Kayaknya sudah menjadi ciri khas buku-buku terbitan Akad acapkali membahas hal-hal yang menyakitkan. Meski tak selalu angst, tapi selalu bikin hati merintih perih. Salah satunya yaitu novel Lights Into You karya Dinda Azzahroh.
Menghadirkan kisah yang sederhana di permukaan, namun menyimpan lapisan emosi yang dalam. Cerita ini tidak sekadar mengangkat romansa, melainkan juga realitas pahit tentang ketimpangan kasih dalam keluarga, perjuangan ekonomi, serta bagaimana kehadiran seseorang bisa menjadi cahaya di hidup orang lain. Tanpa disadari.
Sinopsis Novel
Tokoh utama, Ochi, adalah potret banyak anak bungsu yang tumbuh dengan perasaan selalu dinomorduakan. Sejak kecil, ia terbiasa mengalah demi kakaknya. Bahkan ketika ia berada di semester akhir kuliah, orang tuanya rela membiarkannya menanggung biaya pendidikan sendiri demi pengobatan anak sang kakak.
Meski begitu, hubungan Ochi dengan kakaknya tetap digambarkan sehat dan saling mendukung. Sebuah detail yang membuat konflik keluarga dalam novel ini terasa realistis, tidak hitam-putih.
Kondisi ekonomi yang mendesak membuat Ochi menerima tawaran bekerja sebagai baby sitter. Ia mengasuh Clarine, seorang balita cerdas dan manis, anak dari Alam (seorang duda yang dikenal galak, irit bicara, dan penuh gengsi). Dari sinilah cerita mulai berkembang, tidak dengan konflik yang meledak-ledak, melainkan perlahan dan intim.
Clarine atau Cla menjadi salah satu karakter paling mencuri perhatian. Di balik kelucuannya, Cla digambarkan sangat pandai menyembunyikan perasaan. Salah satu adegan paling menyentuh adalah ketika Alam menonton video curahan hati Cla.
Momen sunyi yang membuka mata pembaca tentang betapa sering perasaan anak diabaikan oleh orang dewasa. Cla bukan sekadar “anak lucu” pelengkap cerita, melainkan pusat emosi yang kuat dalam novel ini.
Alam sendiri adalah sosok yang kompleks. Di balik sikap dingin dan temperamentalnya, ia menyimpan trauma dan duka yang belum selesai. Kehilangan pasangan membuatnya menutup diri, hingga kehadiran Ochi perlahan mengubah caranya memandang hidup dan luka yang selama ini ia pendam sendirian.
Hubungan Ochi dan Alam tidak dibangun secara instan, melainkan melalui interaksi sehari-hari, keheningan, gengsi, dan konflik kecil yang terasa dekat dengan kehidupan nyata.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Dinda Azzahroh menulis Lights Into You dengan sudut pandang orang ketiga. Membuat pembaca bisa melihat perasaan setiap tokoh dengan seimbang. Alurnya mengalir ringan namun tetap emosional.
Terkadang membuat pembaca tersenyum, gemas, kesal, dan sesekali tersentuh, tanpa harus tenggelam dalam melodrama berlebihan. Humor hadir tipis namun efektif, terutama melalui dialog dan karakter pendukung seperti Deva yang ceria dan menghidupkan suasana.
Novel ini juga menyoroti peran orang tua yang alih-alih menjadi sumber kehangatan, justru menjadi pemicu luka. Tidak heran jika banyak pembaca merasa “kesal” pada figur orang tua dalam cerita ini. Sebuah respons yang menunjukkan keberhasilan penulis dalam membangun emosi yang jujur.
Menariknya, Lights Into You merupakan versi novel dari cerita Alternate Universe (AU). Meski pembaca telah mengikuti AUnya, versi novel tetap menawarkan pengalaman berbeda. Penyebab konflik dan latar peristiwa mengalami perubahan signifikan, sehingga cerita terasa lebih matang dan berdiri sendiri.
Secara keseluruhan, Lights Into You adalah novel yang hangat, menyentuh, dan sulit dilepaskan setelah dibaca. Ia berbicara tentang luka yang sunyi, cinta yang tumbuh pelan-pelan, dan pilihan untuk tetap berjalan meski cahaya di ujung jalan terasa redup. Novel ini mengingatkan bahwa terkadang, menjadi “cahaya” bagi orang lain justru membantu kita menemukan cahaya untuk diri sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Lights Into You
- Penulis: Dinda Azzahroh
- Penerbit: Skuad x Akad
- Tahun Terbit : 2024
- ISBN: 978-623-102-532-6
- Tebal: 332 Halaman
- Kategori: Fiksi, Romance, Slice of life
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Pelajaran dari Surabaya: Penyangga Ekonomi yang Sering Diremehkan
-
HP Bukan Pengasuh: Jangan Biarkan Gadget Mendidik Anak Sendirian
-
Ketika Guru Bersertifikat Justru Terjebak di Celah Kebijakan
-
Buang Sampah Sembarangan: Mengapa Kita Masih Takut Menegur Pelanggar?
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Antarkota di Indonesia Saja Sudah Timpang
Artikel Terkait
-
Review Broken Strings: Cara Aurelie Moeremans Menyembuhkan Luka Child Grooming
-
Berapa Harga Buku Broken Strings Versi Cetak? Segera Rilis usai Ebook-nya Viral
-
Buku No Hard Feelings: Cara Mengelola Emosi di Tempat Kerja
-
Menjadi Minoritas, Menjadi Dewasa: Membaca Sekosong Jiwa Kadaver
-
Buku If All the World Were: Refleksi Lembut Soal Kepergian Orang Terkasih
Ulasan
-
Review Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis: Hangat, Realistis, dan Bermakna
-
Review Film Nothing to Lose: Potret Nyata Ketimpangan Sosial Zaman Sekarang
-
I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki: Bertahan Hidup Lewat Harapan-harapan Kecil
-
Ulasan Novel Semesta Thalita, Ketika Kata Pulang Tak Lagi Bermakna
-
As Long as the Lemon Trees Grow: Ketika Harapan Tumbuh di Tengah Perang
Terkini
-
Pelajaran dari Surabaya: Penyangga Ekonomi yang Sering Diremehkan
-
Argentina vs Spanyol: Adu Tajam Lini Depan vs Tembok Pertahanan di Final Piala Dunia 2026
-
Ikut Beri Dukungan, Tom Cruise Bagikan Momen usai Nonton Film The Odyssey
-
Menang Dramatis! Argentina Siap Hadapi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
-
HP Bukan Pengasuh: Jangan Biarkan Gadget Mendidik Anak Sendirian