Ada begitu banyak hal-hal yang harus dipersiapkan bagi orang yang ingin melangsungkan sebuah pernikahan. Terlebih jika ingin menggelar pesta yang mewah, tentunya persiapannya akan semakin bertambah banyak dan menguras energi, waktu, dan budget yang besar.
Caroline Ratri, dalam bukunya yang berjudul ‘Ceklis Persiapan Pernikahan’ (CV. Garuda Mas Sejahtera, 2020) menjelaskan sederet persiapan bagi orang yang ingin melangsungkan pernikahan.
Menurut Caroline, memang benar apa kata orang, enggak pernah ada yang namanya kebahagiaan hakiki di dunia ini. Euforia jadi calon pengantin yang akan segera berjanji sehidup semati di depan penghulu pun tetap ada “gangguan”. Apalagi kalau bukan harus pula mikirin dana menikah—yang mana sangat dipengaruhi oleh gengsi, status sosial, tradisi, dan lain-lainnya (yang kadang justru sangat instrumental dan enggak terlalu esensial dalam hidup pernikahan selanjutnya).
Menurut pandangan saya, ada baiknya bila pernikahan diadakan secara sederhana saja. Jangan terlalu mewah. Terlebih bila kita berasal dari kalangan menengah ke bawah. Tak perlu merencanakan biaya pernikahan yang begitu besar sampai harus utang ke sana-kemari. Jangan sampai usai pesta selesai digelar, ternyata utangnya masih menumpuk dan tak sanggup melunasinya dengan segera.
Dalam buku ini, Caroline membeberkan tiga langkah menyusun rencana dan membuat anggaran dan menikah dengan bujet minim. Satu dari ketiga langkah tersebut adalah mengenali 5 pos pengeluaran terbesar saat resepsi pernikahan, yakni katering, sewa gedung, baju, dokumentasi, undangan dan suvenir. Berikut penjelasan ringkas dari kelima pos pengeluaran terbesar tersebut:
Hal yang perlu diingat, besaran biaya katering harus dihitung jumlah undangan kali 2. Jangan lupa hitung juga keluarga dan kru (misalnya ada EO). Jangan ragu untuk mengurangi jumlah undangan, kalau perlu, jika bujet terasa sangat memberatkan.
Selanjutnya terkait sewa gedung. Tentunya butuh biaya besar untuk keperluan satu ini. Kalau bujet sedikit, ada baiknya menggunakan gedung pertemuan dekat rumah, bisa juga di balai RW. Kalau memang mau meminimkan bujet di pos sewa gedung, bikin pesta di rumah sendiri juga tak masalah, kalau memang kondisinya memungkinkan.
Perihal baju pengantin, untuk menghemat dana, bisa dengan menyewa saja. Dengan pertimbangan, karena baju pengantin itu tak akan mungkin dipakai lagi. Untuk dokumentasi, biasanya meliputi foto dan video. Kalau ada teman yang hobi fotografi, bisa minta tolong padanya, itung-itung bantu teman untuk menekuni hobinya.
Selanjutnya tentang undangan dan souvenir. Ada baiknya undangan dibuat yang simpel saja, karena undangan yang bagus dan mewah selain biayanya mahal, ujung-ujungnya akan dibuang juga. Begitu juga dengan suvenir, ada baiknya pilih suvenir yang bisa digunakan atau dipakai oleh penerima suvenirnya.
Buku karya Caroline Ratri ini penting dibaca oleh anak muda yang tengah bersiap mengakhiri masa lajang. Semoga ulasan ini bermanfaat.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
Artikel Terkait
-
Review Buku 'Jangan Baca Buku Ini jika Masih Senang Berbuat Dosa', Pengingat untuk Menjauhi Maksiat
-
Buku 'Taman di Atap Jakarta', Fungsi Tanaman untuk Mengatasi Pemanasan Global
-
Ulasan Buku 'Filosofi Tidur': Sebuah Pemaknaan Istirahat yang Bermanfaat
-
Ulasan Buku "Rectoverso": It's Okay Kalau Cinta Tidak Harus Terucapkan
-
Ulasan Buku 'Crying in H Mart' yang Menyentuh Hati dan Bikin Nangis
Ulasan
-
"The Rock from the Sky" dan Pelajaran tentang Berani Menghadapi Perubahan
-
Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
-
Review Deep Water: Kendati Klise, Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton!
-
Tokyo Schoolgirl Karya Osamu Dazai: Potret Kecemasan Remaja yang Mengusik
-
The Manipulated: Ketika Pria Lugu Melawan Konspirasi Kejam, Penuh Aksi dan Kritik Sosial
Terkini
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?
-
Jangan Salahkan Attitude! Ini Alasan Logis Kenapa Gen Z Susah Cari Kerja
-
Flawless Tanpa Dempul! 3 Foundation Full Coverage Buat Tutupi Bekas Jerawat