Menjadi perempuan ambis yang sedang berada di puncak karier, lalu tiba-tiba semuanya ambyar karena kabar kehamilan. Itulah yang dialami oleh Kayla Natasha, seorang motivator remaja yang harus merelakan impiannya kandas di tengah jalan karena kehadiran seorang bayi.
Dalam sebuah novel metropop berjudul 'Oh, My Baby Blue,' Archi TM berhasil mengemas sebuah cerita tentang dilema seorang perempuan yang menjalani status sebagai ibu baru. Ceritanya ringan, heartwarming, dan sesekali dibumbui dengan humor satire yang menyentil banyak perempuan.
Yakni tentang kekhawatiran menghadapi persalinan, beratnya fase menyusui, baby blues, hingga depresi post-partum. Semuanya dialami oleh Kayla. Ia berjuang untuk bangkit menghadapi seluruh emosi negatif yang melandanya.
Siapa sih yang nggak stres ketika seluruh yang diperjuangkan tiba-tiba lenyap begitu saja? Karier-nya hancur, ditinggalkan sahabat, masalah finansial yang melanda, bahkan gedeg karena mendengar omongan julid tetangga yang nggak ada habisnya.
Rasanya semua yang dialami oleh Kayla ini terasa relate. Untungnya dia punya Sam, sosok suami yang pengertian, nggak patriarki, dan sangat mencintainya.
Dari sini, kita bisa berkaca bahwa memiliki suami yang siap untuk berbagi peran dan menanggung beban dalam menjadi orang tua itu adalah sebuah privilese yang berharga banget.
Memang sih, kalau dipikir-pikir, perkara mengasuh anak itu adalah bare minimum yang harus dimiliki oleh setiap suami. Tapi realitanya, nggak semua suami mau melakukan itu.
Lalu, apa yang dilakukan oleh Sam dalam novel ini tuh benar-benar gambaran ideal tentang sosok suami yang dibutuhkan istri. Saya cukup suka dengan penggambaran dari tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini.
Meskipun Kayla itu tipe perempuan pada umumnya yang sering ngeyel, mood swing, dan terkadang menyebalkan, tapi deskripsi tentang Sam yang jadi tipe suami idaman itu seolah melengkapi kekurangan Kayla. Romantisme pasutri ini juga bikin baper dan nggak cringe.
Poin paling penting yang jadi alasan kenapa novel ini berkesan bagi saya pribadi adalah muatan tentang kesehatan mental yang menjadi sorotan utamanya.
Tips tentang mindfulness ala Kayla lewat pendekatan agama tanpa menggurui juga bisa menjadi pelajaran yang dapat dicontoh oleh ibu-ibu yang merasa burn-out dalam melakukan pekerjaan rumah.
Secara umum, novel ini berhasil menggambarkan kehidupan berumah tangga dan segala dilema yang dihadapi oleh seorang perempuan dengan sangat realistis tapi tetap menghibur.
Bagi kamu yang ingin membaca novel ringan dengan tema yang menarik, Oh My Baby Blue bisa menjadi rekomendasi bacaan yang layak untuk disimak!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
The Let Them Theory: Buku dengan Konsep Sederhana untuk Hidup Lebih Tenang
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif
-
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
-
Dear You: Antara Cinta, Patah hati, dan Kisah yang Tak Pernah Usai
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
Artikel Terkait
-
Belajar Menjalani Kehidupan Sesuai Keinginan Diri Melalui Buku You Do You
-
Heboh Donasi Deddy Mulyadi untuk Bayar Hutang dan Beli Rumah Disalahgunakan Seorang Ibu
-
Momen Anies di Toko Buku Tuai Perbincangan, Netizen: Malas Baca Jadi Jokowi
-
Kapan dan Dimana Pelantikan Kepala Daerah Terpilih? Mendagri Tito Beri Penjelasan
-
Ulasan Novel Library Girl: Menyelami Dunia Buku yang Penuh Imajinasi
Ulasan
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
The House with Nobody in It: Rumah Kosong yang Ternyata Tidak Sepi
-
Ulasan The Detective Is Already Dead Vol 1-4: Dialog Menggigit, Eksekusi Plot Bikin Menjerit
-
Drama Korea Would You Marry Me?: Pernikahan Palsu demi Rumah Mewah
Terkini
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan