Pernahkah kamu berpikir, mengapa perasaan cinta dalam bahasa dinyatakan dengan kata ‘jatuh’? Mengapa bukan kata ‘terbang’ atau ‘bangun’ yang lebih mampu menggambarkan suasana hati yang gembira dan bahagia? Padahal, kata ‘jatuh’ secara umum lebih identik dengan kekalahan dan penderitaan yang berkonotasi negatif, seperti pada ungkapan ‘jatuh miskin’, ‘jatuh sakit’, ‘jatuh pingsan’, ‘jatuh iman’, ‘jatuh semangat’, atau ‘jatuh bangkrut’.
Menariknya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hanya ada dua gabungan kata ‘jatuh’ yang bermakna positif dan menyenangkan, yaitu ‘jatuh cinta’ dan ‘jatuh hati’. ‘Jatuh cinta’ mendefinisikan kondisi saat seseorang mulai menaruh perasaan cinta kepada orang lain. Sementara itu, ‘jatuh hati’ memiliki nuansa yang sedikit berbeda, yakni menaruh simpati atau memelihara rasa empati dan belas kasihan.
Keunikan ini memperlihatkan betapa bijaknya bahasa dalam merekam hakikat emosi manusia. Diksi ‘jatuh’ bukan hanya dipilih secara kebetulan, melainkan karena cinta sama halnya juga dengan musibah, yaitu sebuah peristiwa yang kerap dialami di luar kendali dan kehendak pemikiran rasional kita. Seseorang tidak bisa merencanakan kapan atau kepada siapa ia akan jatuh cinta, sebab perasaan itu menyergap, merobohkan benteng pertahanan ego, dan membuat diri kita kehilangan kontrol.
Hilangnya Pijakan Logika dalam Metaphors We Live By
Salah satu konsep utama dalam buku Metaphors We Live By karya George Lakoff dan Mark Johnson menjelaskan bahwa ungkapan ‘jatuh cinta’ melibatkan pemetaan antara dua skema: domain sumber dan domain sasaran. Domain sumber merujuk pada peristiwa fisik jatuh—seperti gerakan ke bawah akibat gaya gravitasi, kehilangan pijakan, penurunan ketinggian, serta ketidakmampuan menahan beban. Sementara itu, domain sasaran adalah pengalaman emosional mencintai seseorang, yang mencakup kehilangan kendali rasional, munculnya ketertarikan yang tak tertahankan, dan kepasrahan emosional.
Dalam konteks ini, kata ‘jatuh’ dimaknai sebagai respons seketika yang membuat seseorang tak berdaya mengontrol diri akibat rasa terpesona yang memuncak. Hal ini diibaratkan seolah-olah kita lupa cara berpijak di bumi, padahal kemampuan itu telah kita miliki sejak dini. Sementara itu, kata ‘cinta’ diartikan sebagai momen ketika seseorang seakan lupa berpikir menggunakan logika dan akal sehat. Alhasil, banyak orang yang sedang jatuh cinta umumnya tak mampu menjelaskan alasan pasti mengapa mereka mencintai pasangannya.
Cinta di Luar Kuasa dalam Lagu "Dunia yang Nanti"
Penggambaran makna ‘jatuh cinta’ ini juga tersirat dalam penggalan lirik lagu "Dunia yang Nanti" karya Raim Laode berikut:
“Itulah kenapa jatuh cinta dikatakan jatuh, karena sebagaimana kita jatuh, kita tidak punya kuasa, pilih jatuh pada hati yang mana?”
Secara sederhana, lagu ini menggambarkan bahwa perasaan jatuh cinta bisa hadir di waktu yang tidak terduga, bahkan ketika kedua belah pihak sudah memiliki pasangan masing-masing. Kata ‘jatuh’ dalam lagu ini diumpamakan sebagai proses yang tidak bisa direncanakan atau ditahan—sesuatu yang benar-benar terjadi di luar kendali manusia.
Ketertarikan pada orang lain bisa terjadi pada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja—bahkan kepada lebih dari satu orang—tanpa kita sadari sebelumnya. Meski begitu, jatuh cinta hanyalah sebuah perasaan. Ibarat terjatuh, kita baru menyadarinya setelah terjadi, lalu berpikir tentang apa yang harus dilakukan agar tidak tersandung lagi.
Puncak Kepasrahan dan Sirnanya Ego dalam Puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
Proses awan yang luruh menjadi hujan dalam larik puisi ini adalah bentuk ‘jatuh’ yang lain, yakni sebuah kepasrahan di mana entitas asal merelakan dirinya hancur atau berubah wujud demi menyatu dengan sesuatu yang lebih besar. Artinya, cinta yang sederhana bukanlah tentang kepemilikan atau keramaian kata, melainkan puncak ketulusan dan pengorbanan yang paling sunyi.
Dengan demikian, meski kata ‘jatuh’ kerap diidentikkan dengan kekalahan atau musibah, dalam konteks asmara ia justru menjadi sebuah bentuk ketundukan yang indah di saat manusia melepaskan kesombongan logikanya demi merayakan ketulusan yang sejati.
Baca Juga
-
Viral Gula Disulut Sendok Panas Semburkan Api, Benarkah Mirip Bensin? Ini Penjelasan Sainsnya
-
Ironi Makan Bergizi Gratis: Mengapa Daerah 3T Masih Dianaktirikan?
-
Desain AI Kian Seragam dan Kaku, Apakah Estetika Visual Kita Sedang Krisis?
-
Angkot Biru Favoritku
-
Ibadah Menjadi WNI: Mengapa Menertawakan Keadaan Jadi Tameng Terakhir Kita?
Artikel Terkait
-
The Fault in Our Stars: Perjalanan Cinta Hazel dan Gus di Tengah Perjuangan Melawan Kanker
-
Ketika Dunia Digital Mengubah Cara Jatuh Cinta Generasi Muda
-
Ghosting, Breadcrumbing, dan Situationship: Bahasa Baru dalam Dunia Asmara
-
Bukan Sekadar Anak Kiai, Indah Permatasari Ungkap Sisi Pemberontak di Film Ibadah dan Cinta
-
Beri Kail Bukan Ikan: Inspirasi Cinta Laura Biayai Kuliah Asisten Pribadinya
Kolom
-
Teknologi bagi Siswa: Membantu Belajar atau Membuat Malas?
-
Jebakan Scrolling: Saat Media Sosial Mengambil Ruang bagi Kreativitas Kita
-
Trauma Masa Kecil: Luka yang Berawal dari Hal-hal yang Dianggap Sepele
-
Dari Boros ke Bijak: Tren Financial Glow Up yang Jadi Gaya Hidup Baru Gen Z
-
Ketika Dunia Digital Mengubah Cara Jatuh Cinta Generasi Muda
Terkini
-
The Fault in Our Stars: Perjalanan Cinta Hazel dan Gus di Tengah Perjuangan Melawan Kanker
-
Sakit Ibu
-
Review Film Ip Man: Kung Fu Legend, Keadilan Ditegakkan Lewat Wing Chun!
-
IU Tunda Konser dan Perilisan Album Baru, Imbas Kondisi Kesehatan Memburuk
-
Review Ghost Buzzer: Horor Keluarga yang Nyaris Punah di Indonesia