Menjadi mahasiswa aktif organisasi sering kali dianggap puncak kontribusi di dunia kampus. Tapi di balik segala rapat, proposal, dan program kerja, ada beban teknis yang perlahan menggerogoti semangat. Kita tidak lelah karena terlalu banyak kegiatan, melainkan karena terlalu banyak hal kecil yang harus diurus tanpa sistem yang jelas. Notulen ditulis manual, laporan disusun dari potongan chat, dan koordinasi tersebar di berbagai grup. Inilah akar kelelahan yang sering salah dimaknai sebagai sekadar “sibuk.”
Padahal, overthinking dalam organisasi mahasiswa bukan sekadar soal mental lelah. Ia adalah tanda bahwa sistem kerja yang ada belum efisien. Mahasiswa harus mengingat banyak hal teknis: siapa yang perlu di-follow-up, apa yang belum dicatat, kapan laporan dikirim, dan bagaimana menyusun dokumentasi dengan baik. Semua hal itu bercampur di kepala, bahkan ketika tubuh sudah meminta istirahat.
Sasya, mahasiswa hukum Universitas Tidar yang aktif di beberapa organisasi, pernah bilang: “Aku nggak keberatan sibuk, tapi capeknya datang dari cara kerja yang nggak efisien. Banyak hal yang harusnya bisa otomatis, tapi malah jadi tanggung jawab pribadi.”
Pernyataannya sejalan dengan hasil riset yang dimuat dalam jurnal PLOS ONE berjudul Burnout and its Association with Extracurricular Activities among Medical Students (2021), yang menemukan bahwa tingkat kelelahan mahasiswa aktif kegiatan organisasi mencapai 75%. Artinya, kelelahan tidak selalu disebabkan oleh banyaknya kegiatan, tapi oleh cara kegiatan itu dikelola dan sejauh mana sistem mendukung efisiensi kerja mereka.
Masalah utamanya bukan banyaknya aktivitas, melainkan pola kerja yang tidak tertata. Di banyak organisasi mahasiswa, setiap kegiatan sering berjalan sendiri tanpa keterhubungan yang jelas. Hasilnya, banyak waktu habis hanya untuk mengulang hal yang sama—menyusun ulang laporan, mencari data yang tercecer, atau membahas ulang keputusan yang belum terdokumentasi. Akhirnya, semangat berkontribusi malah tergantikan dengan rasa jenuh dan kehilangan arah.
Padahal, efisiensi bukan berarti memangkas kegiatan, tetapi menata ulang cara kerja agar lebih sinkron dan terarah. Bayangkan kalau sistem kerja di organisasi mahasiswa bisa lebih terstruktur: setiap agenda terdokumentasi otomatis, laporan terintegrasi, dan tindak lanjut bisa dipantau bersama. Semua anggota bisa fokus pada ide dan strategi, bukan hanya urusan teknis.
Kunci efisiensi ini bukan semata pada kecepatan, tapi pada kejelasan. Mahasiswa tidak butuh tambahan beban, melainkan cara kerja yang membantu mereka berpikir lebih dalam dan produktif. Seperti disampaikan oleh Alwy Herfian, CEO Widya Wicara:
“Teknologi seharusnya membantu manusia berpikir lebih dalam, bukan bekerja lebih cepat tanpa arah.”
Dalam konteks ini, teknologi seperti Transkripsi.id menjadi contoh nyata bagaimana inovasi bisa meringankan kerja administratif mahasiswa. Pencatatan rapat, pembuatan laporan, hingga dokumentasi bisa dilakukan otomatis. Hasilnya, energi mahasiswa bisa dialihkan ke hal yang lebih strategis—membangun program yang berdampak nyata, bukan sekadar menyelesaikan tumpukan tugas.
Organisasi mahasiswa seharusnya menjadi ruang belajar kolaboratif, bukan sumber kelelahan kolektif. Di tengah semangat kontribusi, kita perlu mulai bicara tentang ritme kerja yang berkelanjutan. Kita tidak perlu bekerja lebih keras untuk terlihat sibuk, tetapi bekerja lebih cerdas agar bisa berpikir jernih dan melangkah jauh.
Mahasiswa bukan hanya pelaksana kegiatan, tapi juga calon pemimpin masa depan. Dan masa depan itu tidak dibangun dari kelelahan tanpa arah, melainkan dari cara kerja yang efisien, sehat, dan terorganisasi. Karena sejatinya, kontribusi yang berdampak lahir bukan dari semangat yang terus dipaksa menyala, tapi dari sistem yang memberi ruang untuk berpikir dan tumbuh bersama.
Baca Juga
-
Kerja Sosial: Saat Negara Mulai Kapok Memenjarakan Semua Orang
-
Antara Jurnal Scopus dan Kerokan: Membedah Pluralisme Medis di Indonesia
-
Berdamai dengan Keresahan, Cara Menerima Diri Tanpa Perlu Jadi Motivator Karbitan
-
Mens Rea Pandji Pragiwaksono dan KUHP Baru: Ketika Tawa Lebih Jujur dari Hukum
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
Artikel Terkait
-
Kasus Penggelapan, Duit Fuji Diduga Ditilep Admin Lebih dari Rp1 Miliar
-
Aksi Nyata Sobat Bumi UNY, Wujud Kepedulian Mahasiswa untuk Desa dan Alam
-
Maluku Harmoni Alam, Laut, dan Budaya yang Memikat Dunia
-
Lupakan IPK! Rekrutmen Berbasis Skill Jadi Tren, Begini Cara Platform Ini Membantu
-
Niat Bantu Teman, Malah Diteror Pinjol: Kisah Mahasiswa Jogja Jadi Korban Kepercayaan
Kolom
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial
-
Prilly Latuconsina Pasang 'Open to Work' di LinkedIn: Gimmick Marketing yang Nirempati?
-
Tergerusnya Otoritas Guru dan Kekerasan yang Mengintai Sekolah
-
Guru di Ujung Laporan: Mengapa Mediasi Kini Kalah oleh Jalur Hukum?
-
Banjir yang Tak Pernah Usai: Kota, Beton, dan Kekalahan Berulang
Terkini
-
Dihubungi John Herdman, Peluang Tampil Sandy Walsh di Timnas Kian Besar?
-
Kejujuran yang Diadili: Membaca Absurditas dalam 'Orang Asing' karya Albert Camus
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Veda Ega Pratama Debut Moto3: Seberapa Besar Peluangnya Melaju di MotoGP?
-
Kejamnya Label Sosial Tanpa Pandang Umur di Novel 'Dia yang Haram'