Besali adalah bengkel pandai besi milik keluarga Lohita. Sehari-hari dikelola Pak Pande, ayah Lohita dan Sapta, pemuda kepercayaannya. Suatu ketika, Pak Pande meninggal. Di hari mangkatnya itu, Lohita menerima surat dari sang ayah. Isinya wasiat untuk terus menjalankan Besali.
Pesan itu adalah amanah. Harus dijalankan. Lohita bimbang. Dia perempuan. Sehari-hari bekerja mengurusi toko buku. Bagaimana dia harus mengurusi bengkel pandai besi, dunia yang sama sekali tak dikuasainya? Dan mengapa Pak Pande menitipkan bengkel tersebut kepadanya, si bungsu, bukan kepada ketiga kakaknya laki-laki?
Sebetulnya, dalam surat, Pak Pande menyebut nama Sapta. Ini memunculkan kebimbangan berikut. Bagaimana dia akan minta bantuan pemuda berambut ikal itu? Sudah tiga tahun dia membentangkan jarak. Tak lagi bercakap-cakap, pun sekadar tegur sapa.
Dalam kebimbangan, Lohita memilih menutup Besali hingga 100 hari lamanya. Dia berdalih, masih masa berkabung.
Sapta, pegawai ayahnya, tidak dia kabari mengenai kelanjutan Besali. Sapta sendiri tidak bertanya kepada Lohita. Sebab sadar, Lohita menghindarinya. Dia memilih menunggu sambil bekerja sebagai kuli lepas di proyek pembangunan jembatan.
Dengan bantuan Rey, pelanggan toko buku yang kemudian jadi karibnya, Lohita memasang iklan lowongan pandai besi untuk mengurusi Besali. Iklan itu sampai pula kepada Sapta. Membuat pemuda bertanya-tanya, apakah Lohita tidak menghendakinya bekerja kembali di Besali? Apakah kemampuannya sudah tak dihargai?
Ini adalah kali pertama saya membaca cerita panjang karangan Shabrina Ws. Sebegitu menyusuri halaman satu, dua, tiga novel ini, seperti ada jaring-jaring halus dan tak tampak, yang menjerat lalu menarik saya kuat-kuat untuk terus membaca lembar demi lembar sampai habis.
Kendati tema yang diangkat relatif umum, namun pengarang mengolahnya sedemikian rupa sehingga enak sekali dinikmati. Konflik-konflik yang dimunculkan, bukan konflik yang amat besar. Justru, cukup ringan, namun dekat dengan keseharian, seperti hubungan kakak-adik yang kurang rekat, tetangga yang terlalu suka mengurusi orang lain hingga perkara kecil, kecanggungan antara anak dengan orang tua tiri, dan sebagainya.
Pilihan kata yang digunakan pengarang, terbilang puitis, empuk, dan berdaya pikat. Kelebihan lain, ialah soal deskripsi tempat. Penggambaran Pacitan sungguh amat meyakinkan. Termasuk eksotika pantai-pantainya. Jelas karena pengarang adalah warga asli Pacitan. Setiap lekuk tempat ini telah dia kenal dan kuasai dengan baik.
Sebagai pembaca 'pemula' bagi karya Shabrina Ws, tampaknya, saya akan mencari novel lain karya pengarang ini untuk dinikmati.
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
-
Sinopsis Vice Versa Episode 7: Siapakah Portkey Tun dan Talay Sesungguhnya?
-
Episode Lanjutan If You Wish Upon Me, Ji Chang Wook Bakal Mengambil Keputusan
-
tvN Rilis Highlight Teaser Tiga Pemeran Drama Korea 'Little Women'
-
Rahasia Tampilan Awet Muda, Lee Joon Ki Berenti Makan Karbohidrat
-
3 Tips Memilih Makanan yang Sehat dan Bergizi untuk Keluarga Tercinta
Ulasan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?