Rico Andreano Fahreza
Rico Andreano Fahreza
Ilustrasi Bumi Kekeringan. (Pixabay)

Kekeringan amat mendera bumi yang menyandera seantero makhluk dalam nyawa yang berdegup. Kekeringan mencekik rupa jeritan manusia yang meringis terkapar kelaparan. Sumber pertanian hancur lebur diamuk kekeringan. Sangat tak ada manusiawi tingkah dari kekeringan. Kekeringan yang sangat panjang waktunya begitu terasa menyeramkan. Bagai kiamat kecil yang mematikan setiap nyawa.

Nyawa yang terkulai lemah akibat tak merasakan makan berhari-hari. Pangan telah tiada dari kehidupan dunia. Teriakan berdentang luas menghiasi seluruh buana. Suasana mencekam berseru manakala seluruh makhluk menangis berharap sumber pangan menghampiri mereka. Yang tak tahan lagi bertahan hidup terancam mati

Sekarat yang menghiasi raga tak berdaya terikat terik panas matahari yang membunuh jiwa. Kiasan dunia yang angker menghapus imaji kekeringan dalam utopia kemakmuran yang amat menipu. Naungan pohon-pohon yang meranggas dengan daun-daun yang mengering semua. 

Tak tahu mau kemana lagi mengais sumber pangan. Demi bertahan hidup sesama makhluk saling memakan satu sama lain. Sadis tingkahnya yang tak bisa dihambat kala terdesak kelaparan. Seantero buana merasakan sakitnya kekeringan yang amat mendera seluruh lapisan kehidupan. Bagai ujung kehidupan dengan isyarat kehancuran yang memanggil seluruh makhluk tuk kembali menuju tanah.

Tanah retak-retak tak ada genangan air yang membasahi rupa tanah. Kekeringan yang tak ada ujung tanda-tanda mau usai. Menyelimuti rangkaian bumi yang semakin terbekuk menghadapi sergapan kelenyapan alam raya.

Komentar