Aku merenung dan berpikir banyak.
Memahami nasib dan beban hidupku.
Memandang kebebasan orang lain, di sela keterbatasanku.
Menuntut kemampuan, di atas kekuranganku.
Aku kadang berontak, mengapa mereka bisa sedang saya tidak.
Mengapa mereka selalu beruntung ketimbang saya. Apakah ini yang namanya porsi keadilan?
Apakah memang seperti ini, pahitnya hidup yang harus aku lawan?
Mungkin aku berada di masa yang tidak beruntung.
Masa, aku harus bertanggungjawab pada orang tercinta.
Masa yang memang aku harus berbakti padanya.
Hingga aku tak bebas seperti kakak-kakakku.
Apakah memang harus aku?
Menjaga dan merawat, hingga aku tertinggal jauh pada ambisiku.
Ambisi untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Aku dilema, antara tanggungjawab dan ambisi.
Antara berbakti dan ilmu pengetahuan.
Atau memang inilah jalan hidupku.
Iya, haruskah aku.
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
-
7 Arti Mimpi Kecelakaan Mobil atau Motor Tapi Selamat
-
Pajak Digital RI: Garang Cekik Rakyat Kecil, Lembek ke Perusahaan Asing
-
Beban Pajak Makin Menggunung, Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?
-
Ulasan Do You Like Brahms?: Jatuh Bangun Mahasiswa Musik Mengejar Mimpi
-
Beban Pajak Mencekik, Daya Beli Sekarat: Di Mana Batas Lelah Kelas Menengah?
Sastra
Terkini
-
Bye Kusam dan PIH! 4 Moisturizer Alpha Arbutin Cuma di Bawah Rp50 Ribuan
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat