M. Reza Sulaiman | Chairun Nisa
Semua Untuk Hindia ( Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Chairun Nisa

Sejarah kolonial Indonesia menjadi topik yang jarang ditemukan dalam bentuk cerpen. Tema ini kerap dianggap kaku karena identik dengan nama-nama asing, deretan tahun, serta bahasa baku yang menciptakan jarak dengan pembaca.

Karena itu, Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu hadir sebagai jembatan: memperkenalkan sejarah kolonial melalui kisah-kisah fiksi yang hidup, manusiawi, dan reflektif, sebelum pembaca berhadapan dengan buku-buku sejarah yang tebal serta berat untuk dibaca.

Sinopsis

Buku ini berisi 13 cerpen yang sebagian besar menggunakan sudut pandang orang pertama (“aku”) yang berlaku rasional dalam setiap tindakannya. Pembaca diajak menyusuri berbagai peristiwa kehidupan kolonial:

  1. Seorang administrator perkebunan tembakau di Deli yang terpaksa melepaskan Nyai yang dicintainya ketika istri Eropanya datang dari seberang ("Racun untuk Tuan");
  2. Inspektur polisi yang menyelidiki pencurian beras ("Gudang No. 012B");
  3. Wartawan yang meliput Perang Puputan Bali dan menaruh simpati pada bangsawan yang kalah akibat siasat Gubernur Jenderal van Heutsz ("Semua untuk Hindia");
  4. Seorang Nyai yang begitu dicintai tuannya tetapi berselingkuh dengan bintang komedi stambul ("Stambul Dua Pedang");
  5. Hingga pelayaran menuju Hindia Timur bersama navis Katolik di tengah para pelaut Protestan ("Penabur Benih").

Melalui narator “aku”, Iksaka Banu mengendalikan cerita dengan rapi. Tokoh “aku” tidak hanya menjadi pusat peristiwa, tetapi juga penggerak dialog, pemantik konflik, sekaligus penyampai informasi. Setiap tindakan tokoh memiliki sebab-musabab yang jelas tanpa membiarkan ambiguitas berlarut.

Latar sosial dan budaya masing-masing karakter pun dibangun dengan kuat sehingga setiap cerita terasa berdiri di atas fondasi sejarah yang meyakinkan. Menurut saya, Iksaka Banu sedang berupaya menyoroti praktik penjajahan dari sudut pandang penjajah yang masih memiliki hati nurani.

Hampir setiap tokoh utama tampil sebagai figur yang, dalam kadar tertentu, membela atau setidaknya bersimpati pada nasib kaum pribumi sehingga kolonialisme tampak sebagai ruang moral yang rapuh dan penuh kontradiksi.

Kekurangan

Absennya tokoh “aku” dari kalangan pribumi dapat dibaca sebagai keterbatasan sudut pandang. Narator-narator dalam cerpen ini umumnya berasal dari kalangan Indo atau Belanda totok sehingga pengalaman kolonial lebih sering disampaikan dari sisi penguasa atau perantara kekuasaan.

Pilihan ini berisiko menjauhkan suara pribumi dari pusat cerita dan membuat pengalaman pihak yang ditindas hadir secara tidak langsung.

Kelebihan

Namun, keterbatasan tersebut justru menjadi kekuatan utama buku ini. Dengan menggunakan sudut pandang penjajah, Iksaka Banu membongkar narasi kolonial dari dalam; menampilkan kegamangan, konflik batin, serta paradoks moral para pelaku kolonial.

Kolonialisme tidak hadir sebagai penindasan yang hitam-putih, melainkan sebagai sistem yang melahirkan individu-individu dengan sikap yang beragam, dari yang kejam hingga yang masih menyimpan empati terhadap tanah jajahan.

Identitas Buku

  • Judul: Semua untuk Hindia
  • Penulis: Iksaka Banu
  • Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
  • Cetakan Pertama: Mei 2014
  • Cetakan Kesembilan: Juni 2025
  • ISBN: 978-602-424-824-8