Tere Liye kembali menghadirkan karya yang menyentuh dan penuh makna lewat novel Sendiri. Mengusung genre romansa dengan bumbu-bumbu fantasi, novel ini bukan sekadar menyajikan pertarungan dan petualangan dunia lain, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang kehilangan, kesedihan, dan upaya manusia untuk mengatasi rasa sepi yang mendalam.
Sinopsis Singkat
Tokoh utama dalam novel ini adalah Bambang, seorang pria berusia 70 tahun yang masih bergelut dengan luka lama: kehilangan istrinya yang sangat ia cintai.
Obsesi Bambang terhadap mesin waktu menjadi simbol ketidakrelaannya terhadap masa lalu. Ia ingin kembali ke masa lalu, memperbaiki, atau setidaknya bertemu sekali lagi dengan sang istri. Namun, upaya tersebut justru membawanya ke sebuah dunia lain—penuh makhluk aneh, konflik antarwilayah, dan kekuatan kegelapan.
Di dunia itu, Bambang tidak hanya menghadapi kehilangan yang lebih besar, tetapi juga dituntut untuk berperan menyelamatkan tempat asing tersebut.
Ia bertemu dengan berbagai karakter seperti Putri Rosa, seorang perempuan berjiwa anak kecil yang tak tumbuh dewasa meskipun sudah berusia 200 tahun. Ada pula Raja Kegelapan, simbol dari individu yang gagal menyembuhkan luka dan malah memilih menghancurkan dunia di sekitarnya.
Kekuatan Cerita: Fantasi dan Refleksi Kehidupan
Tere Liye berhasil meramu elemen fantasi dengan kedalaman pesan moral. Pertarungan antarkarakter, penggunaan teknologi canggih, dan konsep dunia alternatif menjadi pelengkap bagi isu utama novel ini: bagaimana seseorang menyikapi kehilangan.
Salah satu bagian paling reflektif muncul pada kutipan berikut:
“Kita boleh jadi menemukan banyak hal saat kehilangan. Dan sebaliknya, kehilangan banyak hal saat menemukan.” (hal. 229)
Kutipan ini merefleksikan perjalanan emosional Bambang, sekaligus menjadi pesan universal tentang kehidupan. Bahwa dalam kehilangan pun, kita bisa bertumbuh. Namun sebaliknya, jika kita memaksakan untuk menemukan sesuatu yang telah pergi, bisa jadi kita kehilangan hal-hal berharga lainnya.
Keterkaitan dengan Serial Bumi dan Gaya Penulisan Tere Liye
Bagi pembaca setia Tere Liye, gaya penulisan dalam Sendiri terasa familiar. Nuansa dan elemen yang dihadirkan memiliki kemiripan dengan serial Bumi yang populer. Mulai dari dinamika pertarungan, latar dunia dengan teknologi imajinatif, hingga konflik antarwilayah.
Hal ini menimbulkan pertanyaan tersendiri: apakah Sendiri merupakan bias dari kesuksesan Bumi, ataukah Tere Liye memang sedang dalam fase eksplorasi mendalam terhadap genre fantasi?
Meski demikian, Sendiri tetap memiliki warna khasnya sendiri. Jika serial Bumi lebih menekankan pada petualangan remaja dan konflik antarsemesta, Sendiri lebih menyentuh sisi emosional pembaca dewasa.
Bambang sebagai tokoh utama memberikan representasi baru: bahwa kehilangan bukan hanya milik anak muda, dan perjuangan untuk sembuh bisa datang di usia berapa pun.
Kesimpulan
Novel ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang sedang dalam fase menerima kehilangan atau sedang mencari bacaan yang memadukan hiburan dan renungan. Tere Liye menyajikan kisah yang bisa dinikmati dari berbagai sisi: sebagai kisah fantasi, drama psikologis, maupun narasi spiritual tentang melepaskan.
Dengan alur yang tidak membosankan, karakter yang kuat, dan pesan yang relevan dengan kehidupan, Sendiri adalah novel yang mengajak kita untuk tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga berani melepaskan.
Karena seperti yang digambarkan dalam novel, keengganan untuk melepaskan bisa mengubah seseorang menjadi sosok yang tidak lagi utuh—baik secara jiwa maupun akal.
Namun bagi penggemar genre romansa Tere Liye, mungkin akan sedikit mengecewakan. Hal ini dikarenakan Tere Liye punya gaya khas ketika menulis genre romansa yang menyayat, dalam, dan pilu.
Sementara novel ini mengusung keterangan "novel romance" di cover belakang. Akan tetapi isinya justru didominasi oleh petualangan di dunia fantasi tokoh Bambang itu sendiri.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Jangan Terus Membuat Aturan Baru Jika Aturan Lama Saja Tak Dijalankan
-
Program Pemerintah Harus Punya Umur Panjang, Bukan Sekadar Anggaran Panjang
-
Uang Negara Bukan Cek Kosong: Pelajaran dari Putusan MK soal APBN
-
Ketika Nasihat Mindfulness Bertemu Realitas yang Tidak Setara
-
Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel The Pram: Teror Kereta Bayi Tua yang Menghantui
-
Ulasan Novel Holly: Rahasia Mengerikan di Balik Rumah Pasangan Terhormat
-
Dari Anak Nakal Jadi Pahlawan Kota: Kisah Seru di Balik The Night Bus Hero
-
Kisah Anak Pengungsi dari Suriah dalam Novel The Boys at the Back of The Class
-
Mengurai Benang Kusut Persahabatan dalam Novel Other People's Summers
Ulasan
-
Drama Kill It Mengungkap Kisah Tragis Anak-Anak Bernomor di Panti Asuhan
-
Review Young Sherlock: Kisah Sherlock Holmes Sebelum Jadi Detektif
-
Kupu-Kupu Kertas: Bertahannya Cinta di Tengah Kebencian yang Diwariskan
-
Review Film Galaksi: Luka Tersembunyi di Balik Sikap Keras Seseorang
-
Review Novel Resign!: Saat Keluar dari Kantor Jadi Sebuah Taruhan
Terkini
-
Manga World Trigger Kembali Hiatus, Cuaca Pengaruhi Kondisi Ashihara
-
Mangkir 102 Hari saat Wamil, Song Min-ho WINNER Divonis Hukuman Percobaan
-
Jamuan Puan Rimba, Membawa Cerita Perempuan Penjaga Hutan Lewat Pangan Lokal
-
5 Gel Eyeliner Lokal Tahan Lama untuk Riasan Mata Presisi Bebas Smudge
-
Bukan Cuma Main Game: Mengapa Anak SD Sekarang Lebih Betah di Roblox?