Hujan deras baru saja reda, tapi sayangnya genangan air masih terlihat di halaman rumah bahkan di jalanan. Kini, jalan depan berubah menjadi kolam dadakan. Padahal kalau dulu, setelah hujan turun tanah langsung menyerap air dengan mudah.
Tapi anehnya kini harus menunggu beberapa jam dulu, baru genangan itu hilang dengan sendirinya. Sadar atau tidak, sebenarnya itu pertanda kalau tanah sudah mulai tidak gembur lagi atau bahkan lebih padat.
Kalau dibiarkan seperti itu, bukan hal yang mustahil hujan berikutnya akan mendatangkan banjir.
Di tengah keresahan akan bencana itu, ada satu solusi sederhana yang mungkin selama ini luput dari perhatian masyarakat. Sebuah lubang kecil bernama biopori, yang diam-diam bisa membuat tanah kembali mendapatkan kegemburannya dan membantu air meresap lebih cepat.
Lubang sederhana ini tak membutuhkan biaya mahal atau teknologi rumit, tetapi dampaknya bisa terasa nyata bagi lingkungan sekitar jika diterapkan bersama-sama oleh warga sekitar
Biopori: Lubang Kecil, Penyelamat Saat Banjir
Biopori sebenarnya adalah lubang kecil yang dibuat di tanah untuk membantu air hujan meresap ke dalam tanah. Lubang ini dibuat secara vertikal biasanya dengan diameter sekitar 10–15 cm dan kedalaman hampir satu meter, lalu diisi dengan sampah organik supaya organisme tanah ikut bekerja memperluas ruang pori di dalamnya. Dengan begitu tanah tidak hanya menyimpan air di permukaan, tetapi juga “menabung” air lebih banyak yang kemudian bisa jadi cadangan air tanah.
Kalau dipikir secara sederhana, lubang sekecil ini ternyata bisa jadi penyelamat kecil setiap musim hujan. Saat hujan turun deras, air tidak hanya mengalir dan menumpuk di jalanan atau halaman, tetapi ikut masuk ke dalam lubang biopori dan langsung diserap tanah.
Bayangkan jika kita membuat banyak lubang biopori secara serempak, daya serap tanah jadi lebih luas sehingga mampu menyerap air lebih banyak. Dengan cara ini bisa membantu mengurangi genangan yang bisa memicu banjir di lingkungan sekitar.
Sulap Sampah Dapur Jadi "Emas Hitam" Nutrisi Bagi Tanaman
Ternyata, selain bisa menampung air hujan, lubang biopori juga bisa digunakan sebagai tempat pembuangan sampah organik.
Ketika kita memasukkan sampah dapur atau daun-daun kering ke dalam lubang itu, tanah di dalamnya akan mengundang hewan tanah seperti cacing, semut, dan mikroorganisme pengurai lainnya untuk bekerja memecah bahan-bahan tersebut menjadi kompos alami yang sering disebut sebagai “emas hitam” karena nilai nutrisinya bagi tanah dan tanaman.
Prosesnya cukup sederhana dan tidak memerlukan banyak biaya. Setelah kamu menaruh sampah organik ke dalam lubang tersebut, hewan pengurai akan mengurai sampah secara perlahan menjadi humus yang kaya akan unsur hara.
Hasil kompos ini bisa langsung menyuburkan tanah di sekitar biopori atau diambil untuk digunakan sebagai pupuk di kebun dan pot tanaman lain di rumahmu. Dengan cara ini kamu telah ikut serta mengurangi sampah yang menumpuk dan sekaligus memperbaiki kualitas tanah dan lingkungan sekitar.
Mulai dari Rumah: Ubah Masalah Jadi Manfaat dengan Biopori
Terkadang kita berpikiran perlu adanya solusi besar untuk menangani masalah banjir dan genangan air. Padahal ada cara sederhana yang bisa kita praktikkan dan itu dimulai dari halaman rumah.
Dengan membuat beberapa lubang biopori, air hujan bisa lebih cepat meresap ke tanah sehingga genangan perlahan berkurang. Sampah dapur pun tidak lagi menumpuk sia-sia karena ternyata bisa diolah menjadi kompos yang menyuburkan tanaman.
Dari sini kita bisa belajar bahwa langkah kecil bisa membawa dampak besar bagi lingkungan sekitar, bahkan dimulai dari rumah sendiri.
Baca Juga
-
Beli Barang Masa Kecil Bukan Boros, Tapi Cara Sederhana Bahagiakan Inner Child
-
Katanya Slow Living Harus di Desa, Padahal di Kota Juga Bisa
-
Membaca Ulang Sejarah R.A. Kartini di Tengah Tren 'Unpopular Opinion'
-
Dilema Cancel Culture: Kenapa Sulit Membenci Publik Figur yang Bersalah?
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
Artikel Terkait
Kolom
-
Batas Tipis Antara Ramah dan Micro-Cheating: Kapan Kamu Harus Mulai Curiga ke Pasangan?
-
Gambut Bukan Sekadar Lahan Basah, Ia Penentu Masa Depan Karbon Dunia
-
Meritokrasi Sudah Mati, Kenali Fenomena 'Neo-Feodalisme' di Kantormu!
-
Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai
-
Ketika Data PISA Berbicara, Narasi Keberhasilan Pendidikan Dipertanyakan
Terkini
-
Rekor! Park Ji-hyun dan Hyper Knife Jadi Nominasi International Emmy Award
-
5 Toner untuk Kulit Berjerawat: Bantu Redakan Bruntusan dan Minyak Berlebih
-
Ulasan Berani Tidak Disukai: Belajar Jadi Diri Sendiri Tanpa Perlu Validasi
-
Diminta OTP dan Pasang APK Saat Melamar Kerja? Fix, Itu Loker Palsu!
-
Trailer Baru The Apothecary Diaries Season 3 Ungkap Lagu Penutup oleh Eve