Praktik perjokian skripsi sudah menjadi rahasia umum, terkhusus di kalangan civitas akademik. Dilihat dari menjamurnya iklan jasa perjokian di internet, sedikit banyaknya membelangahkan bahwasannya akan sangat mudah dan praktis bagi mahasiswa yang tidak tebal imannya untuk mengakses jalan pintas tercela demi sebuah gelar yang lucunya bakal dibangga-banggakan ataupun menjadi modal untuknya mencari nafkah kelak.
Lantas mengapa bisa ada seorang mahasiswa yang telah mengenyam pendidikan setidaknya tujuh semester, merengek ke joki demi terselesainya urusan skripsi? Alasannya beragam, tapi percayalah! Apapun alasannya itu hanyalah alibi dari bentuk ketidakmampuan diri meramu ilmu dan kompetensi ke bentuk karya ilmiah yang kita sebut dengan skripsi.
BACA JUGA: UKT di Perguruan Tinggi Negeri Lebih Murah dari Swasta, Benar Gak Sih?
Sebenarnya amat sangat lucu fenomena satu ini, mengapa bisa seorang yang duduk dan menyimak kuliah selama setidaknya tujuh semester tergiur meniti jalur pintas perjokian. Toh, bukannya skripsi membahas tentang bidang ilmu yang selama ini dipelajari? Jadi rasanya keterlaluan kalau alasan memanfaatkan jasa joki hanya karena tidak paham materi.
Sebab apa iya selama sekian semester itu tidak ada satu pun materi yang nyangkut? Sekosong itukah sampai mesti menggunakan jasa joki? Kalaupun masalahnya karena kewalahan berproses menyusun skripsi, apa iya tepat dijadikan alasan untuk meminta bantuan joki?
Sejatinya skripsi-an adalah sebuah fase "pendewasaan" seorang mahasiswa, jadi sayang benar rasanya harus dicederai oleh sebab tak seberapa! Pejuang skripsi yang tebal imannya, pasti punya kesadaran penuh kalau menggunakan jasa joki skripsi adalah tindakan merugikan, lagi menipu diri sendiri.
Memanfaatkan jasa joki skripsi sudah barang tentu bertentangan dengan kaidah akademik! Toh, di mana pun kuliahnya, apa pun perguruan tingginya pasti semuanya satu suara kalau perjokian adalah tindak yang amat sangat melecehkan kaidah akademik.
Namanya juga fase pendewasaan, jadi toh wajar kalau dalam perjalanan menyelesaikan studi akan menemui halang-melintang, diliputi rasa tidak enak, penat luar biasa, sakit badan bahkan menyentil mental!
BACA JUGA: Menggugat Negara untuk Kesejahteraan Papua
Andai saja semua mahasiswa sadar kalau sejatinya berproses akan sangat banyak mendatangkan manfaat, setidaknya dengan berproses dapat menguatkan mental, juga mengasah kompetensi diri supaya betul-betul siap berhadapan dengan segala macam situasi baik di dunia kerja ataupun hidup bermasyarakat.
Lagi pula, kalau urusan skripsi saja sudah pakai joki, bagaimana jadinya nanti? Jika seorang mahasiswa menyerah pada skripsinya hanya karena halang-melintang yang ditemuinya, dikhawatirkan "sarjana jalur joki" ini kembali melakukan praktik-praktik licik di perjalanannya pascasarjana.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Pendaftaran Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Merdeka Tahun 2023 Telah Dibuka, Cek Linknya di Sini!
-
UKT di Perguruan Tinggi Negeri Lebih Murah dari Swasta, Benar Gak Sih?
-
Pendaftaran Bantuan KIP Kuliah Resmi Dibuka, Simak Yuk Cara Daftarnya!
-
Bisa Jadi Referensi Bagi Calon Mahasiswa, Ini 10 Prodi dengan Keketatan Tertinggi di Unand
-
5 Keuntungan yang Saya Dapatkan dari Beasiswa Etos ID
Kolom
-
Guru di Ujung Laporan: Mengapa Mediasi Kini Kalah oleh Jalur Hukum?
-
Banjir yang Tak Pernah Usai: Kota, Beton, dan Kekalahan Berulang
-
Pemulihan Aceh Pascabencana: Ini Suara untuk Negara yang Lambat Bertindak!
-
Di Balik Persaingan Ketat dan Banyaknya Jalur Masuk ke Perguruan Tinggi
-
Ketika Berita Ramai Dibaca tapi Kehilangan Makna
Terkini
-
Perankan Karakter Kembar, Park Jin Hee Siap Menguras Emosi di Drakor Pearl in Red
-
Live Action Sakamoto Days Unjuk Gigi: Anggota Order Resmi Terungkap!
-
Membedah Makna Damai di Buku Seneca Filsafat Hidup Bahagia
-
Gak Perlu Flagship Mahal, Ini 5 HP 5 Jutaan Paling Worth It Awal 2026
-
Takdir yang Tidak Terduga