Karakter Melody pertama kali muncul dalam novel Out of My Mind. Saat itu, banyak pembaca yang langsung jatuh hati dengan sosok gadis cerdas dan penuh semangat ini.
Kali ini, ia membawa buku ketiganya berjudul Out of My Dreams. Para penggemarnya tentu langsung antusias.
Dalam novel ini, kisah Melody berlanjut ketika ia menjadi perwakilan mengikuti simposium anak-anak berkebutuhan khusus tingkat internasional di London.
Ceritanya sebenarnya cukup menarik. Karena kita jarang sekali menemukan cerita tentang anak difabel yang bisa tampil di forum sebesar itu.
Apalagi, karakter Melody di setiap novelnya memang selalu punya cara unik untuk menyuarakan pendapatnya, meski harus menghadapi banyak tantangan karena kondisi fisiknya.
Dari awal, Sharon M. Draper masih mempertahankan gaya ceritanya yang ringan, menyentuh, dan nggak jarang diselipi humor.
Aku justru paling suka dengan detail-detail kecil dalam cerita ini. Meskipun terlihat sederhana, namun berhasil membuat pembaca ikut merasakan apa yang dialami oleh Melody.
Salah satu bagian yang menurutku paling berkesan adalah saat Melody harus berurusan dengan petugas maskapai di bandara.
Saat itu, petugasnya kurang sigap waktu menangani kursi rodanya, dan situasi itu bikin geregetan.
Tapi uniknya, Sharon M. Draper menulisnya dengan bahasa yang ringan dengan diselingi humor. Meskipun kesal, pembaca tetap bisa tersenyum waktu membaca bagian itu.
Sayangnya, semakin ke tengah, fokus ceritanya mulai bergeser ke arah yang sebenarnya tidak terlalu aku harapkan.
Alih-alih lebih banyak membahas soal simposium dan perjuangan Melody buat menyuarakan hak-haknya, cerita malah kebanyakan ngulik soal wisata mereka selama di London.
Bukan berarti kisah tentang London ini jelek. Sharon M. Draper menyajikan suasana kota London yang hidup, sampai-sampai pembaca bisa membayangkan suasananya. Bahkan, ada beberapa adegan yang terasa hangat dan menyenangkan saat diikuti.
Tapi masalahnya, bagian ini seperti terlalu mendominasi. Akibatnya, tema utama tentang inklusi dan perjuangan anak-anak berkebutuhan khusus justru terlihat tertutup.
Hal yang bikin aku lumayan kecewa, saat akhirnya cerita sampai ke momen simposium yang selama ini ditunggu-tunggu, porsi adegannya terasa buru-buru.
Bagian penting yang seharusnya menjadi inti cerita malah ditulis dengan singkat dan kurang digarap maksimal. Akibatnya, bagian ini terasa sekadar pelangkap saja, padahal bisa dijadikan potensi besar menjadi klimaks cerita.
Selain itu, aku merasa dialog antarkarakter di buku ini agak beda dibanding dua seri sebelumnya. Beberapa dialog terasa terlalu dipaksakan, hingga pesan yang ingin disampaikan terlihat tidak natural.
Penutup ceritanya juga terasa mendadak. Saat plot mulai menuju titik yang lebih emosional, buku ini justru sudah langsung selesai.
Dengan demikian, banyak potensi yang belum digali. Beberapa pesan yang harusnya tersampaikan seperti keberanian serta perjuangan anak-anak berkebutuhan khusus justru terasa kurang.
Meski begitu, aku tetap menikmati semangat Melody sepanjang buku ini.
Karakter Melody dalam Out of My Dreams tetap berhasil menyentuh hati pembaca lewat semangat dan perjuangannya, meskipun dunia di sekelilingnya belum sepenuhnya ramah dan inklusif.
Sosoknya memberi warna dan pesan penting tentang keteguhan hati seorang anak difabel di tengah berbagai tantangan.
Akan sangat menarik jika di masa depan Sharon M. Draper bisa menulis kisah seperti Melody dengan lebih dan menyentuh dengan pesan yang mudah tersampaikan.
Harapannya, kisah itu bisa memberikan ruang yang lebih luas bagi suara dan pengalaman anak-anak difabel, yang selama ini masih jarang diangkat secara mendalam dalam karya fiksi.
Secara keseluruhan, buku ini tetap menyenangkan diikuti, meskipun terasa kurang kuat dibanding dua seri sebelumnya.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Mengubah Tekanan Menjadi Kekuatan dalam Buku Growing Under Pressure
-
Bertahan Hidup di Hotel Tenggelam: Ulasan Pulau Batu di Samudra Buatan
-
Ketika Makanan Menjadi Kenangan dalam Novel Crying in H Mart
-
Novel Komsi Komsa: Ketika Pemuda Indonesia Terseret Konspirasi Dunia
-
Kampus Meretas Batas: Ketika Pendidikan Berani Berpikir Berbeda
Artikel Terkait
-
Review Novel 'Kotak Pandora': Saat Hidup Hanya soal Bertahan
-
Review Novel The One and Only Ruby, Kisah Gajah Kecil Keluar dari Masa Lalunya
-
Ulasan Novel Satine: Merayakan Kesepian dalam Kehidupan yang Tampak Sempurna
-
Novel Out of My Heart, Perjalanan Melody Mencari Kebebasan dan Teman Sejati
-
Ulasan Buku Timun Jelita Volume 2: Suara Kecil yang Disimpan Diam-Diam
Ulasan
-
Novel Santri Pilihan Bunda: Romansa Religi tentang Cinta dan Kedewasaan
-
Harga Sebuah Percaya: Mengapa Cinta Tak Cukup Hanya Dititipkan dalam Doa?
-
Kisah Salim: Menggugat Ketidakadilan Sosial Lewat Kacamata Kebingungan
-
Film Juara Sejati: Kisah Persahabatan dan Perjuangan Menggapai Mimpi
-
Seni Memahami Uang di Buku The Psychology of Money
Terkini
-
Mau Mudik Tapi Takut Boros? Simak Tutorial Mudik Seru Tanpa Bikin Dompet Boncos
-
Kawasaki KLE 500, Moge Adventure Murah Siap Bikin Pabrikan Lain Ketar-ketir
-
Ketika Kecemasan Sosial Datang Bersamaan dengan Hari Raya
-
Xiaomi Rilis Mijia Front-Opening 18 Inci: Koper Travel Inovatif Antibakteri
-
Whoosh ke Surabaya: Ambisi Melaju Kilat di Atas Tumpukan Utang Negara