Kita tentu mengerti bahwa sedekah atau shodaqoh adalah amalan ibadah yang memiliki nilai pahala yang besar. Namun, meskipun bernilai pahala besar, nyatanya tak semua orang berusaha mengamalkan ibadah ini secara rutin. Bila orang yang belum bisa mengamalkan sedekah adalah orang miskin atau kesusahan, mungkin hal ini masih wajar meskipun bukan menjadi dalih untuk tidak bersedekah, mengingat sedekah tak hanya dengan menggunakan harta saja.
Namun, yang menjadi pertanyaan adalah: bila orang tersebut kaya-raya, memiliki sawah dan pekarangan luas, rumah dan kendaraan mewah, tapi enggan menyisihkan hartanya untuk bersedekah, maka hal ini perlu dipertanyakan. Bukankah harta dunia ini mestinya dijadikan sebagai bekal untuk beribadah? Bukankah harta tak dibawa mati? Bukankah harta itu tidak ada gunanya kecuali bila kita bisa memanfaatkannya dengan baik, salah satunya dengan memperbanyak sedekah?
Mestinya selama kita masih hidup di dunia, apalagi jika kita adalah orang yang berpunya (memiliki banyak harta), kita harus berupaya menggunakan harta benda kita untuk meraih keridaan Allah Swt. Salah satunya ialah dengan merutinkan amalan sedekah, atau membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Jangan sampai ketika kita sudah berusia lanjut dan merasa ajal sudah dekat, kita baru teringat betapa pentingnya amalan sedekah.
Ada sebuah hadis yang sarat renungan dan semoga bisa menjadi pengingat kita agar berusaha membiasakan diri bersedekah. Rasulullah Saw. bersabda, “Bershodaqohlah kalian sebelum (datangnya waktu ketika) kalian tidak bisa bershodaqoh. Bershodaqohlah kalian sebelum kalian tidak bisa bershodaqoh. Setiap orang bisa memberikan apa saja: dinar, dirham, pakaian, gandum, kurma, bahkan jika hanya bisa memberikan separuh kurma, maka berikanlah” (Keajaiban Shodaqoh, halaman 136).
Muhammad Muhyidin menjelaskan, shodaqoh akan mampu mengikat, mendatangkan, dan memperluas rezeki jika memang shodaqoh itu dikeluarkan dengan niat, cara, tujuan, dan obyek yang benar. Shodaqoh yang demikian ini merupakan shodaqoh yang dikeluarkan dari jiwa atau hati yang tulus dan ikhlas. Dasarnya adalah cinta dan kasih sayang. Ketulusan hati, keikhlasan, cinta, dan kasih sayang, merupakan nilai-nilai yang mengandung kekuatan dahsyat dan positif. Termasuk di dalamnya adalah rezeki.
Mudah-mudahan terbitnya buku berjudul Keajaiban Shodaqoh: Menguak Keajaiban Mukjizat Shodaqoh terhadap Kekayaan dan Kebahagiaan Anda (2013) karya Muhammad Muhyidin ini dapat dijadikan sebagai salah satu bacaan yang mampu memotivasi kita untuk gemar bersedekah.
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Juvenile Justice: Sebuah Pengungkapan Kasus Brutal pada Remaja
-
Ulasan Uncle Samsik: Potret Korea Selatan di Ambang Krisis Politik 1960
-
Satu Makan Siang dan Kenangan Cinta Pertama di Buku Makan Siang Okta
-
Sekolah Bukan Pabrik Nilai, Melainkan Tempat Menumbuhkan Potensi
-
Pintar tapi Tidak Bermoral? Inilah Alasan Mengapa Kecerdasan Bukan Jaminan Kebaikan
Terkini
-
Tim Favorit Justru Paling Tertekan di Piala Dunia 2026, Benarkah?
-
Sinopsis Film Sihir Tanah Kubur: Teror Mistis Menggugat Iman dan Keluarga
-
Di Balik Ban Kapten, Ada Sisi Psikologi yang Menentukan Nasib Sebuah Tim
-
Elite Force Tayang 22 Juli, Serial Netflix Angkat Operasi Antiteror GIGN
-
Satu Program, Seribu Panggung: Jejak Narasi MBG dalam Pidato Prabowo