Zaman maju yang berubah seketika.Kala aku masih terkekang ketertinggalan. Ketika kemajuan memaksa segala lebih cepat. Tetapi langkahku semakin berjalan mundur.
Dengan lugunya hatiku masih saja berkutat dalam suatu kemunduran. Sebuah kemunduran yang menggusur segala daya nalarku.
Yang mengubur segala pandangan usangku yang telah lenyap dimakan zaman sebegitu cepatnya. Ketika zaman sudah semakin mudah segalanya.
Aku pun masih merasakan sangat sulitnya segala langkah kehidupan terasa tertinggal jauh dengan kemajuan zaman.
Dengan gubug sangat sederhana yang berpijak di lokasi terpencil dari keramaian kota. Dengan mengandalkan segalanya dari kebaikan demi bertahan hidup.
Bertahan hidup walau zaman yang telah berubah. Saat manusia menggenggam gubug mewahnya sementara aku masih menggenggam gubug sederhana nan mungil.
Kebaikan alam yang menyediakan apa saja yang kuinginkan. Segala yang terhampar oleh alam kujadikan sebagai bekal untuk menemani kehidupanku yang sangat sederhana. Tak ada kemewahan yang berarti yang terkandung di dalam gubug sederhana milikku.
Bersama keluarga anak dan istri mencoba tuk bertahan dalam ketertinggalan karena kefakiran harta kekayaan tuk mengejar segala ketertinggalan zaman yang kuraih. Dalam suasana sederhana namun rasa bahagia kian bersinar abadi dalam keluargaku.
Mengadu nasib peruntungan demi meraih gapaian segala limpahan kekayaan. Agar kemajuan zaman bisa kurasakan dengan penuh nikmat tanpa merasa terkucilkan oleh siapapun yang memandang diriku dan keluargaku.
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
-
PC Tanpa Ribet Kabel? Acer Aspire C24 AIO Tawarkan Desain Tipis dan Ringkas
-
5 Pilihan HP Samsung dengan Bypass Charging, Anti Overheat Saat Nge-Game
-
Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless
-
Kukungan Emosi dalam Set Terbatas Film Kupeluk Kamu Selamanya