Sore hari aku berjalan di persawahan.
Aku berjalan dengan lamban dan menengok ke sudut-sudut sawah masyarakat.
Di tengah jalan mata dan kakiku mulai tersendat.
Telah aku saksikan rumah tua yang berdiri sendiri.
Aku coba mendekat dan memperhatikannya secara seksama.
Rumah tua sudah lama tak berpenghuni.
Rumah tua agak keropos dan mulai rapuh.
Rumah tak diperhatikan lagi.
Dinding-dindingnya sebagian berjatuhan.
Atapnya jua banyak yang berlubang.
Hingga tiang-tiangnya pun mulai merongga yang tak lama akan rapuh.
Sungguh kasian rumah tua yang ditinggalkan tanpa diperhatikan lagi.
Aku berpikir positif saja.
Rumah itu rapuh karena sudah sampai batas umurnya.
Bahwa yang tegar juga dapat rapuh jika tak dirawat. Begitulah jalan pikiranku saat aku menyaksikan rumah tua yang mulai rapuh.
Nipa, 7 Agustus 2021
Tag
Baca Juga
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Sampah dan Dosa Kecil yang Dianggap Biasa
-
Dompet Tak Berbunyi, Saldo Diam-Diam Mati: Dilema Hidup Serba Digital
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Mengenal Investasi dari Layar Ponsel Bersama New BIONS
-
Menggugat Empati Sineas Lewat Film Putri, Jangan Gentayangan Lagi: Menghibur atau Mengeksploitasi?
-
Fakta Unik Daun Salam: Bumbu Masakan Rumahan yang Jadi Simbol Berbagi di Pedesaan
-
489 Hektare Hutan Malang Selatan Hilang, Kini 63 Hektare Kembali Terancam
-
PIH dan Kusam Auto Hempas! 4 Pelembap Pencerah Kemasan Tube Lebih Higienis