Ada satu hal yang mungkin secara diam-diam sangat dirindukan oleh banyak orang Gen Z dan Milenial, yaitu masa-masa bermain tanpa ada koneksi internet.
Cukup keluar rumah, panggil teman yang ada di depan pagar, dan permainan langsung dimulai. Tidak perlu membuat grup di WhatsApp, menentukan lokasi menggunakan Google Maps, atau menghabiskan waktu hanya untuk bingung memilih permainan yang akan dimainkan.
Ada permainan seperti bentengan di halaman, petak umpet sebelum matahari terbenam, mengumpulkan Tazos dari kemasan camilan, serta bermain gasing Beyblade sambil tertawa girang. Semuanya mudah, tapi entah mengapa, hal-hal itu membuat kesan yang terasa dalam.
Perubahan di zaman ini membuat cara anak-anak bermain semakin berubah. Generasi muda sekarang semakin dekat dengan ponsel cerdas, permainan online, dan dunia virtual. Sementara itu, generasi Gen Z dan Milenial memiliki posisi khusus karena telah melewati proses peralihan dari bermain permainan fisik ke permainan digital. Generasi Milenial pernah mengalami peralihan dari bermain mainan fisik ke berbagai permainan digital, sedangkan Gen Z tumbuh di zaman di mana internet dan teknologi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun, beberapa permainan lama masih memiliki kenangan istimewa dalam pikiran banyak orang. Bahkan, beberapa game yang dulu terlupakan kini kembali muncul.
Lantas, game mana saja yang kemungkinan besar akan membuat Generasi Z dan Milenial langsung teringat, "Wah, dulu aku pernah main ini!"?
1. Bentengan: Cukup Menggunakan Tiang dan Berlari Cepat Saja
Sebelum permainan antar banyak pemain (multiplayer) ada, anak-anak sudah mengenal konsep bermain dalam tim melalui permainan Bentengan.
Permainan ini menggabungkan dua tim yang saling berlawanan, di mana setiap tim memiliki sebuah "benteng". Benteng tidak selalu harus berupa bangunan nyata; pohon, tiang, atau benda tertentu lainnya bisa jadi tempat bersembunyi, asalkan disepakati oleh para pemain.
Tujuan setiap tim adalah mempertahankan benteng mereka sendiri sekaligus berusaha mengambil benteng lawan. Para pemain perlu berlari dengan cepat, menghindari pemain lawan yang mengejar, menyentuh atau menangkap anggota tim lawan, serta membantu teman satu tim yang sudah tertangkap untuk lepas dari penjara.
Keseruannya tidak hanya karena kecepatan lari saja. Pemain juga perlu menentukan kapan harus menyerang, kapan harus mundur, dan siapa yang bertugas menjaga pertahanan.
Tidak aneh jika Bentengan disebut bisa melatih kecepatan, kelincahan, kerja sama dalam tim, serta kemampuan berpikir strategis. Penelitian tentang permainan ini juga menunjukkan bahwa Bentengan adalah cara yang baik untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama anak-anak.
Hal yang menarik adalah permainan seperti ini mendorong interaksi tatap muka yang nyata. Tidak ada tombol undang teman; untuk bermain, Anda harus keluar rumah lalu mengajak teman-teman sendiri.
2. Pokémon Tazos: Koleksi Kecil yang Menggugah Nafsu Membeli Camilan
Bagi sebagian generasi Z dan milenial, kemasan camilan tidak hanya berisi makanan saja; ada sesuatu yang bernilai tinggi yang menunggu di dalamnya.
Benda itu bernama Tazos.
Pokemon Tazos dulu menjadi barang koleksi yang banyak diminati di Indonesia, tersedia dalam berbagai merek camilan seperti Chiki, Cheetos, dan JetZ. Benda ini berbentuk cakram yang ada gambarnya karakter Pokémon, bisa dikumpulkan, dan digunakan untuk bermain.
Mendapatkan Tazo tertentu terasa seperti menang dalam undian kecil.
Sudah punya Pikachu? Kamu pasti akan mencari yang lain. Dapat duplikat? Kamu akan menukarnya dengan teman. Jika teman kamu punya cakram langka yang belum kamu punya, maka proses tukar-menukar mulai berjalan.
Di situlah letak keseruannya. Tazos bukan hanya mainan kecil dengan gambar tokoh favorit; barang ini juga turut serta dalam cara anak-anak berinteraksi sosial di masa itu.
Bahkan hingga saat ini, rasa rindu terhadap Pokémon Tazos masih terasa. Koleksi Tazo edisi Indonesia dari awal tahun 2000-an masih sering dibicarakan oleh para kolektor dan penggemar nostalgia.
3. Beyblade: Membawa Permainan Gasing ke Tingkat Berikutnya
Mendengar seruan "Let it rip!" mungkin langsung mengingatkan kenangan masa kecil bagi orang-orang yang lahir di era 2000-an.
Beyblade mengambil ide dari permainan gasing tradisional, tetapi dilengkapi dengan karakter-karakter yang dirancang, bagian-bagian yang bisa diubah, tempat bermain khusus, serta sistem bertarung antar pemain.
Cara memainkannya mudah: pasang Beyblade ke peluncur, tarik taliannya, kemudian lepaskan ke dalam arena. Dua atau lebih Beyblade kemudian akan saling bertanding hingga salah satunya berhenti berputar.
Yang membuat permainan ini tidak hanya bergantung pada keberuntungan adalah strategi; pemain bisa memilih komponen tertentu dan menyesuaikan cara bermainnya agar bisa mengalahkan lawan.
Belakangan ini, Beyblade kembali menarik perhatian. Berbagai laporan menunjukkan bahwa permainan ini kembali populer, sebagian karena perasaan nostalgia dari generasi yang lahir di awal tahun 2000-an. Peluncuran Beyblade X yang menghadirkan mekanisme permainan yang lebih cepat juga membawa kembali permainan ini kepada generasi muda.
Jadi, dengan kembalinya Beyblade, para penggemarnya tidak hanya anak-anak saja; orang dewasa yang dulu pernah memainkannya juga ikut merasakan kenangan indah tersebut.
4. Tamiya: Lebih dari Sekadar Balapan—Sebuah Uji Kreativitas
Sebelum permainan balap dengan grafik realistis membuat layar kita terisi, dulu anak-anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merakit mobil-mobilan kecil.
Tamiya adalah salah satu mainan yang sangat dicintai dan mengiringi masa kecil banyak generasi Milenial serta Gen Z. Mobil-mobil ini tidak hanya dibeli lalu langsung digunakan; pengalamannya melibatkan proses perakitan, mulai dari memasang bagian-bagian, memilih komponen tertentu, hingga akhirnya menguji seberapa cepat mobil itu bisa berjalan di lintasan.
Hal yang menarik adalah hobi ini bisa dilakukan bersama-sama dengan mudah. Anak-anak bisa membuat lintasan sendiri, mengadakan lomba balapan kecil, dan membandingkan modifikasi khusus pada mobil masing-masing. Hobi ini tidak hanya untuk anak laki-laki saja; siapa pun bisa ikut menikmatinya dan memodifikasi mobil sesuai dengan selera masing-masing.
Ada rasa senang tersendiri ketika mobil yang kamu bangun sendiri akhirnya menyeberangi garis akhir dengan posisi terdepan.
5. Petak Umpet: Permainan yang Selalu Memiliki Pemain Baru.
Jika ada satu permainan yang hampir tidak membutuhkan biaya sama sekali, jawabannya adalah petak umpet.
Tidak perlu membeli mainan atau membawa gawai. Anda juga bisa menggunakan lingkungan sekitar sebagai tempat bermain.
Satu orang bertugas sebagai pencari yang menghitung mundur, sedangkan pemain lainnya mencari tempat untuk bersembunyi. Begitu hitungan selesai, pencarian pun dimulai.
Sederhana? Sangat.
Membosankan? Sama sekali tidak.
Pemain bisa bersembunyi di belakang pintu, di samping rumah, atau di belakang pohon, biasanya memilih lokasi yang mereka rasa tidak mungkin untuk ditemukan. Setiap ronde menghadirkan strategi baru dalam permainan.
Permainan semacam ini menunjukkan bahwa kesenangan saat masa kecil tidak harus memerlukan mainan yang harganya mahal.
Dari Permainan di Gang hingga Layar Digital: Cara Kita Bermain Telah Berubah.
Jika kita kembali mengingat permainan dari masa kecil berbagai generasi, perubahan yang terjadi sangat jelas.
Generasi dulu berkembang dengan bermain permainan tradisional seperti kelereng, congklak, lompat tali, dan layang-layang. Generasi berikutnya mulai mengenal Atari, permainan elektronik yang bisa dipegang, Kubus Rubik, serta mobil Tamiya. Lalu muncul generasi Milenial yang biasa bermain Tamagotchi, Game Boy, PlayStation, dan Beyblade. Sementara itu, Generasi Z tumbuh dengan kombinasi antara mainan nyata dan dunia maya, mulai dari Minecraft dan Roblox hingga permainan kartu koleksi.
Artinya permainan tidak benar-benar pergi; hanya berubah bentuknya sesuai dengan kemajuan zaman.
Dulunya, bermain dengan teman harusnya dilakukan di luar rumah.
Sekarang, teman-teman mungkin berada di kota yang berbeda—atau bahkan di negara yang berbeda—tapi tetap bisa bermain bersama di server yang sama.
Dulunya, kalah dalam permainan berarti pulang dengan wajah sedih.
Sekarang, jika kamu kalah, kamu bisa langsung mengulang permainan dengan mengklik tombol "tanding ulang" (rematch).
Namun, ada satu hal dalam permainan lama yang sulit dibuat sepenuhnya oleh layar digital: kenangan yang terbentuk saat bermain secara langsung bersama orang lain.
Mungkin itulah sebabnya permainan seperti bentengan, Tazos, Tamiya, dan Beyblade masih sangat berharga di hati orang-orang yang dulu pernah memainkannya.
Karena tidak hanya mainannya saja yang kita rindukan.
Kita merindukan suara teman yang memanggil dari depan rumah, sore yang panjang, perdebatan tentang giliran bermain, teriakan girang saat menang, serta perjalanan pulang ketika langit mulai gelap.
Masa kecil tak mungkin terulang kembali.
Namun, menariknya, terkadang dengan hanya menyebut nama permainannya saja, kita langsung teringat lagi masa-masa itu.
Baca Juga
-
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong
-
Susah Baca Resep Dokter? Sekarang AI Bisa Menerjemahkannya dalam Hitungkan Detik!
-
Masih Pentingkah Mahasiswa Punya LinkedIn di Era AI?
-
Mengenal Fenomena 'Deskilling': Benarkah AI Perlahan Menurunkan Keterampilan Berpikir Manusia?
-
Sering Kita Lakukan, 7 Hal Sederhana Ini Ternyata Ciri Khas Orang Indonesia Asli
Artikel Terkait
-
Guns N' Roses Kembali ke Jakarta dan Kenangan Masa Remaja Saya
-
The Dragon Republic: Dari Pejuang Menjadi Bidak dalam Permainan Kekuasaan
-
Diskon Khusus 17 Agustus di Kopi Kenangan, Nasabah BRI Merapat!
-
Bersenang-senang di Fun Expo Asia 2026
-
Eternal Sunshine of the Spotless Mind: Saat Kenangan Tak Bisa Sepenuhnya Hilang
Kolom
-
Perempuan dan Tren Solo Traveling yang Semakin Populer, Apa yang Dicari?
-
Kebakaran Hutan Kalimantan: Ketika Kemarau Terus Dijadikan Kambing Hitam
-
Budaya Romantisasi Kemiskinan: Toxic Positivity yang Mengabaikan Realita
-
Politik di Ruang Pengasuhan: Kecemasan Membesarkan Anak di Negeri Sendiri
-
Suara Rakyat Lima Tahun Sekali, setelah Itu Siapa yang Berkuasa?
Terkini
-
Agnez Mo Raih Posisi 6 IMDb STARmeter Berkat Perankan Lila Hoth
-
Luna Casano Cover Lagu Negoro Angin: Versi Global, Rasa Hati Tetap Lokal
-
Metamorfosis: Menilik Proses Gregor Samsa 'Menghilang' dari Dunia
-
Jika 1984 Adalah Dunia yang Dikendalikan, Lalu Apa Itu Dunia dalam IQ84?
-
Bebas Jerawat! 5 Acne Spot Treatment Korea yang Bikin Jerawat Cepat Kering