Mengenal Ki Hajar Dewantara tidak hanya sekadar labelnya sebagai Pahlawan Bangsa yang memiliki peran besar dalam perjuangan mencerdaskan bangsa. Penting bagi generasi muda untuk melihat juga pada refleksi perjuangan Ki Hajar Dewantara yang turut menginspirasi perubahan di bidang pendidikan dan politik.
Terlebih jika melihat dari kacamata Indonesia saat ini, sebenarnya Dewantara Politika yang dirintis di era perjuangan masih cukup relevan untuk diterapkan di zaman sekarang. Sebut saja pencetusan semboyan Taman Siswa yang menjadi tuntunan dalam sistem pengajaran dan perpolitikan bangsa.
Keberadaan tiga semboyan utama, yaitu "Ing ngarso sung tulodo”, “Ing madyo mangun karsa” dan “Tut wuri handayani", bukan sekadar kalimat mengesankan yang idealis untuk dijadikan pajangan atau hanya dikenang sebagai bukti perjuangan. Justru lebih dari itu, slogan-slogan tersebut masih layak dihidupkan dalam membangun bangsa Indonesia di zaman modern seperti sekarang ini.
Jika menilik ke masa lampau, Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan jalan untuk menghancurkan kebodohan yang dibiarkan terus menjerat rakyat Indonesia kala itu. Jalan terjal Ki Hajar Dewantara pun menjadi bukti bahwa perjuangannya mencerdaskan bangsa bukan hal yang tidak mungkin diwujudkan di tengah keterbatasan.
Buktinya, saat ini saja rakyat Indonesia mendapat kesetaraan dalam mengenyam pendidikan dan kesempatan berpolitik secara demokratis berkat perjuangan Sang Bapak Pendidikan Nasional. Taman Siswa pun menjadi cikal bakal generasi penerus yang mampu berpikir kritis, berakhlak, dan pastinya berdaya saing.
Jika jalan untuk membangun generasi bangsa yang cerdas, kritis, berakhlak, dan berdaya saing sudah dibuka oleh Ki Hajar Dewantara, bukankah saat ini giliran kita sebagai generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan beliau?
Meski zaman terus berubah dan mempengaruhi atmosfer pendidikan serta perpolitikan bangsa, tetapi pakem Ki Hajar Dewantara masih sangat relevan untuk dijadikan tuntunan agar konsep mencerdaskan bangsa dan demokrasi politik tidak kebablasan.
Refleksi Perjuangan Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya yang Menginspirasi
Melangkah di zaman modern yang semakin banyak dipengaruhi sistem digitalisasi tentu tidak mudah untuk terus membawa pakem Ki Hajar Dewantara sebagai refleksi yang terus menginspirasi. Baik di bidang pendidikan maupun politik, bangsa ini sebenarnya masih membutuhkan tuntunan tersebut.
Konsep tuntunan di mana pengajar dan pemimpin harus mampu menjadi contoh, berada di depan, dan memberi dorongan untuk mencapai tujuan bangsa, seharusnya bisa terus hidup dalam jiwa generasi penerus.
Terlebih dalam kondisi bangsa Indonesia yang 'semrawut' seperti sekarang ini, pelajar dan rakyat seolah dibuat kehilangan arah, tujuan, serta kepercayaan.
Pengajar dan pemimpin yang seharusnya mengayomi serta menjadi teladan justru terseret arus perubahan dunia yang tidak semuanya sejalan dengan warisan Ki Hajar Dewantara. Kebebasan dalam berpikir, berpendapat, dan berkreasi seolah dimanipulasi menjadi jalan pembenaran untuk konsep bebas yang sebebas-bebasnya.
Tentu kebebasan menjadi hak seluruh rakyat, tetapi bukan berarti boleh menimbulkan kerugian atau bahkan menjerumuskan generasi mendatang ke dalam pusara kegamangan.
Sudah seharusnya kita yang mengambil peran sebagai pengajar dan pemimpin untuk kembali ke ‘jalan yang benar’ sesuai harapan Ki Hajar Dewantara dahulu.
Dengan kembali melihat pada refleksi perjuangan beliau, kita akan lebih terinspirasi dalam menciptakan dan mengembalikan idealisme awal yang dicita-citakan untuk membangun negeri ini. Bukan hal yang mudah, tetapi juga bukan langkah yang mustahil mengingat ‘manual guide’ sudah dibuat oleh Ki Hajar Dewantara.
Tantangannya tinggal bagaimana kita sebagai generasi penerus mau memulai langkah awal demi ikut berperan dalam mengemban tugas mencerdaskan bangsa dan membangun dinamika politik yang demokratis. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Antara Takut Daycare dan Realita Finansial: Haruskah Ibu Bekerja Resign?
-
Dilema Ibu Bekerja dan Isu Daycare Nakal: Antara Bertahan, Percaya, & Cemas
-
Realita Perempuan di Media Sosial: Antara Eksistensi dan Tekanan
-
Kerja Keras, tapi Kurang Diakui: Nasib Perempuan di Dunia Profesional
-
Kerja Iya, Urus Rumah Jalan Terus: Mengapa Beban Perempuan Masih Timpang?
Artikel Terkait
-
Menterengnya Karier Atalia Praratya: Dipuji High Value, Kekayaannya Ternyata Ungguli Suami
-
Ki Hajar Dewantara: Dari Darah Ningrat hingga Perintis Pendidikan Rakyat
-
Collective Moral Injury, Ketika Negara Durhaka pada Warganya
-
Sumber Kekayaan Krisna Mukti, Tabungannya Sempat Ludes Usai Dipakai Nyaleg
-
Menemukan Kembali Semangat Politik Ki Hadjar Dewantara di Era digital
Kolom
-
Di Balik Sekolah Gratis: Ada 'Hidden Cost' yang Luput dari Jangkauan Hukum
-
Antara Takut Daycare dan Realita Finansial: Haruskah Ibu Bekerja Resign?
-
Tragedi Stasiun Bekasi Timur: Evaluasi Lintasan Sebidang dan Sistem Sinyal
-
Saat Negara Gagal Hadir: Tragedi Anak NTT dan Luka Pendidikan Indonesia
-
Self-Service Bukan Cuma Soal Teknologi, Tapi Cara Melatih Mental Jadi Main Character yang Mandiri
Terkini
-
Jadi Guru Gak Boleh Nanggung! Seni Menjadi Guru Keren ala J. Sumardianta
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Hidup Kedua di Planet Kepler-186F
-
Review Film Mother Mary: Balutan Estetika A24 dalam Tragedi Musikal Modern
-
Jawab Wacana Gerbong Perempuan ke Tengah, Dirut KAI: Semua Berhak Selamat