Selalu menarik menyimak petualangan Lima Sekawan dalam buku karangan Enid Blyton dan yang sudah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Setiap kali mereka berkumpul, sudah dipastikan akan ada petualangan baru yang muncul di sekitar mereka.
Kali ini, Lima Sekawan yang beranggotakan: Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy, berlibur ke Puri Faynights. Namun, mereka tidak berangkat bersamaan.
George harus menyembuhkan dirinya dahulu dari pilek dan batuk dan begitu sembuh ia bersama Timmy, anjingnya, segera menyusul para sepupunya.
Di Puri Faynights, mereka berkemah di sebuah lapangan dan tinggal di karavan yang dipinjamkan oleh salah seorang teman Julian.
Di sana tak hanya mereka yang berkemah, tapi banyak karavan lain, termasuk karavan milik para pengelana yang sering disebut sebagai orang-orang pasar malam. Biasanya mereka mengadakan pertunjukan di lapangan tersebut.
Awalnya, orang-orang pasar malam tidak ramah pada Julian dan saudara-saudaranya. Bahkan suatu kali, mereka menyembunyikan karavan milik anak-anak itu.
Untunglah kemudian Jo, anak gelandangan yang dulu pernah diselamatkan Lima Sekawan, muncul sebagai penolong. Ternyata paman Jo, Pak Alfredo, adalah salah satu dari orang-orang pasar malam. Dalam pertunjukan ia dikenal sebagai Si Penelan Api.
Setelah tahu keponakannya mengenal Julian dan kawan-kawan, sikap Pak Alfredo dan orang-orang pasar malam pun berubah menjadi ramah. Mereka tanpa ragu-ragu juga memamerkan atraksi yang biasa mereka mainkan di pertunjukan kepada Lima Sekawan.
Selain Pak Alfredo, Si Penelan Api, ada Pak Karet. Sesuai namanya ia sangat mahir melipat-lipat tubuh. Lalu ada Bufflo yang beratraksi dengan cemeti, Pak Slither si pawang ular, dan masih banyak lagi.
Selama Lima Sekawan berkemah, di surat kabar setempat tengah diberitakan tentang hilangnya dua orang ilmuwan bernama Derek Terry-Kane dan Jeffrey Pottersham. Mereka dicurigai kabur ke luar negeri dan akan menjual hasil penelitian mereka yang merupakan rahasia negara kepada negara lain.
Dalam suatu kesempatan ketika Dick tengah meneropong burung-burung gagak, ia melihat seraut wajah muncul di jendela yang berada di puncak menara. Julian pun melihat hal yang sama.
Lensa teropong yang sangat kuat, membuat kedua anak itu bisa melihat dengan jelas bahwa wajah di jendela tadi adalah seorang laki-laki yang memiliki alis yang sangat tebal. Cocok dengan ciri-ciri salah satu ilmuwan yang hilang.
Pengintaian pun dilakukan oleh Lima Sekawan. Mereka mendatangi Puri Faynights untuk mengetahui keberadaan sosok yang mereka lihat.
Sayangnya, satu-satunya menara yang masih berdiri kokoh tak memiliki akses ke puncak. Tembok sekitarnya roboh dan mereka tidak melihat ada tangga untuk mencapai puncak menara.
Tak terduga, Timmy, anjing milik George, menemukan lorong rahasia di antara puing-puing menara. Lalu malam harinya, Lima Sekawan mencoba masuk menyusuri lorong tersebut yang ternyata memiliki jalan rahasia untuk mencapai puncak menara.
Dalam kamar di puncak menara itulah Lima Sekawan kemudian menemukan Terry-Kane, ilmuwan yang hilang, dalam keadaan terikat.
Ia kemudian menjelaskan bahwa rekannya, Jeffrey Pottersham yang telah menculik dirinya dan menyembunyikannya di menara. Bahkan Jeffrey akan menyelundupkan dirinya ke Eropa untuk membeberkan rahasia percobaan ilmiahnya yang terbaru.
Selagi mereka masih berada dalam kamar di puncak menara, tak dinyana muncul Jeffrey Pottersham yang segera menggerendel pintu hingga mereka semua terjebak di dalam kamar. Lalu, bagaimana cara mereka meloloskan diri? Apakah mereka akan terjebak selamanya di sana?
Bukan Lima Sekawan jika tidak menyuguhkan akhir yang cemerlang di setiap petualangan. Kalian akan menemukan kejutan dari Jo dan orang-orang pasar malam, yang kemudian datang ke menara dan membekuk Jeffrey Pottersham dan komplotannya.
Jadi, tunggu apa lagi? Ikuti terus petualangan Lima Sekawan dan nikmati keseruannya!
Baca Juga
-
Di Antara Pelarian, Prasangka, dan Cinta dalam Novel Honor Bound
-
Ketika Tokoh Pendamping Tak Sekadar Pelengkap Cerita dalam Hello, Darkness
-
Paris, Luka, dan Kesempatan Kedua dalam Satu Musim Panas di Paris
-
Novel Menuju Titik Nol: Ketika Pembunuhan Menjadi Akhir Bukan Awal Cerita
-
Novel Kereta 4.50 dari Paddington: Trik Pembunuhan di Luar Nalar
Artikel Terkait
-
Review Buku 'Materi Tausiyah Ustadz Gaul', Kumpulan Ceramah Segar Kekinian
-
Ulasan Buku Hujan, Hujan, Hujan: Pentingnya Nasihat Orang Tua
-
Sunandar Aktor Petualangan Sherina Jatuh Miskin dan Hidup di Tengah Hutan, Begini Kondisinya
-
Cerita Sunandar, Aktor Film Petualangan Sherina: Hidup Miskin karena Harta Diperas Mantan Istri
-
Memetik Banyak Hal tentang Kehidupan dalam Buku Uang yang Terselip di Peci
Ulasan
-
Tertipu Gaya Film Perang Serius, Tropic Thunder Ternyata Satir Komedi Paling Pecah
-
Review Rembulan Tenggelam di Wajahmu Extended: Saat Jeda Waktu Memberi Ruang bagi Makna
-
Ulasan Nice to Not Meet You: Krisis Identitas di Balik Pekerjaan Impian
-
Ulasan Buku Atomic Habits: Kebiasaan Kecil yang Diam-Diam Mengubah Hidupmu
-
Ulasan Novel False Beat, Kisah Manajer Amatir dan Vokalis Band Berwajah Dua
Terkini
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Dobrak Format Konvensional, Jakal Bookshop Fest 2026 Hadirkan 140 Aktivasi
-
Estetik ala Pinterest Girl, Berikut 5 Trik Pose dan Filter ala Xu Ruohan
-
Kehilangan Binar Masa Kecil: Apakah Menjadi Dewasa Berarti Berhenti Bermimpi?
-
Kucing Merah di Ujung Tanduk: Hutan Kalimantan Terus Kehilangan Penghuninya