Pada tanggal 2 Maret 2023 kembali diperingati sebagai Hari Penyelamatan Kucing Sedunia atau International Rescue Cat Day. Peringatan ini merupakan bentuk kampanye bagi masyarakat guna mengadopsi kucing-kucing liar yang umumnya terdapat di jalanan untuk dirawat ataupun dipindahkan ke tempat penampungan yang memenuhi standar.
Melansir dari situs National Today, peringatan Hari Penyelamatan Kucing Sedunia dipelopori oleh Henry Bergh pada tahun 1867. Beliau merupakan anggota dari American Society for the Prevention of Cruelty to Animals (A.S.P.C.A.) yang merupakan lembaga yang bergerak dalam bidang pencegahan kekerasan terhadap hewan.
Penyelamatan kucing jalanan tersebut diprakarsai terhadap banyaknya tindakan kekerasan yang seringkali diterima oleh kucing-kucing jalanan oleh manusia. Hal inilah yang mendorong di tahun 1869 sekelompok aktivis wanita mendirikan tempat penampungan atau shelter untuk para kucing jalanan tersebut di Amerika Serikat.
BACA JUGA: Mengulik Sejarah Serangan Umum 1 Maret, Pertempuran Mendadak di Yogyakarta
Namun, tentunya solusi pendirian tempat penampungan kucing tersebut masih dianggap belum menyelesaikan permasalahan populasi kucing jalanan di dunia hingga saat ini.
Permasalahan Overpopulasi Kucing di Dunia
Hingga saat ini, populasi kucing liar atau kucing yang berkeliaran di jalanan seluruh dunia belum memiliki data yang pasti. Namun, diprediksi terdapat ribuan atau bahkan jutaan ekor kucing jalanan di seluruh dunia yang kemungkinan jumlah tersebut dapat bertambah seiring berjalannya waktu.
Kucing jalanan memang seringkali menjadi hewan yang mendapatkan tindakan kekerasan dari manusia karena dianggap pengganggu bagi aktivitas manusia. Bersama anjing jalanan yang juga jumlahnya belum bisa dikontrol, kucing-kucing jalanan tersebut bahkan seringkali dianggap hama karena populasinya yang terlalu banyak dalam suatu wilayah.
Beberapa waktu yang lalu pemerintah Australia memang sempat melakukan langkah yang menimbulkan kontroversi dengan memusnahkan sekitar 2juta ekor kucing liar di Australia. Pemerintah Australia beranggapan bahwa kucing-kucing tersebut dianggap hama karena populasinya yang terlalu besar dan dianggap berperan besar dalam kepunahan beberapa spesies satwa asli Australia.
Berkaca dari kasus tersebut, tentunya permasalahan over populasi kucing jalanan bisa menjadi masalah serius di sebuah wilayah karena dapat mengganggu ekosistem lokal. Belum lagi jumlah kucing jalanan yang terlewat banyak juga memungkinkan resiko bentrok dengan manusia ataupun spesies satwa lainnya di daerah tersebut.
BACA JUGA: 5 Fakta Menarik Teru-teru Bozu, Boneka Penangkal Hujan Asal Jepang
Solusi Penampungan Hewan Hingga Sterilisasi Kucing Jalanan
Permasalahan penanggulangan populasi kucing liar di seluruh dunia tentunya masih memerlukan solusi dan waktu yang tidak sebentar. Beragam solusi seperti pendirian shelter atau tempat penampungan hewan merupakan salah satu solusi yang cukup relevan guna meminimalisir jumlah kucing jalanan di dunia. Namun, apakah solusi tersebut dapat menjadi jalan keluar?
Tentunya keterbatasan jumlah tempat penampungan dan biaya untuk merawat kucing-kucing jalanan tersebut terkadang menjadi kendala. Meskipun telah dibantu dengan kampanye mengadopsi kucing jalanan, akan tetapi hal tersebut belum terlalu berperan secara signifikan.
Pada dasarnya terdapat solusi lain untuk mengontrol jumlah kucing jalanan di seluruh dunia, yakni dengan melakukan sterilisasi atau kebiri agar populasi kucing di jalanan lebih terkontrol. Namun, solusi tersebut tentunya masih menimbulkan beragam pro dan kontra di masyarakat.
BACA JUGA: Diakses Secara Online, Begini Cara Daftar KTP Digital yang Wajib Diketahui!
Beberapa orang berpendapat melakukan kebiri terhadap kucing-kucing tersebut dianggap sebagai penghilangan hak makhluk hidup untuk berkembang biak. Di sisi lain, proses kebiri tersebut dianggap menjadi solusi yang cukup ampuh guna mengontrol populasi kucing jalanan di dunia daripada harus mengambil langkah ekstrem seperti memusnahkan kucing dengan diburu ataupun diracun.
Perdebatan mengenai solusi dalam mengontrol populasi kucing liar di dunia memang hingga saat ini belum menemukan solusi yang cukup jelas. Namun, tentunya populasi kucing yang tidak terkontrol tersebut dikhawatirkan dapat berdampak terhadap hal-hal buruk seperti terganggunya ekosistem suatu tempat, penyebaran penyakit hingga konflik dengan manusia ataupun spesies lain.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Piala Presiden 2026: PSSI Rajin Garap Turnamen "Hura-Hura", Lupa Prioritas Piala Indonesia
-
Performa Gacor di Persib, Eliano Reijnders Berpeluang Kembali Merumput di Eropa
-
Karier Tak Menentu, Bali United Bakal Pinjamkan Jens Raven Musim Depan?
-
Dean Zandbergen dan Skandal Paspoortgate: Mengapa Striker VVV-Venlo Ini Tetap Ingin Bela Indonesia?
-
Menanti Debut Tim Geypens di Timnas: Terganjal Polemik Paspor atau Kalah Saing dari Calvin Verdonk?
Artikel Terkait
-
Mengharukan, Momen Seekor Anjing Mengubur Kucing yang Telah Mati
-
Ada-ada Saja! Setelah Pria Kasih Mahar Linggis, Giliran Viral Pria Beri Mahar Kucing
-
Segera Lakukan Ini jika Mimpi Bertemu Kucing Hitam, jika tidak...
-
Heboh! Pernikahan Syifa Salma Jatun Aini dengan mahar Kucing, Apakah Dilarang Dalam Islam
-
Angka Kunjungan Dokter Hewan Sangat Rendah di Indonesia, Padahal Ini Lho Manfaatnya Ajak Anabul ke Fasilitas Kesehatan
Ulasan
-
Simfoni Kejanggalan dalam Denah: Menyingkap Rahasia Rumah Aneh
-
Kala Hukum Kembali Dipertanyakan: Membaca A Time to Kill Karya John Grisham
-
Dear Killer Nannies: Suguhkan Drama Coming-of-age di Balik Kartel Medelln!
-
Review Pizza Movie: Komedi Stoner Gila yang Penuh Halusinasi Kocak!
-
Membaca Cerita dari Digul: 5 Kisah Eks Tahanan oleh Pramoedya Ananta Toer
Terkini
-
Prilly Latuconsina Bongkar Jam Kerja Sinetron Dulu: Tak Manusiawi
-
Perempuan Harus Mandiri, tapi Tetap Dihakimi: Realita yang Sering Terjadi
-
4 Chemical Sunscreen SPF 50 untuk Kulit Berminyak Bebas Jerawat dan Kusam
-
Siap-Siap! Perunggu hingga Kelompok Penerbang Roket Bakal Guncang Depok di The Popstival Vol. 2
-
7 HP Samsung Harga Rp3 Jutaan, Spek Nggak Kaleng-Kaleng!