Scroll untuk membaca artikel
Hernawan | Mohammad Maulana Iqbal
Ilustrasi Sekolah (Pixabay/Nikolay Georgiev)

Di suatu perkuliahan, saya pernah disarankan oleh dosen saya untuk membaca sebuah buku yang berjudul ‘Deschooling Society’ karya Ivan Illich. Kebetulan saat itu sedang berlangsung mata kuliah pendidikan kritis. Saya sendiri tidak begitu tau kala itu mengenai buku tersebut. Pengarangnya sendiri masih terbilang asing bagi saya. Pasalnya, saya lebih mendengar Paulo Freire ketika berbicara mengenai pendidikan kritis, ketimbang si Illich ini.

Walhasil, saya kepo dan mencari buku tersebut. Perjalanan saya mencari buku ini lumayan lama dan sangat sulit karena memang buku ini terbitan luar negeri oleh Row Publisher, New York pada tahun 1972. Atas pertimbangan banyak hal, saya memutuskan untuk mencari terjemahannya saja dengan judul “Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah” yang diterjemahkan oleh A. Sony Keraf dan diterbitankan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2000.

Namun sialnya, ternyata buku ini cukup langka. Selain karena lumayan lawas, pihak penerbit sendiri sudah kehabisan stok sejak lama dan tidak menerbitkannya lagi. Setelah sekian minggu melakukan pengembaraan, akhirnya saya mendapatkan buku ini di sebuah toko buku lawas di Jalan Semarang, Surabaya. 

Ternyata buku ini sangat menarik bagi saya, karena gagasan yang dibawa Illich masih sangat relevan untuk saat ini, terutama dalam dunia pendidikan dan sekolah. Oh iya, Illich ini merupakan seorang teolog dan rohaniawan sebagai imam Gereja Katolik Roma. Ia lahir di Wina tahun 1926 dan di tahun 1951 ia hijrah ke New York, Amerika Serikat.

Ia merupakan seorang kaum dari ‘katolik kiri’ (jika dari Indonesia seperti almarhum Romo Mangun). Ia sangat konsen dengan humanisme radikal, isu-isu sosial, termasuk salah satu bukunya yakni ‘Deschooling Society’ ini yang mendapatkan penghargaan ‘World Board of Education’.

Melalui bukunya, Illich mengajak saya dan para pembaca lainnya untuk merefleksikan sekaligus mengkritisi kembali dinamika pendidikan dan realitas lembaga sekolah yang selama ini terjadi. Illich sendiri mengacu pada realita kesenjangan sosial, pendidikan dan sekolah di Amerika Serikat pada tahun 1960.

Ia mengkritik banyak hal, namun sebuah ketidakmungkinan ketika saya harus menuliskan semua gagasan dari Illich dalam artikel singkat ini. Oleh karena itu, saya akan menyampaikan poin-poin yang memang kontekstual dengan pendidikan di Indonesia sekarang.

Ijasah, Sekolah dan Pendidikan

Misalnya, mengenai masyarakat sekarang yang sudah terkonstruksi secara paten bahwa satu-satunya tempat menempuh pendidikan adalah sekolah. Banyak masyarakat tidak ingin anaknya tidak sekolah, meskipun ia memiliki kecerdasan yang luar biasa dengan tanpa sekolah. Bahkan pemerintah diberbagai negara sendiri memberikan kebijakan untuk wajib sekolah bagi setiap rakyatnya.

Padahal, bagi Illich ini merupakan sudah pergeseran makna antara sekolah dan pendidikan. Bagi Illich sekolah bukanlah satu-satunya tempat untuk mendapatkan pendidikan. Masih banyak media lain untuk mendapatkan pendidikan seperti belajar dari masyarakat, pengalaman, pekerjaan dan lain sebagainya.

Ketika sekolah dipatenkan menjadi lembaga satu-satunya yang diakui memberi pendidikan, maka implikasinya adalah ijasah pun akan dianggap sebagai bukti bahwa seseorang telah menempuh pendidikan. Ijasah dan sertifikan kini didewakan. Misalnya, ketika kita bekerja, maka hal yang ditanyakan pertama kali adalah ijasah kita, bukan skill atau keahlian yang kita miliki.

Padahal, bagi Illich hal ini sudah keliru banget. Seseorang mendapatkan ijasah, belum tentu menjamin ia benar-benar telah mendapatkan pendidikan. Bisa saja ijasah tersebut hanyalah bukti bahwa ia pernah masuk sekolah, bayar spp, absen dan kemudian pulang, hanya sekedar itu. Sebagaimana kata Rocky Gerung bahwa “Ijazah Itu Tanda Orang Pernah Sekolah, Bukan Tanda Orang Pernah Berpikir.”

Guru, Murid dan Pendidikan

Guru sering memposisikan diri sebagai distributor kurikulum yang dibuat oleh pemerintah. Ia menyampaikan visi dan misi dari kurikulum yang dirancang oleh pemerintah. Sehingga tidak mengherankan ketika pemerintahannya berganti, maka kurikulum juga akan ikut berganti dan pendidikan dirombak kembali.

Sedangkan murid hanya menjadi penadah, hanya menjadi konsumen, hanya menjadi pihak yang menerima begitu saja apa yang disampaikan guru dari pemerintah. Sehingga murid tidak leluasa untuk mengekpresikan apa yang ada dalam pikirannya.

Padahal, bagi Illich sebenarnya tumbuh kembang anak itu lebih banyak terpengaruh oleh pengalaman hidupnya dengan masyarakat, tidak dengan lingkungan sekolah. Ia berkembang dengan teman sebayanya. Ia tumbuh, meniru dan mempelajari setiap tindak laku maupun realita dalam kehidupan masyarakat.

Dan, inilah yang tidak didapatkan murid di lingkungan sekolahnya. Murid hanya dijejali pelajaran-pelajaran yang menumpuk dan jauh dari realita kehidupannya. Saya sendiri pernah bertanya pada guru matematika di sekolah saya dulu, bahwa ‘rumus sin cos tan itu manfaatnya di dalam kehidupan itu apa, bu?’ Namun, sayangnya guru saya tidak bisa menjawab pertanyaan saya dan ia malah melanjutkan pelajarannya.

Ini lah logika yang keliru bagi Illich. Bahwa murid selalu dijejali banyak pelajaran, semakin banyak pelajaran maka semakin menentukan kesuksesan. Sedangkan murid tidak pernah diberi ruang untuk berekspresi atau mendapatkan sesuatu yang memang benar-benar dibutuhkannya.

Pendidikan yang Baik ala Ivan Illich

Lantas bagaimana pendidikan yang baik menurut Ivan Illich? Pendidikan yang baik baginya adalah pendidikan yang memberi ruang secara bebas bahkan disediakan ruang untuk memperoleh sumber belajar lain secara luas, tidak hanya dari sekolah saja. Misalnya, dari pengalaman hidup, dunia kerja seperti magang dan lain sebagainya.

Pendidikan juga harus memberi ruang pada siapapun untuk memberikan pengetahuannya, mengekspresikan gagasannya, bahkan memberi kritiknya kepada intansi sekolahnya, pengajar atau pun orang lain . Tidak hanya guru ke murid, tapi juga murid ke guru bahkan murid ke murid sekalipun. Dari situ murid dapat belajar banyak hal, tidak hanya dari guru, melainkan juga dari teman sebayanya dengan saling bertukar keterampilan.

Murid juga seharusnya diberikan kebebasan untuk memilih kepada siapa ia harus belajar, kepada guru siapa ia harus menimba ilmu, dan pada pelajaran apa yang harus ia tempuh. Sekolah seharusnya memberikan referensi hal demikian dalam sebuah draft untuk dipilih oleh murid dengan keinginannya sendiri. Sehingga murid tidak terbebani dan bebas untuk menentukan apa yang memang terbaik dan sesuai dengan keahliannya.

Mohammad Maulana Iqbal