Arah jarum jam tengah berdiri tegap.
Sosok potret yang terpajang di dinding menyapa dengan bahasa sukar.
Terdengar kedok suara ayam, menyambut rezeki di pagi hari.
Suara azan pun sudah lama meninggalkan jejaknya.
Mata masih bergurau dengan sendirinya.
Tubuh terlelap di kasur yang empuk.
Badan terasa berat, pikiran terus melayang-layang dalam mimpinya.
Pagiku telah datang lebih awal.
Sinar surya sedikit nampak secara perlahan.
Pohon-pohon terlihat hijau telah menyapa.
Kedok-kedok suara nyaring dari berbagai asal berlomba.
Ahh, apa-apan ini?
Ku mulailah melawan hal menyenangkan.
Bangkit melawan, menyambut yang lebih indah.
Aroma kopi memanggil, secarcik deretan pengganjal perut pun bergumam.
Semuanya telah menyapa.
Pagi yang cerah membawa kedamaian.
Arena pertarungan semuanya menyahut.
Hidup perlu perjuangan sejak dini, sejak di pagi hari, sejak dalam pikiran.
Baca Juga
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Cetak Rekor, Erling Haaland Kian dekat Raih Gelar Topskor
-
Prediksi Curacao vs Pantai Gading: Misi Panas Kedua Tim di Philadelphia
-
The Bodyguard From Beijing: Film Jet Li yang Bikin Masa Kecil Kita Berdebar-debar
-
Analisis Taktik Ekuador vs Jerman: Die Mannschaft Jaga Mental Juara
-
5 Serial Netflix Terbaik 2026 yang Wajib Masuk Daftar Tontonan