Di pesisir Bali Utara, tepatnya di Desa Les, Buleleng, denyut ekonomi masyarakat tak lagi hanya bergantung pada alam. Kini, ada kolaborasi yang diam-diam mengubah wajah desa mengangkat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dari sekadar bertahan menjadi berkembang.
Salah satu motor penggeraknya adalah Nyoman Nadiana, tokoh lokal yang aktif mendorong penguatan UMKM berbasis potensi desa, terutama produksi garam tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.
Perubahan kemudian makin terasa sejak masuknya dukungan dari sektor korporasi.
Dari Tradisi ke Produktivitas
Selama ini, garam Desa Les dikenal karena proses pembuatannya yang unik tidak langsung dari air laut, tetapi melalui media tanah yang memperkaya kandungan mineralnya. Proses ini menjadikan garam Desa Les memiliki karakter berbeda dibanding garam biasa.
Namun di balik keunikan itu, ada tantangan besar yaitu produktivitas.
"Sekarang kita mulai menggunakan membran, karena lebih praktis. Kalau tiba-tiba hujan, produksi masih bisa diselamatkan," kata Nyoman Nadiana pada Yoursay, Kamis (6/8/2026).
Perubahan kecil seperti ini menjadi kunci. Membran membantu petani garam meningkatkan efisiensi, terutama di tengah cuaca yang semakin tidak menentu.
Peran Korporasi: Lebih dari Sekadar Bantuan
Masuknya perusahaan seperti Astra melalui program Desa Sejahtera Astra menjadi momen penting bagi Desa Les.
Program ini tidak hanya fokus pada ekonomi, tetapi juga mencakup empat pilar utama: pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Sejak bergabung pada 2024, dampaknya mulai terasa nyata:
- Pendapatan masyarakat meningkat hingga sekitar 25%
- Produk lokal semakin terserap pasar
- Puluhan lapangan kerja baru tercipta.
"Ada mesin pengupas kelapa, traktor mini, sampai kendaraan roda tiga untuk pengelolaan sampah. Itu sangat membantu," ujar Nyoman menjelaskan bantuan apa saja yang sampai ke Desa Les.
Efek Tidak Langsung: Wisata dan Eksposur
Selain bantuan alat, dampak lain yang tak kalah penting adalah eksposur. Perusahaan yang masuk ke Desa Les sering mengadakan kegiatan seperti gathering, lomba, atau event internal. Aktivitas ini membawa arus kunjungan baru yang langsung berdampak pada UMKM lokal, mulai dari kuliner hingga produk olahan.
Dukungan promosi juga dilakukan melalui produksi konten dan dokumentasi desa yang membantu memperluas jangkauan pasar Desa Les ke tingkat nasional bahkan internasional.
UMKM sebagai Tulang Punggung Desa Wisata
Desa Les kini berkembang sebagai desa wisata berbasis masyarakat. Artinya, setiap aktivitas ekonomi, termasuk UMKM, menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga:
- Mencicipi produk lokal
- Belajar proses pembuatan garam
- Berinteraksi langsung dengan pelaku usaha.
Pendekatan ini membuat UMKM tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual pengalaman.
Artikel Terkait
-
Desa Les: Fondasi Kolaboratif bagi Ketahanan Desa Berkelanjutan
-
Desa Sejahtera Astra Les Bali: Garam, Laut, dan Masa Depan Berkelanjutan
-
Kewirausahaan Menjadi Napas Kemiren: Desa Budaya Menjadi Inspirasi Dunia
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
-
Rahasia Garam Desa Les: Mineral Alami dari Tanah Beda dari Garam Biasa
Kolom
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Ketika Estetika Membuat Barang Kehilangan Umur Pakainya
-
Bisingnya Knalpot RX King: Mempertanyakan Ulang 'Hak Atas Kota' Warga Jogja
-
Demi Korban atau Selamatkan Muka? Menelanjangi Borok Penanganan Kasus di SMAN 1 Sentolo
-
Demo Mahasiswa UINSA: Tuntut Transparansi Rektorat Tanpa Harus Merugikan Rekan Sendiri
Terkini
-
Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual
-
Bye Jerawat Meradang! 4 Hybrid Sunscreen Heartleaf Kontrol Produksi Sebum
-
Heboh Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby: Ketika Selisih Usia Jadi Cermin Standar Ganda Kita
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis