Niat awalnya hanya scroll media sosial sebentar di waktu luang, tapi timeline malah dipenuhi berita-berita buruk? Bencana, konflik, masalah sosial, hingga berbagai kabar yang membuat kita marah atau cemas bisa datang hampir tanpa jeda.
Di tengah kondisi seperti ini, prinsip stoikisme untuk mengendalikan diri tidak salah untuk diterapkan. Lalu, apakah dengan stoikisme kita otomatis abai dengan apa yang sedang terjadi? Dan bagaimana penerapan stoikisme untuk ketenangan diri tanpa menutup mata dengan apa yang terjadi?
Batasi Hal yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan
Prinsip utama dalam stoikisme adalah dikotomi kendali di mana kita harus paham batas antara situasi yang bisa dan tidak bisa kita kontrol. Berita buruk, tindakan orang lain, keputusan pemerintah, hingga bencana merupakan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Sebaliknya, respons, sikap, dan tindakan kita sendiri masih bisa dipilih.
Dengan memahami batas tersebut, kita tidak perlu terus menghabiskan energi untuk memikirkan sesuatu yang memang tidak dapat kita ubah. Namun, ini bukan berarti kita harus selalu menyetujui atas apa yang terjadi. Kita masih bisa merespons dengan empati, seperti memvalidasi perasaan orang-orang yang terdampak atau ikut menyuarakan dukungan untuk mereka.
Bedakan Antara Fakta dan Asumsi
Sangat wajar apabila berita buruk bisa menimbulkan perasaan kurang nyaman, seperti takut, cemas, marah, atau tegang. Stoikisme juga tidak berarti harus emotionless saat memproses keadaan. Justru, kita bisa memberi jeda untuk memahami emosi yang muncul sebelum langsung bereaksi.
Saat membaca berita yang memancing amarah, coba bedakan antara fakta yang benar-benar terjadi dan asumsi yang muncul dalam pikiran kita. Misalnya, ketika membaca berita tentang suatu bencana, fakta bisa berupa jumlah wilayah yang terdampak atau kondisi korban, sedangkan anggapan seperti “semuanya pasti akan semakin buruk” merupakan asumsi. Dengan membedakan keduanya, kita bisa merespons berdasarkan informasi yang ada tanpa membiarkan kekhawatiran mengambil alih.
Alihkan Pikiran yang Mengganggu dengan Tindakan Nyata
Daripada terus memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali, kita bisa mengalihkan perhatian pada tindakan yang masih bisa dilakukan. Tidak harus turun langsung ke lapangan untuk bertemu dengan korban terdampak atau berdonasi, membantu menyebarkan informasi faktual terpercaya juga sudah termasuk bentuk kepedulian.
Jika kita terus membaca berita yang sama, membayangkan berbagai kemungkinan buruk, dan merasa bersalah karena tidak bisa berbuat lebih banyak, mungkin yang bekerja bukan lagi kepedulian, melainkan kecemasan. Fokus pada hal yang bisa dilakukan membuat kepedulian kita lebih nyata, tanpa harus terus dibebani rasa khawatir.
Dari sini, kita bisa melihat kalau menerapkan stoikisme saat menerima banyak bad news tidak selalu benar-benar lepas dari kenyataan. Kita masih bisa tetap peduli dan berempati atas kejadian buruk yang menimpa orang lain. Namun, tidak semua yang terjadi harus selalu dalam pikiran kita. Realita mungkin tidak bisa kita ubah, tapi cara berpikir dan respons masih berada di tangan kita.
Baca Juga
-
Jangan Keliru Lagi! Ini 5 Perbedaan Mencolok Sushi dan Kimbap yang Sering Bikin Tertukar
-
Sisi Lain Anne of Green Gables: Benarkah Dunia Anne Tak Ramah Perempuan?
-
5 Dessert Unik dari Kimpul ala Ibu Tin, Ada Boba hingga Dubai Chewy Cookie!
-
Ajo Kawir Ingin Terlihat Jantan atau Malah Terjebak Toxic Masculinity?
-
Sense and Sensibility: Kenapa Perempuan Abad 19 Cuma Fokus pada Pernikahan?
Artikel Terkait
-
Berita Buruk Bukan Sekadar Kabar: Di Balik Layar Ada Orang yang Menderita
-
Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
-
Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?
-
Tips Menyikapi Berita Buruk Menurut Psikolog agar Tetap Tenang dan Gak Panik
-
Memahami Privilege Blindness di Tengah Krisis dan Berita Buruk
Lifestyle
-
4 Moisturizer Korea Birch Sap Jaga Kelembapan Kulit untuk Skin Barrier Kuat
-
Jangan Keliru Lagi! Ini 5 Perbedaan Mencolok Sushi dan Kimbap yang Sering Bikin Tertukar
-
5 Pilihan Sunscreen Korea Antioksidan untuk Kulit Glowing dan Terlindungi
-
5 Dessert Unik dari Kimpul ala Ibu Tin, Ada Boba hingga Dubai Chewy Cookie!
-
Health Capital Theory: Saat Gen Z Berhenti Menilai Status Sosial dari Nongkrong di Kafe
Terkini
-
Soto Mbak Mar Andalan Warga Nganjuk, Pencinta Kuliner Jawa Timur Merapat!
-
Fenomena Hujatan Massal di Medsos: Kenapa Orang Lebih Berani Jahat di Kolom Komentar?
-
Sinopsis 3mm Love, Film Korea-Jepang Dibintangi Kim Ji An dan Kurokawa Soya
-
Belajar Berdamai dengan Kehilangan Melalui Lagu Untuk yang Bersama Nya
-
Review The Stunt Driver: Kisah Nyata Luar Biasa, tapi Filmnya Biasa Saja