Pagi ini, saya memutuskan untuk berjalan kaki di sekitar Wana Desa Embung Potorono, Kabupaten Bantul. Lima ribu (5000) langkah sudah terasa cukup untuk membakar sedikit kalori sembari menikmati sejuknya udara di pagi hari.
Angka lima ribu kebetulan sama dengan harga satu liter Pertalite. Sebuah kebetulan yang membuat saya tersenyum sinis, miris, dengan rasa getir di dada setelah membaca berita penangkapan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan ditetapkan sebagai tersangka korupsi tata kelola minyak mentah.
Dulu, saya merasa punya moral setinggi langit ketika memilih mengisi bahan bakar dengan Pertamax. Prinsipnya sederhana, Pertalite adalah bahan bakar minyak subsidi untuk mereka yang lebih membutuhkan. Dengan membeli Pertamax, saya merasa telah berkontribusi dalam keadilan sosial.
Namun, hari ini saya sadar bahwa semua itu mungkin hanya kebohongan belaka. Pertamax yang diklaim lebih berkualitas ternyata hanyalah bensin oplosan dengan harga premium. Alih-alih menolong rakyat kecil, uang yang saya bayarkan justru ikut mengalir ke kantong para elite yang sudah ditetapkan menjadi tersangka.
Lalu saya ingat, lusa sudah masuk bulan Maret. Saatnya melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak dan membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Sebagai rakyat biasa, kita selalu dituntut patuh. Setiap rupiah yang kita miliki diawasi, setiap keterlambatan pembayaran bahkan rentan dikenai sanksi administratif.
Sementara mereka yang punya kuasa menikmati potongan, kemudahan, dan fasilitas yang tak terbayangkan. Nama-nama seperti Harvey Moeis, Sandra Dewi, Rafael Alun, dan kroninya yang terjerat kasus korupsi langsung melintas di kepala.
Jadi, masihkah kita ikhlas membayar pajak? Masihkah ikhlas membeli Pertamax? Masihkah ikhlas membayar gas elpiji yang terus naik harganya? Pertanyaan-pertanyaan ini semakin menumpuk, ternyata menyesakkan dada. Namun, saya tidak sedang mengajak demonstrasi atau membuat petisi perubahan.
Saya juga tidak punya solusi manjur untuk membenahi semua ini. Saya hanya ingin mengajak berpikir kritis sembari melakukan refleksi dari cengkarutnya permasalahan di negara kita, Indonesia. Biarlah para "orang pintar" di kursi kekuasaan yang mencari jalan keluarnya. Saya hanya ingin berkata, negeri ini rasanya sudah terlalu berat untuk diteruskan.
Jika ini sebuah pernikahan, kita sudah sampai pada titik di mana tak ada lagi kehangatan, kasih sayang dan kejujuran. Tampaknya hanya cekcok dan luka akibat KDRT yang tak kunjung sembuh. Jadi bagaimana? Apakah kita lanjut berpura-pura bahagia? Ataukah sudah saatnya kita kembali pada kehidupan yang lebih sederhana, tanpa ekspektasi dan ilusi? Barangkali, menjadi masyarakat tribal bukan ide buruk. Setidaknya di sana, kita tahu siapa kawan dan siapa lawan.
Baca Juga
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
Belajar Membaca Peristiwa Perusakan Makam dengan Jernih
-
Kartini dan Gagasan tentang Perjuangan Emansipasi Perempuan
-
Membongkar Kekerasan Seksual di Kampus oleh Oknum Guru Besar Farmasi UGM
-
Idul Fitri dan Renyahnya Peyek Kacang dalam Tradisi Silaturahmi
Artikel Terkait
-
Peran Kedua Tersangka Baru Kasus Korupsi Minyak Pertamina
-
Pertamina Siap-siap Digugat, LBH Jakarta Ajak Warga Kumpulkan Bukti BBM Oplosan
-
Khawatir Kualitas Pertamax? Ini Pilihan SPBU Selain Pertamina dengan BBM Bermutu
-
Wikipedia Jelaskan Arti 'Mengoplos' dengan Ilustrasi Bensin, Netizen: Penggoreng Andal
-
Bagaimana Tersangka Korupsi Pertamina Oplos RON 90 Jadi Pertamax?
Kolom
-
Ucapan 'Mohon Maaf Lahir dan Batin' saat Idulfitri: Benarkah Selalu Tulus?
-
Perempuan Berpendidikan sebagai Calon Ibu: Upaya Terdidik Sebelum Mendidik
-
Ramadan dan Etika Perang: Apakah Kemanusiaan Masih Punya Tempat?
-
Mengembalikan Akal Sehat di Meja Keputusan Pelayanan Publik
-
Terlalu Tua untuk Bekerja? Wajah Ageisme di Dunia Kerja Indonesia
Terkini
-
Review Buku Adaptasi: Menyikapi Fase Perubahan dalam Kehidupan Umat Manusia
-
The Notebook: Makna Kesetiaan dan Cinta yang Terus Dipilih Setiap Hari
-
Film Reminders of Him, tentang Cinta dan Penebusan Dosa yang Menggelora
-
4 Ide OOTD Soft Girly ala Winter aespa untuk Look Feminin Simpel
-
Tak Perlu Antre! Ini 4 Cara Cek Rest Area yang Tidak Padat saat Mudik