dictum, untuk mengingatkan jemaat yang kurang lebih dapat berbunyi "Ingatlah dirimu hanyalah debu dan akan kembali lagi menjadi debu."
Momen Rabu Abu menjadi momen yang tidak kalah penting dengan Paskah. Rencana Tuhan yang digenapi dalam perkabungan Paskah melalui kematian-Nya di tiang salib perlu disambut dengan perenungan diri, agar di hari tersebut kita telah bertobat dan menanggalkan dosa-dosa keduniawian. Persiapan diri dalam menyambut momentum Paskah dilaksanakan melalui masa Prapaskah yang dimulai dengan prosesi ritus Rabu Abu tersebut.
Abu sebagai simbolisme akan sifat fana manusia
Abu melambangkan kefanaan manusia. Baik secara materiil maupun nonmateriil, sifat alamiah manusia adalah fana. Secara materiil, tubuh manusia akan lekang ditelan zaman. Tubuh manusia akan mengalami penuaan dan pada waktunya akan mengalami kematian biologis dan tidak lagi mampu mempertahankan kehidupan. Kerapuhan tubuh manusia senantiasa mengingatkan kepada kita bahwa kehadiran tubuh kita di dunia hanya dalam hitungan waktu yang singkat sebelum waktunya tiba untuk melepaskan jasad keduniawian.
Secara nonmateriil, jiwa manusia rentan terjerumus ke dalam dosa dan kesalahan. Sifat alamiah manusia yang penuh hawa nafsu mendorongnya untuk mendekati hal-hal yang merusak diri sendiri. Sehingga, abu melambangkan bahwa kerentanan yang dimiliki oleh jiwa manusia menjadi salah satu aspek yang harus selalu diingat dalam benak terdalam diri manusia.
Kesinambungan antara dua aspek kefanaan tersebut menjadi salah satu esensi terdalam dalam perayaan Rabu Abu. Manusia adalah fana dan kita harus selalu mengingat hal tersebut. Baik fana dalam badan maupun jiwa.
Refleksi diri terhadap eksistensi dalam dunia yang fana
Karena manusia hadir dengan sifat kefanaannya di dunia, maka kehidupan harus dijalani dengan kebijaksanaan dan dalam jalan yang telah ditentukan-Nya. Mengejar dunia secara tergila-gila menjerumuskan manusia kepada dosa-dosa yang mencegah diri untuk mendapatkan keselamatan. Maka, dalam masa Prapaskah dilaksanakan pantangan untuk menahan diri dari kenikmatan duniawi.
Momen untuk tobat dan mengarahkan diri ke kebaikan
Keinginan duniawi manusia bukan sebuah hal yang secara murni buruk, tetapi adalah kebijaksanaan dalam menguasainya. Penguasaan diri untuk melawan keinginan yang berlebih menyiapkan diri kita untuk menyambut dan merasakan kesedihan dan kesengsaraan yang dialami oleh Tuhan Yesus melalui perkabungan. Namun, rasa gembira tentu dapat kita peroleh ketika kita dapat menjadi diri yang baik bagi diri kita sendiri dan sesama. Semoga Tuhan memberkati kita semua tanpa terkecuali. Berkah dalem.
Referensi
- "The Roman Missal [Third Typical Edition, Chapel Edition]"
- Yayasan Gloria. 2016. "Renungan Harian®: Februari 2016"
Baca Juga
-
Bukan dengan Nirempati, Ini Cara Tepat Menerapkan Sikap 'Mindfulness'
-
Kenapa Cuma di Indonesia Artis Pindah Agama Dijadikan Komoditas Berita?
-
Mengintip Surga Laptop Second Jogja yang Jadi Penyelamat Mahasiswa Rantau
-
Modal Rp7 Juta Bisa Dapat Motor Gahar Apa? Ini 5 Rekomendasi Paling Gagah
-
Tips Ngabuburit dari Buya Yahya: Menunggu Berbuka tanpa Kehilangan Pahala Puasa
Artikel Terkait
Kolom
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
Dilema Green Jobs: Solusi atas Krisis Iklim atau Ancaman Ekstraktif Baru?
-
Terlalu Lama Berhemat, Gen Z Justru Terjebak Revenge Spending
-
Survei Bilang Anak Muda Muak Politik, Kok Paling Vokal Mengawal Kebijakan?
Terkini
-
Agensi Umumkan Lee Know Stray Kids Akan Mulai Wajib Militer pada Awal 2027
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator