Keberadaan hutan sangat penting bagi kehidupan manusia. Salah satunya sebagai penghasil oksigen yang bermanfaat untuk kesehatan para penduduk bumi ini. Sayangnya, hutan-hutan kini mulai berkurang akibat keserakahan manusia. Sebagian hutan ditebangi dan dijadikan sebagai lahan untuk membangun gedung-gedung.
Beruntung bagi masyarakat yang hidup di daerah perdesaan karena masih banyak pohon-pohon tumbuh subur di sana. Lain halnya dengan suasana di perkotaan, khususnya kota besar seperti Jakarta, di mana keberadaan pohon tidak sebanyak di daerah pedesaan, karena lebih banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Ditambah kendaraan yang begitu padat sehingga menghasilkan polusi udara yang bisa menyebabkan dampak buruk bagi kehidupan manusia.
BACA JUGA: Ulasan Buku "Rectoverso": It's Okay Kalau Cinta Tidak Harus Terucapkan
Salah satu cara untuk mengatasi polusi dan pemanasan global adalah dengan menumbuhkan kesadaran warga agar rajin menanam pohon atau tumbuh-tumbuhan di sekitar rumahnya. Selain itu, menanam pohon di area atap-atap gedung tinggi juga sangat penting untuk digalakkan.
Dalam buku ‘Taman di Atap Jakarta’ dijelaskan manfaat taman yang dibuat di atap. Selain menambah keteduhan, taman atap berfungsi menyerap panas, meredam kebisingan, dan mengusir polusi. Sebuah penelitian menyebutkan, taman atap bisa menyerap 80% panas, menyaring karbon dioksida dan gas beracun lainnya, serta menurunkan suhu ruangan di dalam gedung sebesar 3-4 derajat celcius.
BACA JUGA: Ulasan Buku 'Filosofi Tidur': Sebuah Pemaknaan Istirahat yang Bermanfaat
Kantor Han Awal dan gedung Teater Salihara merupakan dua bangunan yang telah memanfaatkan atapnya sebagai taman. Fenomena taman atap di sejumlah bangunan di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta, telah ada sejak 2001. Fenomena itu menjadi bagian dari tren bangunan hijau (green building), yang mulai merebak di kota-kota di dunia pada akhir 1990-an, sebagai upaya meredam pemanasan global (global warming). Sejak itu, taman atap sebagai salah satu ciri bangunan hijau bermunculan di sejumlah kota di Asia, Amerika, dan Eropa (hlm.16).
Buku ‘Taman di Atap Jakarta’ yang disusun oleh tim Pusat Data dan Analisa Tempo dan diterbitkan oleh Tempo Publishing (2022) ini sangat bagus dijadikan sebagai referensi penting bagi siapa saja, terutama para pemangku jabatan untuk menggalakan pembangunan ‘taman atap’ di kota-kota besar.
Harapannya keberadaan ‘taman atap’ tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi pemanasan global dan polusi udara yang begitu meresahkan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
-
Bahagia di Usia 48 dan Masih Lajang: Rahasia di Balik Berdamai dengan Diri Sendiri
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku 'Filosofi Tidur': Sebuah Pemaknaan Istirahat yang Bermanfaat
-
Ulasan Buku "Rectoverso": It's Okay Kalau Cinta Tidak Harus Terucapkan
-
Ulasan Buku 'Crying in H Mart' yang Menyentuh Hati dan Bikin Nangis
-
Ulasan Buku Ensiklopedia Humoria, Manfaat Humor sebagai Pelepas Lelah
-
Ulasan Buku Kartosoewirjo Pahlawan atau Teroris?, Sebuah Refleksi di Hari Pahlawan
Ulasan
-
Viral Gegara Natalius Pigai, Ini 5 Buku Tipis Wajib Baca untuk Anak Muda yang Malas Baca Buku Tebal
-
4 Rekomendasi Buku dari Hyunjin Stray Kids, Ada 'Vegetarian' hingga 'Almond'!
-
Kung Fu Soccer: Sajikan Perpaduan Seni Bela Diri dan Taktik Bola Modern
-
Upon Entry: Ketika Orang yang Kita Cintai Mendadak Jadi Orang Asing
-
Sepucuk Surat dalam Film Dear You Mengajarkan Arti Rindu yang Hilang
Terkini
-
Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!
-
Bye Kulit Kering! 4 Hydrogel Mask Korea Panthenol Kunci Skin Barrier Kuat
-
Bali United Bertekad Dominasi Laga Kandang di BRI Super League 2026/2027
-
Dampak Domino AI di Depan Mata: Panduan Cerdas Beli Gadget Sebelum Harga Makin 'Gila'
-
Kepala BGN Minta Guru Santap MBG: Perlukah Sekolah Mengisi Celah Sistem?