Pangeranku adalah buku kumpulan cerita anak karya Helvy Tiana Rosa. Buku ini diterbitkan Asy Syaamiil, Bandung. Buku ini ditulis sebagai tindak lanjut dari Bengkel Penulis Cerita Anak yang diadakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 1999.
Di dalam buku Pangeranku, terdapat tujuh cerita, yaitu (1) Desi Erina, (2) Jangan Menangis Ciliwung, (3) Kibere, (4) Pertemuan di Lampu Merah, (5) Saudaraku Sayang, (6) Pangeranku, (7) Surat-Surat Cinta.
Dari segi substansi maupun teknik bercerita, Kibere dan Pangeranku adalah dua cerita anak yang paling mencolok.
Pangeranku menceritakan Didi, anak SD yang akan mengikuti lomba baca puisi. Puisi yang akan dia bawakan adalah karya Chairil Anwar berjudul Diponegoro. Guna mendalami serta menghayati lapis demi lapis makna puisi tersebut agar dapat membawakan secara meyakinkan, Didi tidak hanya menghafalkan laris-larik puisi. Dia juga banyak bertanya kepada Bang Ical, pelatihnya. Tambah lagi, dia membaca-baca buku seputar perjuangan anak Sri Sultan Hamengkubuwono III tersebut.
Saking meresapinya, kisah perjuangan Pangeran Diponegoro sampai masuk ke dalam bunga tidur Didi. Tapi, Didi merasakajnya seperti nyata. Seperti asli! Dia seolah-olah turut dalam perang gerilya yang dipimpin laki-laki bersorban putih itu. Seru! Menegangkan!
Sedangkan Kibere, menceritakan sekawanan bocah laki-laki sekolah dasar. Mereka berteman akrab. Masing-masing dari latar belakang yang berbeda. Kibere asli Timor Timur. Dia percaya kepada Yesus Kristus. Tigor berasal dari Sumatra Utara, dia merupakan suku Batak. Yono dari Jawa Tengah. Tepatnya dari Magelang. Terakhir, Maming. Dia berasal dari Makassar, merupakan suku Bugis.
Kendati berlatar belakang serba berlainan, keempatnya tidak pernah mempermasalahkan perbedaan yang ada. Demikian pula orang tua dan lingkungan sekitar mereka. Namun, ketika pecah kerusuhan, yang membuat Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, keempat anak laki-laki tersebut terpaksa harus berpisah.
Mereka tidak bisa membaca buku cerita petualangan bersama-sama lagi. Mereka tidak bisa lagi bermain sepak bola bersama. Mereka juga terpaksa memupus impian bersama untuk menjadi pemain sepak bola profesional yang akan mengangkat nama Indonesia ke kancah internasional.
Membaca dan menyelami isi buku ini tidak hanya memperkaya anak-anak dengan bacaan berkualitas yang sarat nilai kebaikan. Tetapi juga dapat mengasah nurani anak-anak agar lebih peka serta tanggap akan kehidupan sekitar.
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
-
Niat Puasa Ganti Ramadhan Karena Haid, Lengkap Tulisan Latin dan Artinya
-
Kisah Platonik yang Menggetarkan, Ulasan Buku Ketika Mas Gagah Pergi
-
Ulasan Buku Berobat 20 Juta Per Hari
-
Pudarnya Pesona Cleopatra: Cinta Tak Bisa Dipaksakan
-
Ulasan Novel Please Look After Mom: Sayangi dan Hargai Ibumu Selagi Ada
Ulasan
-
Ulasan Law and The City: Drama Hukum dengan Nuansa Healing yang Hangat
-
Voicemails for Isabelle: Sulitnya Melepas Orang yang Telah Tiada
-
Toy Story 5 Angkat Fenomena Screen Time Addiction pada Anak-Anak
-
Mohammad Hatta: Potret Kesederhanaan dan Integritas Sang Proklamator
-
Review Film Phi Phong: The Blood Demon, Misteri Ritual Kuno yang Mencekam!
Terkini
-
Teriak Demokrasi, tapi yang Beda Pendapat Dicap Buzzer: Sehat?
-
Punya Kulit Kering & Berjerawat? 4 Moisturizer Ini Aman Tanpa Bikin Pori Tersumbat
-
Bintang yang Mustahil Digapai
-
Jadi Ladang Korupsi, Program MBG Sudah Sepatutnya Dihentikan?
-
Dibalik Maraknya Kasus Deepfake di Kampus: AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu