Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja merilis data yang cukup bikin mengelus dada terkait hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat SD dan SMP sederajat tahun 2026. Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Rahmawati, memaparkan fakta pahit bahwa nilai rerata nasional untuk mata pelajaran Matematika berada di posisi paling buncit.
Bayangkan saja, Sobat Yoursay, nilai rerata Matematika anak SD kita cuma nangkring di angka 43,41, sementara untuk tingkat SMP malah makin meluncur ke bawah di angka 40,35. Kontras sekali jika dibandingkan dengan nilai Bahasa Indonesia yang masih berada di kepala enam. Angka-angka tiarap ini menjadi bukti yang menandakan bahwa ada sesuatu yang sedang berjalan sangat keliru dalam ekosistem pendidikan dasar kita saat ini.
Melihat kenyataan ini, respons pertama yang harus dilakukan oleh kementerian dan negara secara umum adalah melakukan introspeksi total, bukan malah sibuk mencari kambing hitam atau menyalahkan kemampuan anak didik.
Sobat Yoursay, kalau kita mau jujur mendengar jeritan hati para murid dan guru di lapangan, salah satu akar masalah utama adalah ketidaksinkronan antara materi yang diajarkan sehari-hari di ruang kelas dengan model soal yang diujikan dalam TKA.
Kurikulum kita belakangan ini sering kali dicap terlalu muluk-muluk, penuh dengan teori-teori metode baru yang membingungkan, namun gagal menanamkan konsep dasar logika berhitung dengan kuat. Ketika anak-anak diuji dengan standar asesmen nasional yang mendadak melompat jauh dari apa yang mereka pelajari secara konvensional, maka hasil hancur-hancuran seperti ini sebenarnya sudah sangat bisa diprediksi sejak awal.
Sudah saatnya negara menghentikan kebiasaan menjadikan dunia pendidikan sebagai kelinci percobaan proyek-proyek politik yang sifatnya seremonial. Sobat Yoursay, salah satu langkah konkret yang perlu dipertimbangkan kembali secara serius adalah mengembalikan sistem tinggal kelas dan Ujian Nasional (UN) sebagai standar kelulusan serta penegak kedisiplinan belajar.
Penghapusan sistem tinggal kelas dan UN dengan dalih mengurangi beban psikologis anak terbukti justru membuat iklim belajar menjadi terlalu santai dan kehilangan arah kompetisi yang sehat. Tanpa adanya indikator kelulusan yang tegas, motivasi siswa untuk menguasai materi sulit seperti Matematika menjadi luntur.
Kritik berikutnya tentu mengarah pada alokasi anggaran dan fokus program prioritas pemerintah saat ini. Di tengah kondisi di mana mutu akademik dasar anak-anak kita sedang sekarat, pemerintah justru terlihat sangat ambisius menggelontorkan dana raksasa untuk program-program sekunder seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Sobat Yoursay, mari kita berpikir rasional; memberi makan gratis memang niatnya baik, tetapi apa gunanya perut anak-anak kenyang jika otak mereka kelaparan akan ilmu dan fasilitas sekolah mereka hancur-hancuran? Alangkah jauh lebih bijak jika anggaran super besar itu distop atau dialihkan untuk membenahi masalah yang sudah bertahun-tahun terbengkalai, yaitu perbaikan sarana dan prasarana sekolah serta peningkatan kesejahteraan gaji guru honorer.
Sebagai ujung tombak pembenahan mutu literasi dan numerasi nasional, posisi guru honorer sangatlah penting. Oleh karena itu, menuntut mereka melahirkan lulusan berdaya saing global tanpa menyentuh perbaikan kesejahteraan hidup adalah sebuah ironi besar sekaligus bentuk eksploitasi sistemik oleh birokrasi.
Sobat Yoursay, kegagalan dalam nilai TKA Matematika tahun 2026 ini harus menjadi momentum titik balik bagi kementerian untuk kembali ke jalan yang benar. Hentikan proyek gonta-ganti istilah kurikulum yang hanya membingungkan para pendidik di daerah. Kembalikan esensi pendidikan pada penguatan karakter dasar, disiplin akademik, dan pemenuhan hak-hak dasar para guru serta fasilitas sekolah yang layak. Kita tidak butuh slogan-slogan tentang transformasi pendidikan digital jika kemampuan berhitung dasar anak-anak kita saja masih di bawah standar kelulusan minimum.
Bagaimana pandangan kalian, Sobat Yoursay? Apakah kalian setuju kalau sistem Ujian Nasional dan tinggal kelas dihidupkan lagi demi mendongkrak kembali semangat belajar anak-anak, atau kalian punya formula lain untuk menyelamatkan nilai Matematika kita yang sedang tiarap ini?
Baca Juga
-
Heboh Sensus Ekonomi 2026: Ditanya soal Gaji, Warga Parno Naik Pajak?
-
Dari Pahlawan Teknologi Jadi Terdakwa: Akhir Getir Perjalanan Nadiem
-
Disindir 'Takut Ya?', Hakim Kasus Nadiem Ngibrit Usai Ketuk Vonis 10 Tahun
-
Giliran Beli Rumah Disebut MBR, Giliran Bayar Pajak Dianggap Kaya Raya
-
Token Telat Diputus, tapi Listrik Mati Sesuka Hati Tanpa Pengumuman
Artikel Terkait
-
Jateng Panen Penghargaan Pendidikan 2026, Buah Kerja Keras Sepanjang 2025
-
Hasil TKA 2026 Sudah Diumumkan Hari Ini, Apakah Siswa Bisa Cek Nilai Sendiri?
-
Misteri Matematika 80 Tahun Terpecahkan! OpenAI Selesaikan Soal Geometri Paling Sulit di Dunia
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Kapan Pengumuman Hasil TKA SD dan SMP 2026? Simak Jadwalnya
Kolom
-
Membangun Optimisme Tanpa Membungkam: Kritik adalah Bagian Mandat Demokrasi
-
Koperasi Mendahului Aspal, Membedah Paradoks Desa Kelok Sunyi
-
Kritik kepada Pemerintah Bukan Berarti Sedang Mencari Pengganti Presiden
-
Fear of Falling Behind dan Gen Z: Semua Orang Terlihat Sukses, Aku Kapan?
-
Hujan Tidak Mengganggu Kerjamu, Hujan Justru Mengajakmu untuk Berhenti Sejenak
Terkini
-
Drama Human Vapor, Balas Dendam Manusia Gas Kepada Para Pelaku Bullying
-
Inggris vs Argentina: Bab Baru Rivalitas atau Pengulangan Sejarah Lama?
-
Membaca Catatan Harian Seorang Mafia Pajak: Antara Kebenaran yang Pahit dan Fiksi yang Terasa Nyata
-
Review Bobae Banjum: Creamy Jjamppong yang Wajib Dicoba Pecinta Makanan Korea
-
Review Film Dhamaal 4: Paket Lengkap Komedi Situasi yang Sangat Menghibur