Membuat karya tulis itu gampang-gampang susah. Gampang kalau sudah mengetahui resep atau kiat-kiatnya. Susah kalau tidak mengetahui kiatnya dan enggan untuk terus belajar menulis, baik belajar kepada para penulis senior, maupun belajar dengan cara banyak membaca buku-buku tentang teori menulis.
Buku karya Indari Mastuti ini layak dibaca oleh Anda yang ingin menekuni dunia kepenulisan dan bercita-cita ingin menerbitkan buku tapi masih kurang memahami cara-caranya.
BACA JUGA: Review Buku Mulai dari Mimpi, Setiap Pemimpi Harus Memiliki Jiwa Pejuang
Buku yang sedang Anda baca ini akan mengubah persepsi Anda dari menulis itu sulit menjadi mudah dan menyenangkan. Ada 12 trik yang penulis paparkan dalam buku ini. Semua trik akan membantu Anda dalam menulis. Trik yang penulis paparkan tidak rumit dan dapat langsung dipraktikkan (hlm. 5).
Salah satu trik menulis yang dibahas dalam buku ini yakni menggali ide dari pengalaman pribadi. Ide menulis bisa didapatkan dari mana saja. Tak terkecuali pengalaman pribadi Anda sendiri. Setiap manusia memiliki pengalaman berbeda dengan yang lainnya dan hal ini justru menjadi sumber kekayaan ide.
Trik berikutnya adalah memulai dengan yang Anda pahami. Jadi, ketika ingin menulis, ambil ide atau tema yang benar-benar kita kuasai. Jangan sampai menulis tema yang tidak dikuasai karena hal tersebut bisa fatal akibatnya. Kalau memang belum menguasai sebuah tema, hendaknya cari dan pelajari dulu referensi atau data-datanya.
BACA JUGA: Keindahan Akik, Keris dan Senja dalam Novel Akik dan Penghimpun Senja
Ada beberapa kesalahan penulis yang terlalu bernafsu menerbitkan karyanya dengan menulis tema yang tidak dikuasainya sehingga yang dilakukan hanya sekadar memindahkan pemikiran orang lain ke dalam bukunya. Penulis biasanya menggunakan banyak referensi, mengutip sana-sini, dan yang jelas dia menggunakan pengalaman orang lain, bukan pengalamannya sendiri (hlm. 38).
Ada empat alasan mengapa kita harus menulis tema yang sudah kita pahami yang dibeberkan dalam buku ini. Pertama, Anda tidak memerlukan banyak referensi. Kedua, Anda bisa memasukkan pengalaman Anda sebagai objek tulisan sehingga Anda merasa menjadi bagian dari tulisan itu sendiri. Ketiga, bisa jadi karya Anda adalah karya yang orisinal, sebab setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Keempat, hasil karya Anda akan lebih berkualitas.
Terbitnya buku berjudul “Ternyata Menulis itu Gampang” ini bisa dijadikan sebagai salah satu buku panduan bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang penulis. Semoga ulasan ini bermanfaat.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
Artikel Terkait
-
5 Tips Tetap Produktif Menulis Selama Puasa Ramadan, Yuk Lakukan!
-
5 Cara Meningkatkan Jam Terbang dan Kemampuan Menulis, Sudah Terapkan?
-
Menulis Surat Ada Caranya, Shane Lukas Tersangka Kasus Penganiayaan Anak Korban D Malah Minta Didoakan
-
4 Tips Menulis Novel Horor agar Menarik Minat Pembaca, Awas Bikin Merinding
-
Selasa Bersama Morrie: Kisah Dosen Memberi Kuliah tentang Makna Hidup
Ulasan
-
Bedah Makna Video Musik 'Masih Ada Cahaya': Saat Kegelapan Bertemu Harapan
-
Denyut Tradisi Bali dalam Bait-Bait 'Saiban' Karya Oka Rusmini
-
10 Momen Kece yang Wajib Kamu Tahu sebelum Nonton Spider-Man: Brand New Day
-
Review House of the Dragon Season 3: Hancurnya Moralitas Para Penguasa!
-
Keinginan Remaja vs Orang Tua dalam How Could You Do This to Me, Mum?
Terkini
-
Sering Diabaikan, 4 Kebiasaan Sepele Ini Bikin Laptop Cepat Rusak!
-
Kontradiksi Era Digital: Mau Merdeka Finansial tapi Masih Pakai Paylater
-
Trailer Utama Film Made in Abyss Part 1 Ungkap Lagu Tema dan Karakter Baru
-
4 Acne Micellar Water Bebas Alkohol, Rawat Kulit Berjerawat Tanpa Iritasi
-
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Desa: Perjalanan Kang Edai di Kemiren