Di tengah perubahan zaman dan tantangan global yang sangat kompleks ini, gagasan pendidikan dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, masih sangat relevan bahkan menjadi tuntutan yang mendesak untuk segera diimplementasikan dengan baik secara utuh.
Filosofi "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani," bukan hanya semboyan semata, melainkan sebagai fondasi yang kokoh untuk mewujudkan sistem pendidikan yang humanis, memerdekakan, dan berkeadilan.
Dalam konteks negara Indonesia yang majemuk, urgensi akses pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi cita-cita mulia sejak kemerdekaan bangsa Indonesia diperjuangkan.
Inti dari filosofi Ki Hajar Dewantara adalah pandangan bahwa pendidikan adalah hak bagi tiap individu manusia. Beliau meyakini bahwa setiap anak dilahirkan memiliki potensi unik yang perlu dikembangkan secara holistik, dengan meliputi aspek cipta (kognitif), rasa (afektif), dan karsa (psikomotor).
Gagasan ideal itu termanifestasi dari ‘Taman Siswa’, sekolah yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tahun 1922. Taman Siswa menempatkan murid sebagai subjek pembelajaran, bukan sebagai objek yang terdoktrinisasi.
Mereka diberi kebebasan untuk berekspresi, berkreativitas, dan mengembangkan minatnya sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.
Lantas, bagaimana gagasan ini memiliki korelasi dengan akses pendidikan yang merata? Jika pendidikan adalah hak setiap individu dan bertujuan mengembangkan setiap potensi secara utuh, maka tidakmerataan akses adalah sebuah pengingkaran terhadap hak tersebut dan penghalang besar berkembangnya potensi anak secara maksimal.
Bayangkan, potensi seorang anak yang ada di pelosok bisa saja terhambat jika fasilitas yang tidak memadai, kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas, atau bahkan kesulitan menjangkau sekolah. Belum lagi kalau dipengaruhi ekonomi keluarga yang kurang mampu.
Ketidakadilan ini tidak hanya merugikan individu tersebut, tetapi juga merugikan bangsa secara keseluruhan karena kehilangan sumbangsih dari potensi yang tidak tergali.
Ki Hajar Dewantara jauh sebelum era globalisasi telah menyadari bahwa pentingnya pendidikan secara merata dan komprehensif. Beliau tidak membeda-bedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun letak geografis anak untuk mendapatkan pendidikan.
Semangat "Memayu Hayuning Bawana", yang diusung untuk memelihara keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dunia, secara implisit mengandung makna bahwa pendidikan yang berkualitas dan merata adalah kunci utama untuk mencapai tatanan masyarakat yang makmur dan adil.
Ketika setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, mereka akan memiliki bekal yang sama untuk bisa berperan aktif dalam pembangunan bangsa dan negara, meningkatkan taraf hidup, serta berkontribusi pada kemajuan peradaban.
Namun, realitas di lapangan sering kali jauh dari ideal. Ketimpangan akses pendidikan masih menjadi persoalan laten di Indonesia. Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, antara kelompok ekonomi mampu dan kurang mampu, serta anak-anak dengan kebutuhan khusus dan anak-anak pada umumnya, masih terasa yang terus menghantui kemajuan bangsa. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan pendidikan yang memerdekakan dan cita-cita luhur Ki Hajar Dewantara.
Oleh sebab itu, mengaktualisasikan gagasan Ki Hajar Dewantara dalam kebijakan pendidikan nasional menjadi sangat krusial. Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan seperti:
- Memperkuat infrastruktur pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
- Meningkatkan kualitas dan pemerataan tenaga pendidik.
- Menerapkan kurikulum yang fleksibel dan adaptif.
- Mendorong partisipasi aktif masyarakat.
- Memanfaatkan teknologi secara bijak.
Dengan menginternalisasi dan mengimplementasikan gagasan Ki Hajar Dewantara secara sungguh-sungguh, maka kita dapat membuka pintu kesempatan yang seluas-luasnya bagi setiap anak bangsa untuk mencapai mimpinya.
Akses pendidikan yang merata bukan hanya memberikan kesempatan yang sama untuk bersekolah, tetapi juga menumbuhkan rasa keadilan, persatuan, dan kesatuan bangsa.
Menyemai benih kemerdekaan melalui pendidikan yang merata adalah investasi jangka panjang untuk menentukan arah bangsa Indonesia yang lebih gemilang, adil, dan beradab.
Mari kita jadikan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagai muara untuk menghadapi tantangan di era modern dan mewujudkan Indonesia sebagai taman sari ilmu pengetahuan bagi setiap warganya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Mengapa Kampus Lebih Sibuk Kejar Akreditasi daripada Jaga Nyawa Mahasiswa?
-
Gen Z, Kopi, dan Mundurnya Alkohol dari Panggung Pergaulan
-
WNA Rasis di Medsos: Bisa Nggak Sih Dijerat Hukum Indonesia?
-
Miskin Itu Bukan Takdir, Tapi Warisan yang Lupa Ditolak
-
Generasi Sigma 2026: Anak Bayi yang Sudah Ditunggu Algoritma
Artikel Terkait
-
Inspirasi Ki Hajar Dewantara: 'Manual Guide' Bidang Pendidikan dan Politik
-
Menterengnya Karier Atalia Praratya: Dipuji High Value, Kekayaannya Ternyata Ungguli Suami
-
Ki Hajar Dewantara: Dari Darah Ningrat hingga Perintis Pendidikan Rakyat
-
Menemukan Kembali Semangat Politik Ki Hadjar Dewantara di Era digital
-
Ki Hajar Dewantara dan Tantangan Literasi Gen Z: Sebuah Refleksi Kritis
Kolom
-
THR Anak Bukan "Dana Hibah" Buat Emak: Siasat Bijak Kelola Amplop Lebaran si Kecil
-
Waktu Adalah Mata Uang Ramadan: Jangan Habiskan Hanya Untuk Menunggu Magrib!
-
Apa Jadinya Ketika Anak Padus Jadi Zombi? Kisah di Balik Konser ORPHIC 2024
-
Menyoal Muslim Musiman vs Muslim VIP: Stop Jadi Juri Keimanan Orang Lain
-
BBM Aman 20 Hari ke Depan, Yakin Nggak Panik saat Mudik Nanti?
Terkini
-
Buku Keajaiban Sebuah Ciuman: Cerita Fantasi Kontemporer yang Menggugah
-
Krisis Ekologi yang Terabaikan di Balik Rudal Perang AS-Israel dan Iran
-
Goyangan Elvis Bangkit Lagi! Review Film EPiC yang Bikin Satu Bioskop Senam Irama
-
4 Padu Padan Outfit Monokrom ala Seo Kang Joon, Clean dan Stylish!
-
Bertemu Lail dan Esok di Novel Hujan: Jajaran Romansa Ringan ala Tere Liye