M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Bekisar Merah Ahmad Tohari ( Sumber : Gramedia)
Chairun Nisa

Selain Ronggeng Dukuh Paruk, novel Ahmad Tohari yang sangat memesona adalah Bekisar Merah. Novel ini menggunakan bekisar merah sebagai metafora untuk menggambarkan tokoh utamanya yang eksotis, yakni Lasi. Ia lahir dari peristiwa kelam: pemerkosaan ibunya oleh seorang serdadu Jepang. Wajahnya yang kejepang-jepangan, mata yang indah, serta perawakan yang molek membuat Lasi diibaratkan seperti bekisar merah—hasil perkawinan campur antara ayam biasa dan ayam hutan. Keduanya sama-sama memesona, tetapi hanya dijadikan hiasan oleh orang-orang kaya.

Sinopsis Novel

Kisah ini diawali dengan adegan menegangkan ketika Darsa, suami Lasi, terjatuh saat menderas nira. Tubuhnya terkapar dan ia sakit selama berbulan-bulan lamanya. Dalam masa itu, Lasi setia merawatnya dengan sepenuh hati. Namun, di usia pernikahan yang tidak lagi muda, mereka tak juga dikaruniai buah hati. Kekosongan itulah yang perlahan meretakkan kesetiaan Darsa, hingga ia mengkhianati Lasi dengan menghamili seorang perempuan disabilitas.

Di tengah runtuhnya harapan, seseorang datang membawa janji tentang masa depan. Sebuah pintu seolah terbuka bagi Lasi. Demi kehidupan di kota, ia pun berangkat ke Jakarta dan menghadapi gegar budaya yang mengguncang batinnya. Namun, janji itu ternyata tipu daya. Orang yang memberinya mimpi justru menyerahkan Lasi kepada seorang mucikari, menjadikannya pajangan bagi orang-orang berkuasa.

Keeksotisan Lasi membuatnya cepat “laku”. Hidupnya berubah drastis ketika ia menjadi istri simpanan Handarbeni, seorang pria kaya raya yang renta dan rapuh. Di balik kemewahan, Lasi hanyalah hiasan. Nafkah batin tidak pernah ia rasakan. Ia hidup seperti burung dalam sangkar emas—indah dipandang, tetapi kehilangan kebebasan.

Dengan kesungguhan hati, Lasi mengabdikan hidupnya pada pernikahan itu. Ia percaya pada Pak Han sepenuh jiwa. Namun baginya, pernikahan hanyalah permainan. Setelah merasa puas, tanpa sepengetahuan Lasi, ia diceraikan dan diserahkan kepada seorang belantik penguasa bernama Bambung.

Sekali lagi, hidup Lasi tidak berubah arah. Ia seakan jatuh dari mulut harimau ke mulut buaya. Dalam gemerlap kehidupan glamor, ia tetap menjadi mainan hiasan tanpa kemerdekaan. Di tengah peliknya hubungan Lasi dan Bambung, masa lalu kembali menyapanya. Ia bertemu Kanjat, cinta pertamanya semasa kecil yang kini telah menjadi seorang dosen. Bersama Kanjat, Lasi melarikan diri. Mereka menikah siri dan kembali ke desa. Dalam kesederhanaan, Lasi yang dahulu tidak memiliki apa-apa, kini kembali hidup tanpa apa-apa.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Di tengah kehidupan sederhana Lasi dan Kanjat—yang perlahan membantu mengurangi kemiskinan para penderas nira—kaki tangan Bambung menemukan Lasi dan membawanya kembali ke Jakarta.

Akankah Kanjat mampu menyelamatkan Lasi dan buah hati yang tengah dikandungnya? Akankah kemiskinan benar-benar dapat dipatahkan, atau kehidupan Karangsoga akan tetap terjerat dalam lingkar keterbatasan yang sama?

Kelebihan Novel

Kekuatan novel ini terletak pada kepiawaian Ahmad Tohari dalam merangkai bahasa. Ia mampu menghadirkan keindahan alam dengan lirih dan membumi, membentuk tokoh-tokoh yang kuat, serta menyajikan alur sederhana yang mengalir tanpa kehilangan makna.

Kekurangan Novel

Konflik yang dihadirkan tidak terlalu tajam sehingga kurang menegangkan. Pola penderitaan Lasi cenderung berulang. Kepolosannya yang berlebihan justru terasa menjengkelkan karena ia tidak mampu menentukan arah hidupnya sendiri. Tokoh Kanjat pun digambarkan terlalu lamban, tidak sigap, dan kurang tegas dalam mengambil keputusan.

Identitas Buku

  • Judul: Bekisar Merah
  • Penulis: Ahmad Tohari
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 1993 (Cetakan terbaru 2019)
  • ISBN: 978-9792266320
  • Tebal: ±360 halaman
  • Genre: Novel Sastra / Fiksi