Suara nyamuk mulai berkedip-kedip di pinggiran telinga.
Duduk melingkar sejahwat, bersama kawan juang.
Keheningan alam pun perlahan bersahabat.
Di gubuk sederhana terlintas cerita ngawur malam ini.
Suara terbahak-bahak mendominasi pembicaraan.
Lelucon menyusupi pada lingkaran cerita ngawur.
Masalah tak ada ujungnya.
Marilah berdamai dan bercerita ngawur di negeri ini.
Mungkin, begitulah negeriku ini.
Negeri kaya dengan segalanya, juga kaya ngawur dari para penguasa.
Pengambil kebijakan seolah terus melucu.
Mengeluarkan kebijakan dengan penuh kontroversi.
Memang ngawurkah negeri ini?
Ngawur penguasanya, ngawur rakyatnya.
Malam semakin larut, cerita pun makin ngawur.
Mari berandai-andai dan biarlah para penguasa lebih leluasa untuk ngawur lagi.
Dan bersiaplah menyaksikan keruntuhan di atas kengawuran.
Cerita pun kini makin ngawur dan terus berlanjut.
Gubuk Marhaenis, 15 Juli 2021
Baca Juga
-
Medsos dan Seni Menjadi Domba di Tengah Perang Algoritma
-
Mengembalikan Akal Sehat di Meja Keputusan Pelayanan Publik
-
Politisi Baperan: Dikit-dikit Somasi, Lama-lama Lupa Cara Diskusi
-
Mengapa Kampus Lebih Sibuk Kejar Akreditasi daripada Jaga Nyawa Mahasiswa?
-
Gen Z, Kopi, dan Mundurnya Alkohol dari Panggung Pergaulan
Artikel Terkait
-
Bareskrim Polri Bongkar Jaringan Narkoba di Whiterabit Club, Lima Orang Diringkus
-
Bolehkah Berhubungan Suami Istri di Malam Takbiran Idulfitri? Ini Hukumnya dalam Islam
-
Bersamaan dengan Nyepi, Takbiran Idulfitri di Bali Digelar Tanpa Pengeras Suara
-
Kurang Tidur Bukan Lencana Kehormatan, Inilah Racun Hustle Culture yang Merusak Hidup Saya
-
Wajib Tahu! Bedanya Parfum Siang dan Malam yang Bikin Wangimu Makin Sempurna
Sastra
Terkini
-
Kuda Lumping Diplomasi: Misi Jakarta Merayu Pawang di Panggung Board of Peace
-
Tarian Darah dari Rawa
-
Perebutan Kuasa Tertinggi Asia Pasifik, Membaca Kisah Bujang di Novel Pergi
-
Silaturahmi Lebaran dan Budaya Gosip: Ketika Obrolan Hangat Berubah Arah
-
Review Film Nuremberg: Duel Psikologis di Balik Pengadilan Sejarah Terbesar