Tersebutlah seekor beruang kutub muda, ditangkap oleh sekelompok pemburu. Ia dipisahkan dari koloninya, lalu dibawa ke kebun binatang di Valle Central, ribuan kilometer jauhnya dari Kutub Utara. Beruang berwarna putih salju itu dinamai Baltazar oleh para penjaga kebun binatang.
Namun ternyata Baltazar bukan beruang biasa. Ia bisa berpikir, menganalisa, dan memilah semua peristiwa yang disaksikannya dari balik kandang. Baltazar mampu mengamati dunia manusia yang terwakili oleh para pengunjung dan penjaga kebun binatang.
Baltazar menyadari bahwa sebetulnya kebanyakan manusia merasa takut padanya, sebagaimana ia pun takut pada keberadaan manusia karena mereka sama-sama tidak saling mengenal. Ironisnya, jeruji kerangkeng adalah batas yang melunturkan ketakutan kedua belah pihak. Manusia merasa aman mendekati si beruang selama ia terkurung, demikian pula sebaliknya.
“Sulit bagiku untuk mengerti, tapi suatu hari aku bisa memahami dan menyimpulkannya. Sejak hari itu, aku mengerti watak sejati manusia-manusia yang ada di sekitarku. Baru pada saat itu rasa takut berganti dengan pemahaman dan kemudian dengan simpati.” (Hlm. 11).
Baltazar pun bisa menilai bahwa sejatinya sikap sok kuasa penjaga kandang terhadap para binatang seperti dirinya, adalah topeng yang menutupi perasaan rendah diri. Para penjaga kandang tanpa seragam dan cambuk ternyata hanya manusia berkedudukan rendah di mata manusia lainnya. Hanya di depan para binatanglah orang-orang ini meraih sisa harga diri dan memegang kendali.
Selain itu, Baltazar menemukan bahwa setiap hari tak ada momen yang sama persis. Karena hari yang baru akan diikuti detil yang berbeda-beda. Kesemua itu melahirkan kesadaran tentang hakikat kebebasan sejati. Yaitu kebebasan berpikir, merenung, mengamati, dan menemukan, yang berasal dari dalam dirinya. Kebebasan jenis ini tak akan bisa dikurung oleh jeruji model apapun.
Kisah tentang beruang kutub luar biasa ini sepintas seperti novelet filsafat. Namun, sebenarnya ini adalah alegori politik tentang hidup di bawah kediktatoran. Penulisnya Claudio Orrego Vicua (1939-1982) adalah seorang sosiolog, peneliti sejarah, penulis, dan aktivis mahasiswa yang menjadi politisi dan anggota parlemen dari Partai Kristen Demokrat Cile.
Latar belakang hidupnya yang sempat mengalami rezim militer Pinochet (berkuasa tahun 1973-1990), menggerakkan dirinya menulis karya sastra inspiratif ini. Penerbit Marjin Kiri menerbitkannya pada November 2018, dengan tebal 68 halaman, dan diterjemah oleh Ronny Agustinus. Claudio mendedikasikan novelet ini sebagai renungan hidup di bawah tekanan rezim diktator.
Bagi sobat yang mencari bacaan berlatar politik, novelet ini dapat menjadi alternatif. Meskipun tipis, isinya padat, dan mengandung pesan-pesan penyemangat hidup. Seperti Baltazar yang mampu menikmati harinya meskipun hidup di balik kerangkeng. Selamat membaca.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Ulasan Buku Struktur Cinta Yang Pudar, Melawan Kenangan yang Perih
-
Ulasan Buku Bucket List: Khayal-Khayal Dahulu, Keliling Dunia Kemudian
-
Bangkit dari Keterpurukan Melalui Buku Tumbuh Walaupun Sudah Layu
-
Jangan Memulai Apa yang Tidak Bisa Kamu Selesaikan: Sentilan Bagi Si Penunda
-
Belajar Menerima Trauma Masa Lalu dari Buku Merawat Trauma
Ulasan
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Mamoru Hosoda Kembali dengan Scarlet: Adaptasi Hamlet yang Memukau
-
Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan
-
Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Buku 'Semua Orang Butuh Curhat'
-
The Devils Daughter: Horor Ringan dengan Plot Twist yang Membingungkan
Terkini
-
Sayap Kecil yang Menantang Badai
-
Tegas Lawan Pelecehan Daring, Agensi Hyeri Pastikan Proses Hukum Berjalan
-
4 Moisturizer Lokal Licorice untuk Wajah Cerah dan Lembap Sepanjang Hari
-
5 Brand Parfum Lokal Anti Mainstream, Wajib Masuk Koleksi!
-
Pendidikan Tanpa Ketegasan: Dilema Jadi Guru di Zaman Mudah Tersinggung