Dalam menjalani kehidupan, seringkali kita terperangkap dalam episode kesedihan yang rasanya sulit untuk diterima. Entah karena menghadapi perpisahan, kehilangan sesuatu yang berharga, atau mungkin cita-cita yang tidak kesampaian.
Apapun itu, perjalanan untuk memulihkan diri sendiri yang terpuruk tentu tidak mudah. Terkait hal tersebut, salah satu buku yang membahas tentang beragam tips untuk memulihkan diri karena perasaan duka adalah buku berjudul 'This is How You Heal' karya Brianna Wiest.
Buku ini adalah lanjutan dari karya populer penulis yang berjudul 101 Essays that Will Change the Way You Think. Dalam bukunya yang kedua ini, Brianna membagikan 45 tulisan pendek tentang berbagai penguatan saat kita sedang menghadapi momen-momen sulit dalam kehidupan.
Beberapa hal yang cukup relate bagi saya pribadi adalah pembahasan tentang menghadapi perpisahan mendadak dengan seseorang yang dicintai, serta apa yang harus dilakukan ketika ternyata cita-cita kita tidak tercapai.
Saat menghadapi sebuah perpisahan, memulihkan hati untuk berhenti berduka memang bukanlah proses yang instan. Kita perlu untuk menerima semua perasaan tidak nyaman tersebut apa adanya. Dengan menerima, maka melepaskan akan jauh lebih mudah.
Selain penerimaan, di antara beberapa kutipan yang terasa cukup mewakili adalah pembahasan tentang cara menyikapi rasa takut sebagaimana berikut.
"Rasa takut tidak tahu bahwa hidup yang tidak pernah dijalani merupakan bentuk kegagalan terbesar" (Halaman 58)
Terkait perasaan takut, salah satu tantangan terbesar yang dialami manusia dalam hidupnya adalah melawan rasa takut itu sendiri. Kalau boleh jujur, kita barangkali punya banyak ketakutan dalam hidup ini. Dan sayangnya, perasaan itu pada akhirnya menghentikan seseorang untuk mencoba banyak hal karena takut gagal.
Bagian ini memang terdengar klise, tapi bagi saya pribadi rasanya menohok. Sebab, entah berapa banyak mimpi dan cita-cita yang pada akhirnya berhenti diperjuangkan karena takut mencoba lalu gagal.
Rasa gagal itu memang sakit, tapi jauh lebih sakit ketika tidak menjalani hidup yang benar-benar diinginkan.
Poin lain yang saya garisbawahi dari buku ini adalah tentang bersungguh-sungguh dalam meraih tujuan. Tidak setengah-setengah, dan berani untuk mencoba segala jalan. Bahkan jalan sunyi yang ternyata tidak ingin dilalui oleh semua orang.
Jalan itu barangkali dipenuhi dengan keharusan untuk bekerja keras, berpikir kreatif, hingga mencoba banyak tantangan. Tidak semua orang sanggup untuk melakukannya. Maka dari itulah, ia diperuntukkan hanya bagi mereka yang serius berjuang.
Bagi mereka yang benar-benar ingin mewujudkan idealisme yang dimiliki, menempuh jalan seperti itu adalah sebuah keharusan.
"Kita harus melakukan hal-hal yang tidak akan dilakukan orang lain" (Halaman 95)
Selain beberapa hal di atas, masih ada banyak tulisan dari Brianna Weist yang cukup inspiratif. Khususnya bagi seseorang yang sedang patah hati karena merasa tertinggal. Tidak hanya tertinggal karena tujuan hidup yang tidak tercapai, tetapi juga saat ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihi.
Kelebihannya terletak dari bentuk buku yang dikemas dalam kumpulan esai singkat sehingga bisa dibaca sesuai dengan tema yang dibutuhkan. Pembahasan tidak terlalu panjang jadi tidak terasa membosankan.
Hanya saja, setiap tema yang dibahas dalam buku ini memang tidak dibahas secara runut dan mendalam. Ada beberapa poin pembahasan yang terkesan hanya pengulangan. Tapi, terlepas dari hal tersebut, buku ini membawa banyak pesan yang cukup menggugah.
Jadi, bagi kamu yang mencari buku dengan tema self-healing, buku ini cukup menarik untuk dijadikan bacaan ringan yang menginspirasi. Selamat membaca!
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Productivity Hack: 80 Inspirasi untuk Mendongkrak Produktivitas Pribadi
-
Pahlawan Ekonomi Kreatif: Tetap Cuan Meski Tanpa Kerja Kantoran
-
Pecandu Buku, Gerak Laku Penuntut Ilmu: Literasi untuk Membangun Peradaban
-
Resep Kaya ala Orang Cina: Ketika Strategi yang Tepat Terlihat Seperti Hoki
-
Jangan Kalah Sama Monyet: Kumpulan Gagasan di Era Disrupsi
Artikel Terkait
-
Diskusi Buku Dibubarkan, Guru Besar UII Sebut Aparat Anti Sains dan Mengancam Demokrasi
-
Ulasan Novel Janji, PerjalananTiga Santri Menemukan Ketulusan Hati Manusia
-
Membaca, Menulis, Merangkai Diri: Kisah Perempuan di Puan dan Bukunya
-
Ulasan Novel Grass, Kesaksian Sunyi Perempuan Korban Perang
-
Kemenbud Luncurkan Buku Sejarah Ulang, Fadli Zon Tegaskan Bukan Ditulis Pemerintah
Ulasan
-
Review Film Home Sweet Home: Menonton Kenyataan Pahit Profesi Caregiver di Denmark
-
Banjir Air Mata, Nonton Duluan Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan, Sukses Mengharu Biru
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Ketika Jurnalisme Bertemu Konspirasi Kelas Dunia di Buku The Sky is Falling
-
Bukan Cinta Biasa: Pelajaran Hidup tentang 'Tumbuh Bersama' dari Film Shaka Oh Shaka
Terkini
-
Antara Idealisme dan Realita: Susahnya Hidup Less Waste di Era Serba Cepat
-
Toko Kenangan yang Tertukar
-
Mengapa Menonton Film 'Pesta Babi' dan Membagikannya di Medsos Tidak Akan Mengubah Apa pun
-
Obral Izin Masuk Berujung Bencana: Ketika Bandar Judi Internasional Menyamar Jadi Wisatawan
-
Lagu K-Pop Full Bahasa Inggris: Strategi Bisnis atau Tanda Berakhirnya Era Lokal?