Kalau ditanya, orang yang bertanggung jawab atas pergaulan bebas nan marak terjadi di kalangan remaja, kamu akan menyebut siapa? Mungkin kebanyakan orang akan mengatakan orang tua. Sebagian lagi akan menyebut guru atau pihak sekolah, sebagai rumah kedua mereka. Namun, apakah memang seperti itu?
Sebelum pembahasan lebih dalam, kita perlu memahami apa itu pergaulan bebas sehingga lebih mudah untuk menjawab pertanyaan di atas. Dikutip dari KBBI, pergaulan memiliki arti perihal bergaul atau kehidupan bermasyarakat. Sedangkan bebas berarti lepas sama sekali. Dari sini saya simpulkan bahwa pergaulan bebas adalah kehidupan bermasyarakat yang lepas tanpa sesuatu hal yang mengikat.
Kenapa pergaulan bebas ini penting untuk diperhatikan dan dibenahi? Pengaruh buruk dari pergaulan bebas bukan saja berdampak pada orang yang menjadi pelaku pergaulan bebas, tetapi juga lingkungan bermasyarakat. Pergaulan bebas bisa diibaratkan sebagai penyakit menular. Jika tidak dicegah, maka pergaulan bebas ini akan terus menyebar dan meracuni semakin banyak korban.
Jika masa remaja mereka sudah dirusak oleh pergaulan yang tidak memiliki batasan, bagaimana mereka akan menjalani kehidupan setelah dewasa? Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan mereka akan terjebak di sana selamanya. Menjadi orang yang tidak berpikir panjang dan melakukan apa pun sesuka mereka.
Pergaulan bebas di sini mencakup banyak hal. Bukan saja perihal seks bebas, tetapi juga merokok di usia mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Mungkin bukan pemandangan yang asing bagi kita, terlebih masyarakat perkotaan, anak sekolah baik yang duduk di bangku Sekolah Dasar sampai bangku SMA. Ini adalah salah satu contoh pergaulan bebas yang harus dihentikan. Kenapa? Karena para pelaku baik secara langsung atau tidak langsung akan memengaruhi orang-orang di sekitar mereka.
Bukan hanya itu, seorang anak remaja yang pergaulannya sudah tak kenal batas, tentu akan nekat melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Selain bersifat menular, pergaulan bebas juga memberi efek kecanduan layaknya narkotika. Untuk itu, penting bagi kita untuk menghentikan pergaulan bebas sedini mungkin. Siapa yang bertanggung jawab? Kita semua. Bukan hanya orang tua, guru dan sekolah, atau aparat keamanan. Semua masyarakat memiliki peran untuk menghentikan pergaulan bebas yang terjadi.
Tindakan apa yang bisa dilakukan? Lakukan cara sederhana yakni menegur dengan kalimat yang sopan agar tidak menyinggung. Sehingga mereka bisa menerima dan memahami konsekuensi dari apa yang mereka lakukan.
“Ah, orang tuanya saja tidak peduli. Kenapa saya harus ambil pusing?”
Tidak ada yang tahu apakah orang tua mereka tahu atau tidak perihal pergaulan anak mereka. Saat anak pergi dari rumah, orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik. Dan sudah sewajarnya kita sebagai makhluk sosial, saling membantu dalam upaya menciptakan lingkungan bermasyarakat yang sehat.
Bagaimana menurutmu? Apakah pergaulan bebas perlu dihentikan secara tegas? Atau ada cara khusus untuk mengubah pola pikir mereka?
Tag
Baca Juga
-
Tuai Hujatan Karena Menang MCI, Pantaskah Belinda Diperlakukan Demikian?
-
Ulasan Novel Mata dan Rahasia Pulau Gapi, Kental dengan Nilai Sejarah dan Pengabdian
-
Ulasan Novel Rooftop Buddies, Pengidap Kanker yang Nyaris Bunuh Diri
-
Berkaca pada Kasus Bunuh Diri di Pekalongan, Dampak Buruk Gadget bagi Anak
-
Ulasan Novel Mata di Tanah Melus, Petualangan Ekstrem di Negeri Timur
Artikel Terkait
-
Bolehkah Orang Tua Memanfaatkan Uang THR Anak? Ini Aturan dan Batasan Menurut Islam
-
Dua Kelompok Remaja di Senen Tawuran Petasan Usai Salat Ied
-
Dikumpulkan di Istana, Prabowo ke Anak-anak Sekolah: Jangan Ikut-ikut Hal Negatif!
-
Remaja di AS Dibunuh dan Diperkosa Ayah Kandung, Leher dan Tangan Nyaris Putus!
-
15 Kata-kata Ucapan Sungkem Lebaran Bahasa Jawa Halus ke Orang Tua, Auto Bikin Haru!
Kolom
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Penurunan Harga BBM: Strategi Pertamina atau Sekadar Pengalihan Isu?
-
Jumbo: Langkah Berani Animasi Lokal di Tengah Dominasi Horor
-
Ketimpangan Ekonomi dan Pembangunan dalam Fenomena Urbanisasi Pasca-Lebaran
Terkini
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop