Hayuning Ratri Hapsari | Ken Hitana
Ilustrasi Koran (unsplash/John Cardamone)
Ken Hitana

Niat awalnya hanya scroll media sosial sebentar di waktu luang, tapi timeline malah dipenuhi berita-berita buruk? Bencana, konflik, masalah sosial, hingga berbagai kabar yang membuat kita marah atau cemas bisa datang hampir tanpa jeda.

Di tengah kondisi seperti ini, prinsip stoikisme untuk mengendalikan diri tidak salah untuk diterapkan. Lalu, apakah dengan stoikisme kita otomatis abai dengan apa yang sedang terjadi? Dan bagaimana penerapan stoikisme untuk ketenangan diri tanpa menutup mata dengan apa yang terjadi?

Batasi Hal yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan

Ilustrasi Memegang Mug (unsplash/Nathan Dumlao)

Prinsip utama dalam stoikisme adalah dikotomi kendali di mana kita harus paham batas antara situasi yang bisa dan tidak bisa kita kontrol. Berita buruk, tindakan orang lain, keputusan pemerintah, hingga bencana merupakan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Sebaliknya, respons, sikap, dan tindakan kita sendiri masih bisa dipilih.

Dengan memahami batas tersebut, kita tidak perlu terus menghabiskan energi untuk memikirkan sesuatu yang memang tidak dapat kita ubah. Namun, ini bukan berarti kita harus selalu menyetujui atas apa yang terjadi. Kita masih bisa merespons dengan empati, seperti memvalidasi perasaan orang-orang yang terdampak atau ikut menyuarakan dukungan untuk mereka.

Bedakan Antara Fakta dan Asumsi

Ilustrasi Memegang Kepala (unsplash/Francis Ledger)

Sangat wajar apabila berita buruk bisa menimbulkan perasaan kurang nyaman, seperti takut, cemas, marah, atau tegang. Stoikisme juga tidak berarti harus emotionless saat memproses keadaan. Justru, kita bisa memberi jeda untuk memahami emosi yang muncul sebelum langsung bereaksi.

Saat membaca berita yang memancing amarah, coba bedakan antara fakta yang benar-benar terjadi dan asumsi yang muncul dalam pikiran kita. Misalnya, ketika membaca berita tentang suatu bencana, fakta bisa berupa jumlah wilayah yang terdampak atau kondisi korban, sedangkan anggapan seperti “semuanya pasti akan semakin buruk” merupakan asumsi. Dengan membedakan keduanya, kita bisa merespons berdasarkan informasi yang ada tanpa membiarkan kekhawatiran mengambil alih.

Alihkan Pikiran yang Mengganggu dengan Tindakan Nyata

Ilustrasi Memegang Tangan (unsplash/Hannah Busing)

Daripada terus memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali, kita bisa mengalihkan perhatian pada tindakan yang masih bisa dilakukan. Tidak harus turun langsung ke lapangan untuk bertemu dengan korban terdampak atau berdonasi, membantu menyebarkan informasi faktual terpercaya juga sudah termasuk bentuk kepedulian.

Jika kita terus membaca berita yang sama, membayangkan berbagai kemungkinan buruk, dan merasa bersalah karena tidak bisa berbuat lebih banyak, mungkin yang bekerja bukan lagi kepedulian, melainkan kecemasan. Fokus pada hal yang bisa dilakukan membuat kepedulian kita lebih nyata, tanpa harus terus dibebani rasa khawatir.

Dari sini, kita bisa melihat kalau menerapkan stoikisme saat menerima banyak bad news tidak selalu benar-benar lepas dari kenyataan. Kita masih bisa tetap peduli dan berempati atas kejadian buruk yang menimpa orang lain. Namun, tidak semua yang terjadi harus selalu dalam pikiran kita. Realita mungkin tidak bisa kita ubah, tapi cara berpikir dan respons masih berada di tangan kita.