Hunian selamanya bernama akhirat. Kehidupan yang sangat abadi tempat segenap manusia berkumpul setelah dunia musnah. Tak ada satupun kehidupan dunia yang tersisa setelah dunia hancur.
Yang menjadi pembalasan bagi tingkah segenap manusia selama diperbuat di dunia. Ketika tangan dan kaki menjadi saksi seluruh tingkah laku manusia. Kala mulut terkunci rapat-rapat. Tak ada yang berani berkilah dari pertanggungjawaban yang menentukan langkah manusia berikutnya.
Kala dunia sudah hilang manusia tak bisa kembali ke dunia yang semu. Hanyalah akhirat tempat satu-satunya manusia berpijak selamanya yang tak pernah musnah. Setelah manusia dibangkitkan dari kubur yang sangat panjang tidurnya. Yang terpisah dari sanak famili. Saling tak mengenal satu sama lain.
Hunian selamanya yang menjadi tempat menetap seluruh manusia. Tempat dimana seluruh perbuatan ditimbang. Baik buruknya tingkah laku manusia ditentukan di akhirat. Kepanikan akan tingkah yang diperbuat manusia berseru dimana-mana.
Manusia-manusia tampak ketakutan dan meneteskan air mata kala menunggu giliran satu persatu penghitungan amal. Yang menjadi harap-harap cemas surga atau neraka tempat selanjutnya mereka berada.
Amal baik lebih berat dari amal buruk maka penentuan langkah selanjutnya adalah surga. Amal buruk lebih berat dari amal baik maka penentuan langkah selanjutnya adalah neraka. Setelah satu persatu amal manusia ditimbang. Maka melalui titian sirathal mustaqim. Titian inilah yang menjadi penentu arah manusia menuju surga atau neraka.
Baca Juga
Sastra
Terkini
-
Kang Mina Dilaporkan Gabung Live Action Solo Leveling, Ini Kata Agensi
-
Tayang 22 Juni, Drakor See You at Work Tomorrow Rilis Jajaran Pemain Utama
-
Admin Brand Gathering 2026: Kolaborasi UMKM di Dufan Jadi Energi Baru Industri Kreatif
-
Film Sebagai Kritik Sosial: Membaca Patriarki di Perempuan Berkalung Sorban
-
4 Eye Patch Peptide, Solusi Praktis untuk Mata Awet Muda Bebas Bengkak!