Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Buku Clear Thinking (Dok.Pribadi/Oktavia Ningrum)
Oktavia Ningrum

Percayakah bahwa sebatang cokelat yang kita makan sekadar untuk mengganjal lapar di sore hari bisa berdampak pada masa depan kita? Pertanyaan sederhana ini menjadi pintu masuk yang menarik dalam buku Clear Thinking karya Shane Parrish.

Bukan karena cokelatnya, melainkan karena keputusan kecil yang sering kita ambil tanpa berpikir jernih dan dampaknya yang bisa berlipat ganda di kemudian hari. Buku ini mengajarkan konsep 10:10:10. Bagaimana setiap keputusan yang kita buat akan berdampak pada 10 menit pertama, 10 bulan kemudian, atau bahkan 10 tahun ke depan. 

Clear Thinking: Turning Ordinary Moments into Extraordinary Results ditulis oleh Shane Parrish, mantan analis intelijen Kanada dengan latar belakang ilmu komputer. Buku ini tidak menawarkan gagasan yang sepenuhnya baru tentang berpikir rasional.

Parrish mengajak pembaca “berkaca” untuk menyadari pola-pola keputusan yang selama ini tampak sepele, tetapi diam-diam membuat kita terpeleset. Menurutnya, manusia jarang gagal karena kurang pintar. Kita gagal karena tidak berpikir jernih. Terlalu reaktif, tergesa-gesa, dan mudah terpengaruh tekanan.

Kunci Berpikir Jernih ala Shane Parrish

Salah satu konsep kunci dalam buku ini adalah bahwa clear thinking terjadi di antara stimulus dan respons. Di ruang jeda inilah manusia seharusnya berhenti sejenak, mengevaluasi situasi, dan tidak langsung bereaksi secara impulsif. Sayangnya, ruang jeda ini sering diambil alih oleh apa yang disebut Parrish sebagai “musuh berpikir jernih”.

Ada empat musuh utama yang kerap menjebak manusia. Pertama, emotional default, yaitu kecenderungan bereaksi berdasarkan emosi sesaat. Kedua, ego default, ketika keputusan diambil demi menjaga harga diri. Ketiga, social default, yaitu mengikuti tekanan sosial tanpa pertimbangan matang. Keempat, inertia default, kecenderungan bertahan pada kebiasaan lama karena terasa nyaman.

Membabat Habis Akar Masalah

Bagian yang paling aplikatif terdapat pada Part 4 yaitu Decisions: Clear Thinking in Action. Di sini, Parrish mengkritik kebiasaan manusia yang sering menyelesaikan masalah hanya di permukaan. Kita cenderung mengobati gejala, bukan akar masalah, karena itu lebih cepat dan mudah.

Polusi diatasi dengan membeli air purifier, stres kerja dilawan dengan maraton serial, lapar diselesaikan dengan bantuan instan. Masalahnya, seperti dikutip Parrish, “Api tidak pernah benar-benar padam; ia akan muncul kembali di kemudian hari.”

Untuk membantu pengambilan keputusan, Parrish memperkenalkan beberapa prinsip sederhana namun kuat. ASAP principle (as soon as possible) menyarankan agar keputusan dengan risiko kecil segera diambil. ALAP principle (as long as possible) menganjurkan menunda keputusan jika risikonya besar dan tidak bisa diperbaiki. Sementara FLOP (first loss of opportunity) mengingatkan agar tidak menunda keputusan hingga kesempatan pertama hilang.

Pentingnya Berpikir Sebelum Bertindak

Selain itu, Parrish menekankan pentingnya membangun guardrails atau pengaman pribadi. Aturan otomatis seperti tidak mengambil keputusan saat marah, menciptakan hambatan agar tidak impulsif, serta menggunakan checklist untuk mengevaluasi pilihan.

Ia juga menawarkan kerangka pengambilan keputusan yang sistematis. Mulai dari mendefinisikan masalah, mengeksplorasi solusi, mengevaluasi opsi, membuat penilaian, lalu mengeksekusi.

Pada akhirnya, Clear Thinking mengajarkan satu hal mendasar fokus pada “one thing that matters”. Dengan kesadaran bahwa waktu kita terbatas (memento mori), keputusan yang diambil dengan pikiran jernih akan jauh lebih bermakna. Buku ini relevan bukan hanya untuk individu, tetapi juga untuk organisasi, komunitas, dan pemimpin yang ingin menghindari keputusan dangkal dan reaktif.

Identitas Buku

  • Judul: Clear Thinking (Membuat Keputusan Cerdas Setiap Hari) 
  • Penulis: Shane Parrish
  • Penerbit: Noura Books
  • Tahun Terbit: 2024
  • ISBN: 978-6232-424-31-9
  • Jumlah Halaman: 380 Halaman
  • Genre: Self Improvement, Manajemen, Bisnis