Komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam menjalin hubungan dengan sesama. Entah itu jalinan komunikasi dalam sebuah keluarga maupun dengan orang-orang di sekitar kita atau masyarakat lebih luas dengan karakter yang lebih beragam.
Tanpa upaya menjalin komunikasi yang baik, tentunya hubungan antar sesama akan terganggu, berjalan kurang lancar, dan tidak harmonis. Sehingga sangat rentan terjadi gesekan atau benturan yang memicu berbagai persoalan di kemudian hari.
Banyak yang bilang, komunikasi itu mudah. Nyatanya, banyak masalah terjadi karena komunikasi yang kurang tepat. Begitu juga di dalam keluarga. Bisa antara suami dengan istri, orang tua-anak, mertua-menantu hingga ibu dan pengasuh. Repotnya, jika hal ini tidak ditangani dengan baik, maka dapat mengganggu hubungan (hlm. vii).
Aprilina Prastari, M.Si dalam buku ‘Prinsip Komunikasi Keluarga’ menjabarkan, ketika berkomunikasi dengan orang lain, kita tidak hanya sekadar mengucap kata-kata. Bahkan, tanpa kata-kata pun, kita tetap melakukan komunikasi; baik melalui tatapan mata, pelukan, dan bahasa tubuh yang lain. Kata-kata yang kita ucapkan termasuk dalam pesan verbal sedangkan bahasa tubuh, tatapan mata, dan sejenisnya, merupakan pesan nonverbal.
Dalam proses berkomunikasi, penting untuk belajar mengenali siapa diri kita. Tujuannya, agar kita lebih mudah membangun komunikasi dengan orang lain. Kita perlu merenungi dan mengenali bagaimana diri kita; apa-apa saja yang membuat kita marah, tidak suka, kesal, senang, bersemangat, dan sebagainya. Dengan begitu, kita dapat membuka diri pada anggota keluarga lain sehingga dapat saling memahami satu sama lain (hlm. 9).
Dalam sebuah keluarga, komunikasi masing-masing anggota harus terjalin dengan baik. Misalnya, komunikasi antara ayah dengan ibu, orang tua dengan anak-anaknya, eyangnya, hingga pengasuh atau pembantu rumah tersebut.
Ketika berbicara pengasuhan anak, tentu komunikasi yang terjadi tidak hanya antara orang tua dengan anak, tetapi bisa juga, suami dengan istri, eyang dan cucu (anak kita), menantu dengan mertua, dan sebagainya. Namun, utamanya adalah antara orang tua dengan anak karena pada kondisi normal (orang tua masih ada) orang tualah yang (seharusnya) paling banyak berinteraksi dengan anak. Komunikasi dalam pengasuhan anak ini juga berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan, aturan-aturan yang diterapkan sehingga membentuk karakter anak (hlm. 26).
Terbitnya buku berjudul ‘Prinsip Komunikasi Keluarga’ karya Aprilina Prastari, M.Si (penerbit Elex Media Komputindo, 2021) ini cocok dijadikan bacaan bagi para orang tua yang ingin meningkatkan komunikasi yang baik dengan anak dan seluruh anggota keluarganya.
Baca Juga
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
-
Dilema Perayaan Kemerdekaan dan Iuran Besar yang Memberatkan Warga
Artikel Terkait
-
Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Kunjungi Fadli Zon untuk Pertemuan Bilateral
-
Mendidik Anak dengan Sepenuh Hati dalam Buku 'Raising Good Humans'
-
Ulasan Buku 'Celoteh Buya Syafii' Merenungi Ujaran Bijak Sang Muazin Bangsa
-
Mengatur Pola Hidup Sehat Lewat Ulasan Buku 'I Hate Diet'
-
Banyak Jalan untuk Meraih Kebahagiaan dalam Buku 'Jiwa Bahagia'
Ulasan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?