Proses pendewasaan membawa saya pada sebuah narasi bahwa menjadi seorang ibu adalah bersiap untuk menjadi sosok yang paling tangguh, serba bisa, dan seseorang yang kelihatannya nggak boleh capek. Setidaknya, itulah yang saya saksikan pada ibu saya sendiri.
Yakni sosok perempuan yang durasi waktu 24 jamnya seperti nggak pernah cukup buat menyelesaikan semua to-do list yang harus ia kerjakan. Kenyataan ini nggak hanya dialami oleh ibu saya, tetapi barangkali oleh banyak ibu di luar sana.
Dalam buku 'Berdamai dengan Diri Sendiri' karya Juni Soekendar, saya cukup miris ketika mendapati ada banyak sekali curhat para istri dan ibu yang mengeluh tentang keadaan pada suami yang nggak bisa diandalkan.
Entah jadi ibu rumah tangga atau ibu pekerja, selalu ada cerita tentang beratnya hidup saat menghadapi seorang lelaki yang dibesarkan dengan budaya patriarki. Yakni mereka yang segalanya serba dilayani, dan seringnya nggak pernah belajar untuk dewasa.
Akhirnya saya mikir, apakah menjadi ibu memang harus setangguh itu? Ataukah kerja keras ini adalah kenyataan yang harus diterima karena memang nggak ada opsi lain untuk memilih?
Nah, kalau dipikir-pikir, glorifikasi tentang perempuan tangguh yang marak digaungkan dalam masyarakat secara langsung maupun melalui media agaknya seolah menjadi normalisasi terhadap ketimpangan peran yang terjadi antara perempuan dan laki-laki dalam rumah tangga.
Kita seolah begitu bangga saat merayakan tentang betapa tangguhnya seorang perempuan, tetapi abai dengan alasan mengapa harus seperti itu.
Padahal, seringkali ketangguhan sebenarnya hanyalah bentuk lain dari keterpaksaan. Kalau bukan ibu yang memasak, membersihkan rumah, momong anak, hingga sesekali mencari penghasilan tambahan, lantas siapa lagi?
Lalu ketika seorang ibu mulai mengeluh, orang akan mudah menghakimi, "yaa namanya juga ibu-ibu, pasti rempong lah". Jangan tanyakan apa itu me time kepada ibu yang harus melakukan semua pekerjaan seorang diri.
Nggak ada kata libur, ataupun cuti sejenak. Semua siklus pekerjaan rumah tangga yang membosankan itu akan terus berulang setiap hari, dikerjakan tanpa ada kompensasi dan jaminan gaji.
Namun lihatlah saat si bapak yang pulang kerja. Seisi rumah wajib hukumnya untuk memberi ruang agar ia bisa menepi dan beristirahat, katanya "laki-laki udah capek kerja seharian banting tulang buat cari nafkah".
Selain beban pekerjaan fisik, fenomena mental load juga seringkali menjadi beban lain yang harus ditanggung ibu seorang diri. Mikirin kapan jadwal vaksin anak selanjutnya, hari ini masak apa, atau mau jemput si kakak atau adik duluan.
Lalu seringkali laki-laki tidak menyadari hal ini. Yang ada di pikirannya menjadi ibu rumah tangga mah enak, "cuma" mengurus rumah dan momong anak sambil rebahan main hape. Padahal kenyataannya, baik secara mental dan fisik ibu-ibu tangguh itu sebenarnya telah menjadi sosok yang begitu rapuh karena ada sosok lelaki yang nggak pernah belajar untuk memahami perannya dengan baik dalam rumah tangga.
Bahwa sebagai sosok laki-laki, kewajibannya bukan cuma soal cari nafkah, tapi tentang bagaimana ia turut berpartisipasi menanggung beban fisik maupun emosional dalam rumah tangga itu berdua. Baik perempuan dan laki-laki yang terikat dalam hubungan pernikahan, sejatinya adalah partner yang memiliki hubungan setara.
Sebagai gen Z, barangkali sebagian di antara kita mulai sadar akan hal ini. Kampanye mengenai kesetaraan peran laki-laki dan perempuan adalah hal yang sudah mulai dipahami banyak orang.
Namun realitanya, hal itu tak jarang masih menjadi narasi yang diagung-agungkan di kepala. Pada prakteknya, masih banyak laki-laki maupun perempuan yang dibesarkan dalam budaya patriarkis dan mereka sulit untuk keluar dari lingkaran tersebut. Maka jika suatu saat nanti kita sudah menjalani peran sebagai ayah atau ibu, amat penting bagi kita untuk memahami hal ini.
Kalau kamu laki-laki, urusan mengganti popok anak atau gantian begadang di malam hari saat punya bayi bukanlah sesuatu yang amat mulia untuk dikerjakan.
Tapi itu memanglah bare minimum yang harus dijalankan sebagai seorang suami. Meskipun capek, ya kan namanya tulang punggung keluarga. Harus menjadi sosok paling tangguh dari yang lainnya.
Kalau kamu perempuan, kamu punya hak untuk minta bantuan, kok. Jangan menanggung semuanya sendirian. Sebab pada akhirnya, rumah tangga itu adalah sebuah relasi yang seharusnya adil dalam menempatkan perempuan dan laki-laki.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
-
Pahlawan Ekonomi Kreatif: Tetap Cuan Meski Tanpa Kerja Kantoran
Artikel Terkait
-
Fakta 64 PSK Terjaring di IKN, Kepala Otorita: Itu Berita Daur Ulang!
-
Heboh IKN Jadi 'Sarang' PSK, Kepala OIKN: Itu Bukan di IKN-nya Bos
-
DPR: kalau Tony Blair Institute Terlibat Pengusiran Warga Gaza, Batalkan Kerja Sama dengan IKN!
-
Kontrasepsi Jadi Beban Tunggal Perempuan, Ketimpangan Peran KB di Keluarga
-
Literasi Keuangan Pasutri Muda di Buku Ngatur Keuangan Keluarga itu Gampang
Kolom
-
Dilema Kaum Rebahan di Tengah Gejolak Ekonomi: Chill atau Mulai Bergerak?
-
Jejak Sampah di Balik Tombol 'Checkout': Sudah Siapkah Berhenti Jadi Konsumen Pasif?
-
Hobi Checkout Baju Picu Clutter Lifestyle dan Sampah Tekstil Meningkat?
-
Kulkas Penuh Daging, Dompet Kering Melompong: Fenomena Unik Pasca-Iduladha
-
Awas Terjebak Tren! 5 Mitos Less Waste yang Telanjur Dipercaya
Terkini
-
Daredevil: Born Again Season 2, Perpaduan Sempurna Aksi dan Cerita Politik!
-
Status Kim Soo Hyun Terbukti Bersih, Mengapa Netizen Masih Ogah Percaya?
-
Membaca Al-Asbun Karya Pidi Baiq: Ketika Keisengan Menjelma Filosofi Hidup
-
Penebusan Dosa Sang Mantan Pecandu: Review Jujur Serial Fantasi Epik 'Agent from Above'
-
Laptop Asus ROG Zephyrus G14, Senjata Baru Gamer dan Content Creator Profesional