Menangis adalah hal lumrah yang biasa dilakukan oleh manusia. Menangis itu manusiawi dan menandakan bahwa manusia tersebut masih memiliki perasaan. Jadi, menangis itu tidak selalu karena memiliki sifat cengeng.
Perempuan maupun lelaki, boleh alias sah-sah saja menangis. Asalkan tidak berlebihan. Menangis itu bila porsinya pas, dapat menyehatkan dan membuat dada terasa lega. Beban hidup menjadi lebih berkurang setelah menumpahkannya lewat air mata.
Kita bisa menyimak bahwa menangis itu ternyata baik dan menyehatkan lewat buku ‘Aku Bukan Perempuan Cengeng’. Buku ini berisi sekumpulan artikel tentang seputar perempuan yang ditulis oleh sederet penulis dengan latar belakang dan karakter yang beragam.
Aisyah Nurcholis, dalam artikelnya yang berjudul ‘Menangis Tanpa (Ber)henti’ mengungkapkan, sebuah fakta dalam psikologi menyebutkan, orang yang menangis justru memiliki mental yang sehat, dan berarti seorang individu mampu serta berani menghadapi emosi, rasa pahit, dan menunjukkan sisi rapuh.
Anda menangis, tapi Anda harus tahu kapan saatnya harus bangkit. Biarlah hati Anda lembut, tetapi sekaligus menjadi hati yang kuat. Karena pedang kualitas terbaik dibuat dari bahan-bahan langka, dipanaskan dalam suhu tinggi, ditempa dengan amat keras, lalu diasah hingga tajam.
Menangis bukan berarti Anda lemah, buruk, atau memalukan. Hanya saja, Anda manusia yang masih memiliki hati dan perasaan (hlm. 17).
Sementara itu, dalam artikelnya yang berjudul ‘Sabar dan Syukur: Kunci Melawan Tangis’, Noura N berpendapat bahwa jika Anda ingin menangis ya silakan menangis.
Jika dengan menangis segalanya bisa menjadi lebih baik dan menemukan ketenangan ya silakan. Intinya, baik laki-laki maupun perempuan jika memang mampu mengondisikan dirinya untuk tidak menangis maka tidak usah menangis.
Sementara itu, jika belum menahan diri dan menemukan kelegaan, maka menangislah.
Noura menjelaskan ada dua jenis tangisan, yang diperbolehkan, dan yang dilarang. Menangis yang diperbolehkan misalnya karena takut kepada Tuhan dan saat kita ingat kepada-Nya.
Sementara menangis yang dilarang adalah menangis yang disebabkan oleh ketidaksabaran. Penyebab lainnya adalah karena tidak mampu menerima takdir.
Namun, meski tangisan itu termasuk hal lumrah, bukan lantas kita menjadi manusia rapuh yang terkena masalah sedikit langsung menangis. Apalagi bagi kaum perempuan yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang mudah menangis.
Menurut Noura, meski perempuan akrab dengan tangisan tapi tidak seharusnya perempuan menjadi seseorang yang cengeng. Bagaimana pun juga cengeng tidak akan menjadikan masalah selesai. Justru, hal-hal yang berlarut hanya akan membuat hati lebih sakit dan menggerus perlahan keyakinan kita terhadap Tuhan (hlm. 49).
Masih banyak artikel-artikel yang menarik dan layak disimak dalam buku ‘Aku Bukan Perempuan Cengeng’ yang diterbitkan oleh Indiva Media Kreasi ini.
Buku ini sangat penting dibaca oleh kaum perempuan. Sebagai sarana menambah wawasan sekaligus memotivasi agar berusaha menjadi perempuan yang tangguh dan sabar dalam setiap situasi dan kondisi.
Baca Juga
-
Review Buku Adaptasi: Menyikapi Fase Perubahan dalam Kehidupan Umat Manusia
-
Buku Petunjuk Hidup Bebas Stres dan Cemas: Sebuah Upaya Menghalau Kecemasan
-
Motivasi Menulis untuk Calon Penulis: Buku Menjual Gagasan dengan Tulisan
-
Review Buku Etiket Bekerja: Upaya Meningkatkan Kualitas Diri
-
Review Buku Puasa Para Nabi: Mengurai Hikmah Bulan Ramadan
Artikel Terkait
-
Bivitri Susanti Sesalkan KPU Abaikan Putusan MA soal Kuota Caleg Perempuan
-
Ulasan Novel Lebih Senyap dari Bisikan, Sebuah Realita Hidup Berumah Tangga
-
Sudah Lama Tak Masuk Kuliah, Mahasiswi UNM Ditemukan Tewas di Kamar Kost
-
Ulasan Buku Feminisme untuk 99%, Kritik Tajam Terhadap Feminis Elitis
-
Kompleksitas dan Realitas Pekerja Seks dalam Buku 'Memainkan Pelacur'
Ulasan
-
Perebutan Kuasa Tertinggi Asia Pasifik, Membaca Kisah Bujang di Novel Pergi
-
Review Film Nuremberg: Duel Psikologis di Balik Pengadilan Sejarah Terbesar
-
Ramadan di Wisconsin
-
Film Komang: Angkat Kisah Cinta Penyanyi Raim Laode dan Toleransi Beragama
-
Menanam Mindset Baru, Setiap Luka Bisa Jadi Peluang di From Zero to Survive
Terkini
-
Kuda Lumping Diplomasi: Misi Jakarta Merayu Pawang di Panggung Board of Peace
-
Tarian Darah dari Rawa
-
Silaturahmi Lebaran dan Budaya Gosip: Ketika Obrolan Hangat Berubah Arah
-
Terjebak di Lift, Film Thriller Indonesia Ini Sajikan Teror Mencekam
-
Menjual Borobudur: Ambisi Komersial di Balik Jubah Budaya