Pepatah modern bernuansa ngenes, menyebutkan, “Wong Jawa ilang jawane.” Artinya, di zaman sekarang, makin banyak orang (bersuku) Jawa yang hilang nilai kejawaaannya. Di antaranya unggah-ungguh atau budi pekerti, tata bahasa, kesenian lokal, dan sebagainya.
Buku Pinter Basa Jawa susunan G. Setyo Nugroho dan M. Abi Tofahi ini menjawab tantangan tersebut. Kehadiran buku terbitan Kartika ini, diharapkan (sedikit-banyak) dapat menjadi tali penghubung bagi anak usia sekolah dasar kepada unsur-unsur budaya Jawa, seperti kawruh basa, paramasastra, kasusastran, aksara Jawa, juga wayang beserta wataknya.
Dengan demikian, semoga, kejawaan seorang anak bersuku Jawa tidak hilang sepenuhnya. Justru sedikit demi sedikit dapat tertambal hingga rapat kembali.
Buku setebal 176 halaman ini, bisa dikatakan memuat isi yang lengkap dalam format ringkas namun gampang dipahami.
Dalam bab kawruh basa, pembaca usia muda, diajak untuk mengerti hierarki atau tingkatan dalam bahasa Jawa, yakni basa ngoko (rendah, kadang disebut juga kasar), basa madya (tengahan), dan bahasa krama (halus, sopan).
Masing-masing tingkatan pun terperinci lebih detail. Basa ngoko terdiri dari ngoko lugu dan ngoko andhap. Basa madya terdiri dari tiga: madya ngoko, madyantara, madya karma.
Sedangkan basa krama, terperinci ke dalam: karama lugu (kramantara), mudha krama, wredha krama, krama inggil, krama desa, dan krama kedhaton.
Makin naik tingkatannya, makin sulit aturan tata bahasanya. Bagi masyarakat Jawa sendiri, penguasaan bahasa tingkat atas, dapat berati pula peningkatan harkat martabat penuturnya.
Orang dianggap terpelajar, berasal dari kalangan terhormat, apabila dapat bertutur kata krama sesuai tingkatan. Sebaliknya, orang dianggap rakyat kebanyakan alias jelata apabila hanya mampu bercakap-cakap menggunakan bahasa ngoko.
Dalam bab hanacaraka, pembaca muda, dijelaskan jenis aksara Jawa yang total berjumlah dua puluh. Kesemuanya, dapat disertai sandhangan atau penyerta berupa sandhangan swara seperti i, e, o, e, dan u. Lalu sandhangan panyigeg guna mengakhiri kata dengan huruf r, h, ng.
Dipaparkan pula pasangan untuk masing-masing aksara Jawa. Masing-masing disertai contoh praktis dan gampang dipahami.
Rasanya, tak berlebihan jika buku ini dilabeli judul Buku Pinter Basa Jawa, sebab, kendati ringkas, isinya lengkap, padat, jelas, dan sangat memandu untuk kembali ke akar, kembali ke sumber kejawaan.
Video yang mungkin Anda suka:
Baca Juga
-
Pelajaran Tekad dari Buku Cerita Anak 'Pippi Gadis Kecil dari Tepi Rel Kereta Api'
-
Cerita-Cerita yang Menghangatkan Hati dalam 'Kado untuk Ayah'
-
Suka Duka Hidup di Masa Pandemi Covid-19, Ulasan Novel 'Khofidah Bukan Covid'
-
Akulturasi Budaya Islam, Jawa, dan Hindu dalam Misteri Hilangnya Luwur Sunan
-
Pelajaran Cinta dan Iman di Negeri Tirai Bambu dalam "Lost in Ningxia"
Artikel Terkait
-
Lawan Ridwan Kamil, Lisa Mariana Akan Konferensi Pers Meski Kondisi Mental Tak Stabil
-
Cemburu Buta! Pria di Blitar Bacok Mantan Istri dan Ibu Mertua!
-
Warga Jabar yang Taat Pajak Jangan Iri karena Tak Dapat Pemutihan, Dedi Mulyadi Siapkan Surprise
-
Mudik Lebaran 2025 Nyaman, Berikut Deretan Rest Area Berfasilitas SPBU di Tol Trans Jawa
-
Mudik Lebaran Lancar, 3 Jalur Alternatif dari Semarang ke Jombang Bebas Macet
Ulasan
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Ulasan Film 4PM, Ketika Premis Sederhana Dieksekusi dengan Membahana
-
First Impression Series 'Leap Day': Saat Ulang Tahun Jadi Kutukan Mematikan
Terkini
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop
-
4 Drama Korea Terbaru di Netflix April 2025, Dari Thriller hingga Romansa!
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
6 Rekomendasi Tempat Wisata Viral di Bandung, Cocok untuk Liburan Keluarga