Kita mungkin sudah terbiasa dengan anjuran 'be yourself', atau jadilah diri sendiri. Kalimat ini begitu mudah dikatakan oleh orang lain, atau bahkan mungkin oleh kita sendiri.
Seolah-olah, menjadi diri sendiri itu ibarat nasihat penyadaran yang bisa diaktivasi sesederhana menekan tombol on-off.
Padahal, realitanya ada banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan eksistensi diri. Terlebih ketika telah berada di antara kerumunan banyak orang.
Hal itulah yang kemudian dibahas oleh Wahyu Raharjo dalam buku berjudul 'Eksis, Jadi Diri Sendiri.' Premis utama yang diangkat dari buku ini ada dalam pernyataan seorang filsuf, yakni Soren Kiekegaard.
Bahwa seringkali kita tidak mengenal diri sendiri saat berada di tengah-tengah banyak orang. Dengan kata lain, kita bisa menjadi sosok yang hilang di kerumunan saat berada di sebuah komunitas.
Terlebih, jika ternyata penyebab kita mencari sebuah 'wadah' untuk berkerumun karena takut menghadapi eksistensi dari diri sendiri.
Fenomena hilang di kerumunan ini terjadi saat kita tidak dapat menggunakan akal sehat dan hati nurani. Hal tersebut akhirnya membuat orang lain dengan mudah akan menyetir hidup kita.
Meskipun begitu, hadirnya sebuah kelompok maupun komunitas untuk bersosialisasi tidak dapat kita hilangkan sepenuhnya dengan dalih ingin menjaga orisinalitas diri.
Justru dengan hadirnya sebuah kelompok di mana kita bersosialisasi, hal tersebut bisa menjadi medium dalam bertemu manusia lain dan menampilkan eksistensi kita.
Sebab, terkadang kita bisa mengenali diri sendiri lewat bercermin pada orang lain. Dengan bersosialisasi, kita bisa menemukan hal-hal tentang diri kita yang baru terungkap lewat interaksi sosial.
Jadi, kunci untuk menjaga agar diri tetap eksis adalah dengan menjaga orisinalitas diri saat berada dalam kerumunan.
Orang lain memang punya hak berkomentar terhadap diri kita, namun cukup sampai di situ saja. Kebebasan untuk menentukan apa yang patut kita jalani adalah diri kita sendiri.
Secara umum, saya cukup menikmati pembahasan buku yang keseluruhan berisi tentang refleksi diri ini.
Hanya saja, kekurangannya mungkin terletak pada beberapa materi filsafat yang disisipkan di pertengahan buku yang rasanya agak sulit dipahami oleh masyarakat awam.
Ada banyak teori dengan penggunaan diksi yang terlalu filosofis. Jika saja ada penjelasan langsung dari penulis mengenai kaitan antara berbagai teori tersebut dalam kehidupan nyata, mungkin buku ini akan jauh lebih menarik!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
Artikel Terkait
-
Menyingkirkan Batas Antara Mimpi dan Realitas dalam Buku Pejuang Mimpi
-
Cara Isi Ulang Energi agar Hidup Lebih Optimal di Buku 'Recharge Your Life'
-
Kisah Pembunuh 127 Bocah Pembawa Petaka Dunia dalam Buku 'Pemburu Anak'
-
Ulasan Buku The Ten Roads To Riches, Sepuluh Jalan dalam Meraih Kekayaan
-
Melihat Makna Sebuah Perjalanan Lewat Buku Nomadic Heart
Ulasan
-
Aksi Kocak Sang Mantan dan Suami Sah Melawan Penjahat di Film Husbands in Action
-
Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng: Ketika Ide Menjadi Komoditas
-
House of the Dragon Season 2: Ambisi Berdarah Para Penguasa yang Memanas!
-
Mirah Singa Betina dari Marunda: Perjuangan dan Welas Asih Pendekar Wanita
-
Di Balik Kesuksesan The Glory: Potret Kelam Korban Bullying
Terkini
-
Eco Parenting, Cara Sederhana Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
-
Lee Do Hyun Berpeluang Bintangi Drakor Aksi Baru Destroyer of Destruction
-
Sudah Bayar Tepat Waktu, Kenapa Kita Harus Merugi karena Listrik Padam?
-
Comeback OH MY GIRL Ditunda, Album Grup Dijadwalkan Ulang Rilis 2027
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?